Mengenai Saya

Facebook Badge

Darwin Tantiono's Facebook profile

Senin, Juni 16, 2008

Peringatan 10 tahun Tragedi Mei '98

Peringatan 10 tahun Tragedi Mei '98

Dr.Irawan. / Indonesia Media

Duarte, May 10 , 2008

Kali ini pembicara utama yang datang ke Amerika adalah Drs.Eddie Lembong ,Apt. beliau adalah ketua umum yayasan Nabil, dan mantan ketua umum INTI. (sekilas biodatanya bias dibaca di IM terbitan yang lalu dalam rubric Tokoh) Sebagai mana biasanya pembicara untuk peringatan tragedi Mei'98 diatur secara road show keberbagai Negara bagian di Amerika Utara, untuk kali ini pembicara diundang oleh , Los Angeles, San Francisco, Sacramento, Toronto, Atlanta, Dallas , dan Washington DC. (baca schedulenya di pengumuman di majalah ini).

Acara dimulai jam 7:15 , audiens yang berdatangan dari seluruh penjuru memenuhi ruangan meeting di Duarte Inn, bahkan ada audiens yang sengaja terbang dari Vancouver Canada, khusus untuk menghadiri peringatan ini. (Kabarnya di San Francisco 5/11/08 juga dipadati oleh antusias audiens yang datang mendengarkan ceramah Pak Eddie Lembong ini). Setelah program dibuka oleh DR.Frits Hong selaku ketua umum ICAA (Indonesia Chinese American Association) mulailah Pak Eddie membawakan makalahnya yang harus di compress sedemikian rupa karena keterbatasan waktu. Namun sajiannya yang singkat padat itu sangat berkesan dihati audiens yang pada umumnya memuji kemampuannya yang tinggi dalam melihat sejarah.

Sejarah

Sarjana Farmasi lulusan ITB ini memulai dengan menguraikan latar belakang Indonesia dari masa lalu, pra Indonesia , ditemukannya nama Indonesia , kebangkitan Nasional, Sumpah Pemuda, Proklamasi Indonesia, sampai masa pemberontakan seperti DITII, PRRI/Permesta , RMS , Aceh dan OPM. Semua itu menyimpulkan usia Indonesia yang masih sangat muda belia sebagai suatu negara, yang jelas penuh dengan kelemahan-kelemahannya.

Selanjutnya kami dibawa flash back ke zaman Orde Lama (Sukarno) yang diwarnai oleh nasionalisme, ekonomi morat marit, dan kejatuhan rezim ORLA akibat perang dingin. Lalu warna Indonesia sontak berubah seiring dengan masuknya rezim Orde Baru yang dipimpin oleh Jenderal Suhato. Keberhasilan ekonomi semu di bayar dengan hutang besar dari Luar negeri dan menjual sumberdaya alam Ibu Pertiwi. Kentalnya nuansa senjata dalam system Dwifungsi ABRI melahirkan Budaya KKN yang begitu meluas, menghambat pertumbuhan ekonomi yang sehat dan wajar, dan akhirnya membawa Indonesia kedalam krisis moneter di tahun 1997. Disusul dengan terjadinya Tragedi Mei ’98 yang membawa Suharto turun dari singgasana pada 21 Mei 1998.

Mengapa Tragedi Mei 98 terjadi ?

Ada banyak sebab, multidimensi yang kalau diceritakan bakal memakan waktu lama. Tapi jelas dalam 12 tahun terakhir dari rezim ORBA, keluar masuknya keuangan Negara yang seharusnya berpijak kepada RAPBN , ternyata semakin hari semakin besar berputar di extra budgeter. Perlu anda tahu bahwa bila ada suatu dana yang besar dipegang oleh pihak yang tidak accountable itu bahaya sekali, termasuk bisa membangun tentara bayaran /preman yang bisa dipakai dalam kerusuhan Mei’98.

Salah satu penyebab utama kerusuhan Mei’98 adalah adanya orang-orang bawahan Suharto yang mau mengambil kesempatan dengan, menciptakan destabilisasi dengan harapan dapat menjatuhkan saingannya dan kalau mujur malah bisa menjadi orang nomor satu di Indonesia, demikianlah hipotesa yang mendengung di masyarakat.

Pernah lebih dahsyat .

Kerusuhan anti Tionghoa sebenarnya yang paling besar adalah pada tahun 1740 pada zaman VOC, dimana sekitar 10.000 orang Tionghua dibunuh yang terkenal dengan peristiwa Angke. Setelah itu kerusuhan anti Tionghoa banyak terjadi seperti tahun 1946-1947 dihampir setiap kota di Jawa dan Sumatera juga terjadi kerusuhan anti Tionghoa. Menurut buku yang berjudul Violence against Chinese yang diterbitkan di Australia pada 1996 -1999 ada 47 kasus antirasial di Indonesia dan dalam tahun 1998 terjadi 33 kali kerusuhan anti Tionghoa , termasuk yang terjadi pada 13-15 Mei 98.

Pemicu

Marilah kita melihat dari perspektif yang lebih luas , mengapa kerusuhan anti Tionghoa selalu terjadi ? Tentu disamping kecemburuan social dan devide et impera warisan VOC dengan peraturan-peraturan stadblaad nya mempunyai andil yang besar yang menjadikan kaum Tionghoa selalu menjadi kambing hitam. Keadaan ekonomi yang menjadikan kesenjangan seperti padang ilalang kering yang setiap saat mudah tersulut. Adanya kapitalis primitive seperti ikan besar makan ikan kecil, mutu pendidikan yang substandard, dan system sosial yang yang tidak mengkondisi Hukum dan HAM ditegakan dan dijalankan dengan benar. Semua itu adalah pemicu terjadinya kerusuhan anti Tionghoa secara berkala.

Kapan Tragedi Mei’98 mau di tuntaskan ?

Perlu kemauan politik. Masalahnya reformasi ini tidak begitu tuntas, dibawah permukaan kekuasaan Orba masih sangat exist, sehingga sulit dituntaskan sekarang, tapi sudah pasti suatu saat kejahatan akan terungkap. Semua orang tahu yang melaksanakan di lapangan yang rambut cepak berbadan tegap, bersepatu lars dan bawa linggis. Membohongi sejarah adalah pembodohan bangsa.

Apa yang harus diperbuat kita disini ?

Pertanyaan yang dilontarkan oleh Bpk. Agus Djayaputra, Apa yang bisa dan harus diperbuat oleh orang Indonesia yang ada diluar negeri ini? Dijawab oleh Eddie Lembong :" Kontribusikan tenaga anda , anak atau cucu anda jadikan sebagai pemimpin dilahan yang subur". Maksudnya kalau kita dapat memanfaatkan kehidupan demokrasi dinegara dinegara yang sudah matang konstitusinya dan menjadikan generasi muda kita sebagai pemimpin disana maka kita bisa menimpuk 2 burung dengan satu batu .

Sistem kesejahteraan social yang baik seperti di Amerika, Canada , Australia, atau negara lainnya yang sejenis. Menjamin peradaban bangsa yang baik, karena asas demokrasi dan HAM menjamin equal opportunity. Didalam society yang bagus akan menumbuhkan manusia yang berpengetahuan tinggi dan mempunyai mentaliteit dan rohani yang baik. Maka anak muda kita disini adalah harapan kita kedepan.

Seorang anak muda, Bryant Irawan , mengkaitkan peristiwa holocaust dengan Tragedi Mei'98 di Indonesia , intinya kita tidak boleh berpeluk tangan dan harus berpartisipasi dalam kehidupan sosial politik dimana saja kita hidup, di Indonesia maupun di Amerika. (Baca IM terbitan mid April 2008 dengan judul article "the Forgotten Lessons")

Banyak kemajuan

Selama 10 tahun ini Periode Orde Reformasi sudah banyak kemajuan.

Sejauh ini AMANDEMEN UUD 45 sudah dilakukan sebanyak 4 kali. Diantaranya adalah; 1)Penegasan Indonesia sebagai negara hukum dan negara demokrasi, 2) Pemilihan presiden secara langsung , 3) Pembatasan masa jabatan presiden hanya 2 periode, 4) Perlindungan HAM, 5) Pembentukan “Mahkamah Konstitusi” Sebagai badan yang berhak membatalkan undang-undang yang merugikan masyarakat umum.

Amandemen juga melakukan Penghapusan Dwifungsi ABRI: ABRI: ® TNI + KEPOLISIAN RI (1 APRIL 1999). , Demokrasi , Penegakan Supremasi Hukum , Penghormatan terhadap HAM, dan pemberantasan KKN. Walaupun kenyataannya masih sulit karena banyak halangan dari kekuatan-kekuatan lama

Kemajuan lainnya Otonomi daerah yang seluas-luasnya. Ada banyak kabupaten yang melaksanakan dengan baik seperti Sragen, Kebumen, salah satu kabupaten di Bali, salah satu Kabupaten di Kalimantan Timur. Diharapkan nantinya lebih banyak lagi bupati-bupati yang handal sehingga membentuk mozaik dalam pembentukan Indonesia yang lebih baik. Dan yang terakhir Kebebasan Pers, yang terkadang ada juga kebablasannya.

Bagi etnis Tionghoa:

Reformasi telah membawa dua berkah besar, yaitu;

1.Pemulihan hak budaya, sejak zaman Presiden Gus Dur

2.Diundangkannnya, 2 UU:

Yaitu: a. UU No. 12/2006, kewarganegaraan (kata-kata “asli” sudah dihapus)

b. UU NO. 23/2006, administrasi kependudukan, Staadblaad 1917 sudah di hapus.

Prospek Indonesia ke masa depan.

Kalau “banting setir” dan dikelola dengan baik: Indonesia berpotensi jadi Super Power. Kalau penanganan tidak tepat: Indonesia diambang “fail state”,bahaya disintegrasi bukan tidak ada.

Kesimpulan:

Yang Sangat kita perlukan pada masa kini dan masa depan adalah Negarawan! Tidaklah cukup hanya para politikus (kawakan dan pendatang baru) yang sangat besar jumlahnya saat ini.

Red: Sebenarnya masih banyak lagi pengetahuan yang sangat bermutu di paparkan oleh ketua yayasan Nabil ini, namun karena keterbatasan halaman terpaksa kami hanya bisa menuliskannya sampai disini. Indonesia Media akan mencoba meneruskan pikiran-pikirannya yang cemerlang melalui media cetak maupun website kami di www.indonesiamedia.com.


http://www.indonesiamedia.com/2008/5/mid/local/10tahun.htm

Tidak ada komentar: