Mengenai Saya

Facebook Badge

Darwin Tantiono's Facebook profile

Selasa, September 23, 2008

Kong Hu Cu Juga Alat Diplomasi

05/09/2008 09:27
Kong Hu Cu Juga Alat Diplomasi
A. Dahana

PADA artikel pekan silam penulis mengungkapkan bagaimana Cina dengan sangat cerdik menggunakan pengalaman masa lalu sebagai alat diplomasi.

Tokoh sejarah Cheng Ho yang tujuan misi tujuh pelayarannya masih menjadi perdebatan, telah digunakan untuk menunjukkan bahwa kebangkitan negara itu adalah bertujuan damai.

Sementara itu Cina masih tak kekurangan alat untuk tujuan itu. Kong Hu Cu (Konfusius) yang hidup pada sekitar abad ke-5 Sebelum Masehi dengan ajarannya tentang susunan masyarakat merupakan alat baru untuk itu.

Sebenarnya sejak akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 pamor dan nama Kong Hu Cu di daratan Cina sudah melorot. Itu disebabkan oleh pendapat umum, terutama pemuda, yang mengatakan bahwa keterpurukan Cina di bawah pemerintahan Dinasti Qing (1644-1911) adalah akibat dari pemerintah dan rakyat Cina yang tunduk pada pendiktean Konfusius.

Para penguasa Cina pada masa pemerintahan Mao bahkan menggunakan segi negatif dari ajaran Konfusias untuk menyerang lawan dalam kampanye politik untuk perebutan kekuasaan.

Liu Shoqi, Zhou Enlai, dan Marsekal Lin Biao pernah dituduh sebagai pengikut ajaran Konfusius. Sebaliknya di kalangan komunitas etnik Cina di luar Cina ajaran 'Guru Kong' berkembang pesat. Bahkan di beberapa negara Asia Tenggara, termasuk di Indonesia, ia telah menjadi agama dan diakui pemerintah sebagai salah satu agama resmi.

Perubahan politik dan ekonomi setelah Mao mangkat dan setelah Deng Xiaoping merebut tampuk kekuasaan Partai Komunis Cina (PKC) dan pemerintahan telah mengubah semuanya, termasuk pandangan terhadap Konfusius dan ajarannya. Kini segi positif dari ajaran Konfusius ditonjolkan.

Semangat bekerja keras dan berusaha, hemat, tunduk pada aturan senioritas, dan tata cara kehidupan yang konon menjadi tulang punggung keberhasilan etnik Cina di luar Cina kini diagungkan.

Kecenderungan ini terjadi pada era 1970-an ketika 'keajaiban Asia' yang ditandai dengan munculnya apa yang disebut sebagai Newly Industrialized Countries (NICs). Itulah negara-negara dalam wilayah 'huruf Kanji' seperti Taiwan, Hong Kong, Korea Selatan, dan Singapura yang pada dasawarsa 1970-an itu menunjukkan prestasi ekonomi yang sangat mengagumkan.

Dan semuanya itu dihubungkan dengan asumsi bahwa rakyat dan para penguasa negara-negara itu mengamalkan ajaran Konfusius. Di Cina kini telah didirikan suatu lembaga khusus yang melakukan penelitian atas kehidupan Kong Hu Cu dan ajarannya.

Para perancang kebijakan global dengan cerdik menggunakan popularitas Konfusius itu untuk tujuan politik luar negeri. Langkah itu diuntungkan dengan kecenderungan global munculnya animo sangat tinggi untuk belajar Bahasa Cina dan keinginan tahu untuk mengetahui lebih dalam tentang kebudayaan Cina.

Puluhan bahkan mungkin ratusan ribu pelajar asing dari seluruh dunia kini berhimpun di kampus-kampus universitas Cina untuk belajar bahasa dan kebudayaan Cina.

Sebagai hasilnya Dewan Bahasa Cina Internasional (Hanban) mendirikan Confucius Institute. Misi dari badan yang sepenuhnya ditunjang pemerintah itu adalah untuk mempopulerkan Bahasa Cina dan memberikan penerangan tentang kebudayaan Cina. Organisasi itu telah berdiri di beberapa universitas di Amerika dan Eropa. Ia bertugas juga untuk mengusahakan agar Bahasa Cina tampil bersanding bersama Bahasa Inggris sebagai bahasa asing kedua di dunia.

Dalam programnya, Hanban juga telah merekrut para lulusan universitas yang memiliki keahlian dalam pengajaran Bahasa Cina sebagai bahasa asing untuk memperkenalkan Bahasa Cina di universitas bahkan SMA. Di Indonesia kini ada puluhan guru berstatus sebagai relawan yang mengajar Bahasa Cina di berbagai sekolah menengah negeri dan swasta.

Kini puluhan universitas di Indonesia telah mengajukan diri menjadi tuan rumah Confucius Institute tersebut. Sekarang budaya Cina, kalimat populer seperti Ni Hao, Wo ai ni, dan Ni hen piaoliang tidak lagi barang atau kalimat asing di negeri ini. Huanying Huayu (selamat datang Bahasa Cina).

Penulis adalah Guru Besar Studi Cina, Universitas Indonesia

[L1]

Source: http://www.inilah.com/berita/celah/2008/09/05/48026/kong-hu-cu-juga-alat-diplomasi/

Rabu, September 17, 2008

Rumah Sakit-Rumah Sakit Yang Didirikan Oleh Masyarakat Tionghoa, Chususnya Tionghoa Ie Wan-Satu Kontribusi Masyarakat Tionghoa (Bagian 2)

Rumah Sakit-Rumah Sakit Yang Didirikan Oleh Masyarakat Tionghoa, Chususnya Tionghoa Ie Wan-Satu Kontribusi Masyarakat Tionghoa (Bagian 2)


Beberapa tahun yang lalu saya berkunjung di rumah sakit yang didirikan oleh masyarakat Tionghoa Surabaya, Rumah Sakit Adi Husada, dahulu namanya rumah sakit Tionghoa Ie Wan. Sebelumnya memang aku sudah sering berkunjung ke rumah sakit ini, karena banyak kolega-kolegaku yang dahulu aku sudah kenal waktu mahasiswa di universitas Airlangga. Juga aku berkesempatan bertemu dengan bapak Yap Eng Kie, aktivis dan sebagai salah satu pimpinan perkumpulan Tiong Hoa Ie Wan berpuluh-puluh tahun lamanya.


Aku ke sana diantar oleh saudara Kresno, Yao Tjin-Bing dan saudara Ir. Budi Listijo Suboko, sampai disana, tampak rumah sakit ini penuh dengan pasien dan pengantar, melihat dari pakean penderita dan parapengantar dapat disimpulkan bahwa penderitanya kebanyakan adalah dari rakyat biasa. Didepan rumah sakit banyak becak-becak menunggu penumpang dan tempat parkir mobil juga sudah penuh. Orang berjalan berjejal-jejal dari segala etnis, menurut tafsiran saya kebanyakan orang-orang yang dinamakan Pribumi. Ini mencerminkan kepercayaan masyarakat Surabaya terhadap rumah sakit ini, karena pengabdian pegawai Rumah sakit Tiong Hoa Ie Wan yang baik bagi masyarakat dan terutama rakyat yang kelas sosialnya rendah; harganya terjangkau buat mereka. Ini menunjukkan pula bahwa gedung dari rumah sakit ini sudah kekecilan, tidak dapat memenuhi bertambah banyaknya penderita yang berdatangan setiap hari. Kalau kita lihat letaknya rumah sakit yang sentral sukar untuk mengadakan pengluasan didaerah yang penuh rumah-rumah penduduk dan kantor-kantor perusahaan, daerah yang betul-betul sudah sesak. Saya rasa juga sulitnya keuangan untuk membeli rumah-rumah disekitar rumah sakit ini untuk pengluasan, mengingat daerah ini adalah daerah perdagangan, harganya sangat tinggi. Karena banyaknya penderita-pnderita yang minta pertolongan di kota Surabaya, maka rumah sakit Tionghoa Ie Wan diperluas dengan dibangunnya lagi di jalan Kapasari, dimana Tempo Doeloe gedung dari Tiong Hoa Hwee Kuan. Sayang sekali berhubung waktu kunjungan saya, yang singkat, sehingga tidak sempat lagi bagi saya untuk berkunjung ke sana.


Kami berjalan dan naik ke tingkat satu ke kantor penerimaan tamu dan disini kami ditrima dengan ramah oleh Ketua perkumpulan Dr. Kesuma Halim (Kuo Sao Lim) dan direkturnya Dr Eddy Listiyo serta stafnya, kedua dokter saya sudah mengenalnya banyak tahun sebelumnya, terutama Dr. Kuo yang juga mendapatkan pendidikan kedokteran di Universitas Airlangga seperti aku, Cuma beliau lebih muda dari aku.


Setiap orang Tionghoa di Surabaya dan demikian aku yang lahir dan dibesarkan di Petjinan dari kota ini, siapa yang tidak kenal dengan rumah sakit ini yang didirikan atas inisiatif dokter-dokter Tionghoa didikan Belanda dan masyarakat Tionghoa Suarbaya. Rumah sakit rumah sakit seperti ini pada periode sebelum perang dunia kedua tersebar luas di kota-kota besar dan bahkan juga kota-kota yang sedang seperti Malang ada rumah sakit Tionghoa Ie Wan, sekarang namanya rumah sakit Panti Nirmala, diSurakarta rumah sakit Dr. Oen yang sekarang berkembang menjadi tiga rumah sakit, diantaranya dua rumah sakit yang besar dan modern. DiBatavia dahulu ada dua rumah sakit yang besar di dirikan oleh masyarakt Tionghoa seperti Rumah Sakit Yang Seng Ie yang didirikan oleh Dr. Kwa Tjwan Sioe dan Rumah Sakit Sin Ming Hui yang dipimpin oleh Dr. Loe Ping Kian. Demikian juga rumah sakit yang didirikan oleh masyarakat Tionghoa diSemarang yang namanya rumah sakit Tionghoa Ie Wan, sekarang rumh sakit Telogo Rejo, dan masih adalagi diBandung. Belum saya tulis rumah sakit-rumah sakit yang kecil-kecil yang mengobati chusus seperti misalnya rumah sakit kebidanan dan poliklinik-poliklinik. DiJakarta, didaerah Polonia dulu ada poliklinik yang didirikan oleh Chung Hua Chung Hui dimana saya juga ikut membantunya dan mencarikan dokternya, adalah teman saya yang saya lupa namanya.

Senin, September 15, 2008

Rumah Sakit-Rumah Sakit Yang Didirikan Oleh Masyarakat Tionghoa, Chususnya Tionghoa Ie Wan-Satu Kontribusi Masyarakat Tionghoa (Bagian 1)

Rumah Sakit-Rumah Sakit Yang Didirikan Oleh Masyarakat Tionghoa, Chususnya Tionghoa Ie Wan-Satu Kontribusi Masyarakat Tionghoa (Bagian 1)


Rumah Sakit-rumah sakit yang didirikan oleh masyarakat Tionghoa, chususnya Tionghoa Ie Wan - satu kontribusi masyarakat Tionghoa


Salah satu kontribusi masyarakat Tionghoa pada negara dan bangsa Indonesia yang mencerminkan humanisme dan nasionalisme adalah pendirian rumah sakit-rumah sakit yang tersebar di Indonesia, dan salah satu diantaranya ialah Rumah Sakit Tionghoa Ie Wan dikota Surabaya. Dipandang dari banyaknya pegawai dan para ahli diantaranya, dokter, dokter gigi, psikolog, ekonom, apoteker, insinyur, sosiolog etc. yang bisa berjumblah kira-kira seribu orang, bahkan ada yang jumbalh pegawainya dua ribu orang, maka satu rumah sakit dapat dibandingkan dengan satu perusahan yang besar, bahkan sangat besar.


Rumah sakit adalah satu institusi dimana orang-orang yan sakit bisa memeriksakan dan mendapatkan pengobatan penyakitnya dan kalau penyakitnya ringan penderita bisa pulang rumah (perawatan poliklinis). Tetapi kalau penyakitnya bahaya, berat maka pasien ini diopname dan dirawat sampai penyakitnya sembuh. Perawatan dikerjakan oleh para dokter, dokter spesialis dan perawat. Jaman saya dulu perawat umumnya semua wanita, tetapi sejak beberapa puluh tahun belakangan ini, banyak perawat lelaki, yang jumblahnya sama banyaknya.


Dapat dimengerti bahwa membangun rumah sakit umum membutuhkan investasi keuangan yang sangat besar untuk membayar pegawai-pegawainya yang profesional yang banyak jumblahnya. Disampingnya juga alat-alat yang canggi untuk bagian intensive care, laboratorium, apotek dan persiapan obat-obatannya, juga alat-alat yang modern dari berbagai disipline seperti kamar operasi dan alat-alatnya, Computer Tomografi, Magnetis resonansi imaging (MRI), alat pemeriksaan jantung, alat-alat kedokteran nuklir, alat-alat radioterapi, penyimpanan obat-obatan untuk kemoterapi yang sangat mahal etc.etc. Jangan dilupahkan dapur dapur dan bahan-bahan makanan. Terlalu banyak untuk ditulis satu persatu. Rumah sakit-rumah sakit yang akan saya bicarakan disini, adalah rumah sakit rumah sakit umum yang mengabdi pada rakyat (non profit) dan bukan rumah sakit yang tujuannya untuk mencari keuntungan. Maka kontribusi dari para intelektuil Tionghoa yang dengan susah payah telah membangun rumah-rumah sakit ini dengan bantuan masyarakat Hua Yi pantas mendapatkan pujian atas humanisme dan kecintaan mereka pada masyarakat Indonesia.


Karena rumah sakit ini mengenai kesehatan manusia maka umumnya setiap keluarga ada hubungan yang erat atau kenal dengan Tionghoa Ie Wan. Maka dari itu mendapatkan perhatian yang besar dari segala golongan dan segala tingkat sosial masyarakat. Setiap hari kalau saya pergi kuliah kefakultas Kedokteran Airalangga dijalan Karangmenjagan saya dengan naik sepeda harus melalui rumah sakit ini. Apalagi pekerjaan dan fungsi dari Tionghoa Ie Wan adalah dalam bidang studi saya, ditambah pula saya seorang Hua Yi, yang pernah menjabat kepala rumah sakit umum di Tjepu dan kepala rumah sakit Permigan, dahulu rumah sakit BPM (shell) maka merupahkan perhatian saya dan saya tahu perkembangannya.


Sebelum saya meninggalkan kota Surabaya Tionghoa Ie Wan masih sepih, tetapi sekarang gedungnya lebih besar dan bertingkat sangat ramai dikunjungi orang dan peralatannya disesuaikan dengan kemajuan ilmu kedokteran, yang kekurangan hanya tenaga dokter ahlinya. Saya kenal kultur Tionghoa, maka apabila tenaga kedokteran ahlinya cukup, pastilah hospital-hospital yang didirikan oleh masyarakat Tionghoa bisa mencapai setingkat dengan hospital akademis yang ada diIndonesia. Keadaan yang kita lihat dengan orang Yahudi seperti di Eropa dan Amerika Utara, dapat saya “eksplolirkan” di masyarakat Tionghoa di Indonesia. Orang bisa mempertanyakan mengapa sistim kesehatan diIndonesia tidak direformasikan demi kepentingan masyarakat dan juga mengurangi devisa Indonesia yang berjumblah ratusan juta dollar USA keluar negeri.

Jumat, September 12, 2008

Lasem, Simpul Sejarah yang Pudar

Lasem, Simpul Sejarah yang Pudar
KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO / Kompas Images
Tembok bangunan rumah bergaya Tionghoa di Dasun, Lasem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, Senin (4/8), dikenal sebagai rumah candu. Hal ini karena dahulu saat zaman Hindia Belanda rumah itu digunakan sebagai tempat penyimpanan candu selundupan.
Sabtu, 13 September 2008 | 03:00 WIB

Ahmad Arif

Tembok-tembok tinggi itu membentuk lorong putih. Sebagian mengelupas lalu ditumbuhi lumut. Rumah-rumah tua berarsitektur China, yang sebagian besar kosong, tersembunyi di dalamnya. Tak terawat, mengisahkan kemunduran sebuah kota. Lasem kini hanya kecamatan kecil di lintasan jalan pantai utara Jawa. Sepi dan tak banyak dikenal orang.

Padahal, sejarah Lasem sebenarnya sangat tua, jauh lebih tua dibandingkan ketika jung yang dinakhodai Bi Nang Un mendarat di Pantai Regol, Kadipaten Lasem, tahun 1413 M. Dalam Serat Badra Santi, yang ditulis Mpu Santi Badra tahun 1479 dan diterjemahkan dalam bahasa Jawa oleh Kamzah R Panji, disebutkan bahwa pada tahun 1273 Saka atau 1351 Masehi, Lasem telah menjadi tanah perdikan Majapahit.

Waktu itu, Lasem dipimpin seorang perempuan bernama Dewi Indu, keponakan Raja Hayam Wuruk bergelar Bhre Lasem—dalam versi Kitab Negarakertagama, Bhre Lasem waktu itu adalah seorang putri bernama Sri Rajasaduhitendudewi, adik perempuan Hayam Wuruk. Bhre merupakan gelar untuk penguasa daerah di bawah imperium Majapahit.

Masih menurut Badra Santi, Bi Nang Un adalah seorang Campa (daerah Indochina, sekitar Vietnam, Kamboja, Laos yang waktu itu menjadi bagian wilayah Kekaisaran Dinasti Ming). Istri nakhoda itu, Puteri Na Li Ni, dikisahkan yang selanjutnya membawa seni batik ke Lasem.

Penelitian dari Institut Pluralisme Indonesia (IPI) menyebutkan, motif dan warna batik Lasem, yang didominasi warna merah, merupakan pertautan budaya Tionghoa dengan budaya Jawa. ”Dari selembar batik Lasem ada kisah tentang pembauran etnis dan budaya,” kata Njo Tjoen Hian (72), pembatik Lasem.

Hingga tahun 1970-an, produksi batik Lasem masih termasuk enam besar di Indonesia —selain Surakarta, Yogyakarta, Pekalongan, Banyumas, dan Cirebon. Direktur IPI William Kwan HL menyebutkan, pemasaran batik Lasem tidak hanya di Jawa, tetapi juga merambah Sumatera, Bali, Sulawesi, Semenanjung Malaka (Pulau Penang, Johor, dan Singapura), wilayah Asia Timur (terutama Jepang), bahkan Suriname. ”Suriname termasuk yang terbanyak. Dulu, hampir tiap bulan ayah saya mengirim batik hingga 500 lembar kain,” kata Njo Tjoen Hian atau yang juga dikenal dengan Sigit Witjaksono.

Asal mula

Lasem bukan sekadar batik. Ketika terjadi geger China (1740), Lasem menjadi titik pusat perlawanan China terhadap Belanda. Perlawanan itu dipimpin Raden Ngabehi Widyaningrat (Oey Ing Kyat), Raden Panji Margono, dan Tan Kee Wie. ”Dari Lasem, perlawanan terhadap Belanda menyebar ke Pati, Kudus, hingga Semarang,” kata Prof Totok Roesmanto dari Universitas Diponegoro.

Lasem juga dikenal sebagai titik penyelundupan senjata api dari Singapura. Dari Lasem, menurut catatan Pramoedya Ananta Toer, senjata dipasok kepada pelarian wanita bangsawan keraton di Rembang, yang selanjutnya dikirim ke pasukan Diponegoro yang mengobarkan Perang Jawa I (1825-1830). Akhirnya, jalur penyelundupan terbongkar dan para penyelundup digantung Kompeni di pusat kota.

”Selain menyelundupkan senjata, mereka juga menyelundupkan candu. Gudang-gudangnya kini berupa rumah-rumah tua dengan pagar tinggi di tepi Sungai Lasem di Dasun. Rumah itu kini menjadi sarang burung walet. Dulu, dari sungai ada terowongan air menuju bangunan itu,” kata Sigit Witjaksono.

Titik nadir

Muara Sungai Lasem, suatu sore. Perahu-perahu kayu tambat di pinggir sungai. Angin berembus pelan. Angin yang sama membawa pasukan Dai Nippon mendarat di pantai ini tahun 1942. Pramoedya Ananta Toer mencatat, dengan bantuan buku peta Tropisch Nederland dari Lasem, Jepang menginvasi pedalaman Jawa.

Di Lasem, Jepang mengambil alih satu galangan kapal Belanda, lalu membangun dua galangan lagi. Sejarah pembuatan kapal di Lasem, yang telah dimulai sejak era imperium Majapahit dan Mataram Islam, dilanjutkan Jepang.

Peter Boomgaard dalam bukunya, Children of the Colonial State: Population Growth and Economic Development in Java, 1795-1880 (1989) menyebutkan, sebelum kedatangan Belanda, Lasem dan Rembang telah menjadi pusat pembuatan kapal. Jumlah pekerjanya lebih dari 500 orang.

Dalam buku Summa Oriental, lebih dahulu penjelajah Portugis Tome Pires (sekitar 1512-1515) mencatat Rembang, yang waktu itu masuk dalam wilayah kekuasaan Brhe Lasem, sejak dahulu mempunyai galangan kapal. Dikatakannya, industri kapal berkembang karena hutan di selatan Rembang lebat. Walau kini sulit sekali menemukan pohon berukuran memadai di Rembang dan Lasem.

Kisah mengenai galangan kapal Belanda dan Jepang di Lasem dituturkan Sudaryo (74) di kediamannya di Desa Dasun. Sudaryo masih 9 tahun ketika membantu ayahnya bekerja di galangan kapal Belanda. ”Waktu itu Lasem ramai sekali. Lebih dari 200 orang bekerja di galangan kapal. Mereka membuat kapal besi sepanjang lebih dari 30 meter. Plat besi disatukan dengan paku yang dilelehkan, bukan disekrup,” kata Sudaryo.

Kapal-kapal Belanda yang selesai dibangun kemudian dikirim ke Batavia untuk mengangkut hasil bumi dari tanah Jawa. ”Tahun 1942, saat Jepang datang, galangan kapal Belanda diambil alih. Jepang membuat dua galangan lagi untuk kapal kayu,” tambah Sudaryo.

Jejak galangan kapal Belanda dan Jepang itu masih dapat dilihat di Kali Lasem, tepat di Desa Dasun. Tiga fondasi batu, berbentuk cetakan perahu berukuran panjang lebih dari 50 meter, terlihat di tegalan, sekitar 10 meter dari tepi Sungai Lasem. ”Dulu galangan kapal persis di pinggir sungai,” kata Sudaryo. Tembok galangan masih utuh, tetapi lumpur memenuhi ruang antara tembok dan air sungai. Dulu, tiap enam bulan Jepang mengeruk alur sungai.

Setelah Jepang pergi, industri kapal di Lasem telantar. Tahun 1970-an, berangsur batik Lasem memudar karena tak ada penerus. Hutan jati di hulu yang gundul tidak lagi mampu menahan gelontoran tanah masuk ke sungai sehingga Sungai Lasem pun makin dangkal dan sempit. Kota yang dibangun trah Bhre Lasem semakin sepi, menuju titik nadir.... (RYO)

Source: http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/09/13/00223871/lasem.simpul.sejarah.yang.pudar

Istilah Tepat untuk "Cina", "Tiongkok", dan "Mandarin"

Istilah Tepat untuk "Cina", "Tiongkok", dan "Mandarin"

Wiwin Wirwidya Hendra - Tuty Nur Mutia Muas

Istilah "Cina" atau "Tiongkok" pada dasarnya memiliki arti yang sama baiknya, yang membedakan adalah nada yang digunakan ketika mengucapkan dua kata tersebut, oleh karena itu ada dua arti yang dapat ditimbulkan dari pengucapan dua kata tersebut, bisa negatif atau positif.

Profesor di bidang linguistik bahasa Mandarin Universitas Indonesia, Prof Dr AM Hermina Sutami, dalam kuliah umum yang bertajuk "Bahasa Mandarin dan Aksara Han (Cina)" kepada puluhan mahasiswa Program Studi Bahasa Cina di auditorium gedung I Fakultas Ilmu dan Budaya, pada Rabu (10/9) kemarin.

Dosen yang juga Ketua Laboratorium Leksikologi dan Leksikografi (ilmu yang mempelajari tentang kata) FIB UI itu mengatakan, definisi "Tiongkok" dan "Cina" sesungguhnya sama, hanya etimologi atau asal usul katanya saja yang berbeda.

Hermina yang juga meneliti tentang linguistik teoritis itu juga mengatakan bahwa penggunaan istilah "Bahasa Cina", "Bahasa Tionghoa", dan "Bahasa Han" pun sesungguhnya tidak tepat. Kata yang paling tepat untuk mengikuti kata bahasa adalah Mandarin.

"Karena Mandarin adalah kata yang paling tepat dan paling mudah dimengerti untuk mendampingi kata bahasa. Dari sudut pandang linguistik pun kata Mandarin sungguh mewakili "bahasa". Semua orang pun mengerti bahwa ketika menyebutkan kata "Mandarin", maka mereka akan langsung menangkap bahwa yang dibicarakan adalah mengenai bahasa," jelas Hermina yang akan dikukuhkan sebagai guru besar pada Oktober mendatang.

Bahasa Mandarin merupakan bahasa nasional yang dipergunakan di Republik Rakyat Cina (RRC) atau Republik Rakyat Tiongkok (RRT) di samping 50 bahasa lainnya yang dipergunakan oleh berbagai macam suku di sana. Daerah penuturan bahasa Mandarin di RRC pun sangat luas, namun pelafalan resmi yang ditetapkan oleh pemerintah adalah pelafalan kota kata yang ada di Beijing. Selain sebagai ibu kota, Beijing juga memiliki kosa kata yang dianggap sudah modern oleh rakyatnya.

Dikaji dari sudut pandang etimologi atau ilmu asal usul kata, sesungguhnya kata "Mandarin" yang sampai saat ini pelafalannya masih digunakan oleh orang-orang Indonesia berasal dari bahasa Sansekerta yang berbunyi "Mantrin". Mantrin kemudian diadaptasi oleh orang-orang berdarah Melayu menjadi "Mantri". Istilah tersebut kemudian diambil oleh orang-orang berkebangsaan Portugis menjadi "Mandarin" dan dipergunakan pula oleh orang-orang Inggris hingga sekarang Indonesia pun menggunakan kata tersebut.

Konotasi Negatif

Kata "Cina" yang juga sempat dipermasalahkan penggunaannya karena mengandung konotasi negatif dan mampu menyinggung atau menimbulkan masalah ras di tanah air diduga disebabkan oleh tiga hal, yaitu, karena ketika Jepang berhasil mengalahkan dinasti terakhir di Cina, tentara sekutu Jepang menggunakan kata "Cina" untuk mengolok-olok.

Selain itu, disinyalir bahwa pasukan Belanda ketika menjajah Indonesia juga menempatkan orang-orang berkebangsaan Cina sebagai orang-orang golongan ke-2, dan mengesampingkan kepentingan mereka sebagai kaum minoritas. Terakhir, ketika pemerintahan Soeharto mengeluarkan surat keputusan untuk tidak lagi menggunakan kata Tionghoa atau Tiongkok dan mulai menggunakan kata Cina untuk memberikan perbedaan ras yang jelas.

Sementara kata "Cina" diserap oleh bangsa-bangsa Uni Eropa termasuk Inggris ketika mereka datang ke dinasti Cing. Kata "Cing" dipakai dan diadaptasi oleh berbagai pelafalan, di antaranya "China" untuk bahasa Inggris dan "Chinois" untuk bahasa Prancis.

Untuk penggunaan kata "Cina" dan "Tiongkok", seperti dikatakan Koordinator Program Studi Cina, Tuty Nur Mutia Muas, M Hum, Program Studi Cina UI bersikukuh untuk tetap menggunakan kata "Cina" karena konotasi yang ditimbulkan bergantung pada cara pengucapan dan tidak bergantung pada prasangka.

Evolusi

Cina yang memiliki jumlah penduduk 1,3 miliar, 94 persen didominasi oleh suku Han yang berasal dari Sungai Kuning juga mengalami evolusi dalam hal aksara.

Pada tahun 1955, ketika RRC terbentur masalah buta aksara yang disebabkan oleh rumitnya huruf-huruf Han atau yang lebih dikenal dengan huruf kanji, pemerintah melakukan evolusi atau penyederhanaan beberapa bentuk huruf kanji agar lebih mudah diingat dan dipelajari oleh seluruh penduduknya.

Seperti dikatakan Hermina, tingkat penyandang buta aksara di Cina pada saat itu sangat tinggi dibandingkan dengan negara lainnya karena penduduknya mengalami kesulitan ketika harus mengingat guratan yang dapat mencapai 20 buah dalam satu huruf kanji.

Kuliah umum yang rutin diselenggarakan setiap tahun sekali dalam rangka pengenalan wawasan kepada mahasiswa baru tersebut ternyata juga diminati oleh mahasiswa yang telah mencapai semester empat bahkan semester lima.

Salah seorang mahasiswa Program Studi Bahasa Cina angkatan 2005 yang juga mengikuti kuliah umum, Rina mengatakan, mempelajari bahasa Mandarin dan aksaranya adalah hal yang sangat menarik dan menyenangkan. Terlebih ketika dapat menguasai dan menggunakannya untuk berkomunikasi baik secara lisan dan tulisan.

"Saya juga memperoleh banyak pengetahuan baru dengan mengikuti kuliah umum ini, misalnya tentang evolusi aksara dan etimologi bahasa Mandarin yang cukup rumit apabila dipelajari lebih dalam," kata dia. [WWH/R-8]

Source: http://www.suarapembaruan.com/News/2008/09/11/Kampus/kampus01.htm

Kamis, September 11, 2008

FC Inter Milan Using MySQL 5.1 Partitioning and Event Scheduler

FC Inter Milan Using MySQL 5.1 Partitioning and Event Scheduler


If you are a football (soccer) fan, then F.C. Internazionale may mean something to you. Or perhaps its more common name, Inter Milan sounds familiar? Next in our Use Case Competition articles, here's Corrado Pandiani's experience, about using MySQL to power inter.it, one of the most popular soccer sites in Europe. Not only that, but inter.it is using the latest MySQL 5.1 technology.

Inter Milan Squad 1 Inter Milan Squad 2

The Inter Milan squad in 2008/09 features stars such as Zlatan Ibrahimović, Luís Figo, Hernán Crespo, Marco Materazzi, Patrick Vieira and Adriano Leite Ribeiro.

Overview

At F.C. Internazionale Milano Spa we've used MySQL for eight years, starting from 3.23 and up to 5.0. Recently, we have started using satisfactorily the partitioning and event scheduler features of MySQL 5.1. The tasks that most benefit from the new features are:

  • real time logging of page impression requests of all our websites (http://www.inter.it is the main site)
  • real time statistics such as: page impressions per site, page impressions per language, page impressions per country (using GEOIP), unique usertrack sessions and others;
  • scheduled and on demand stats with more detailed information such as: single page impressions, user session durations, most visited pages, most visited paths on other stuffs we are developing.

Why we need partitioning

In the past, we logged web accesses to a daily log file, which exceeded 2 GB in size. For us, this is a huge amount of data. Now, the data is stored directly in a partitioned MySQL database.

A year ago, when we thought about logging web accesses to the database, we were limited by issues such as:

  • using ARCHIVE table to save disk space were limited by the fact that a single ARCHIVE table can't grow more than 2GB. That was in 5.0. Now, with 5.1 the limitation has been lifted, and besides, using partitioning, we don't hit this problem any longer.
  • using MERGE tables to keep on line months of logged data was not a great solution primarily for performance problems and the complexity of managing the automatic creation of new tables in the merge set. Also in this case, partitioning turned out to be a more flexible choice.

We found that partitioning in 5.1 was a very useful feature for us. We use it to keep online various months of data and to calculate statistics in an optimized way.

Why we need the MySQL 5.1 Event Scheduler

We have developed (and we plan to further develop) a series of stored procedures to generate advanced statistics daily, hourly and monthly. These SPs are invoked using the event scheduler instead of using the operating system cron.

Our Development Environment

  • Operating Systems: Ubuntu Linux / MacOSX
  • Development Language: Perl

Our Deployment Environment

  • OS: Linux Debian
  • Hardware: Pentium III 1GHz , 2GB RAM, 80GB HDD RAID0

Integration with Perl and Apache

We developed a short Perl script to log page referrers of a hidden image from every web page, and to calculate counters in real time.

When the web server starts, the script creates prepared statements with all needed INSERT queries. At every page request, the script generates a set of user variables with all needed values and then EXECUTEs the prepared statements.

The webtraffic script is piped to Customlog configuration of Apache server.

How partitioning meet our needs

Creating partitioned tables is very simple and the MySQL documentation on the partitioning feature is quite clear. The advantage of using partitioned tables is performance: All our scheduled statistics are computed very quickly. The daily statistics finish in less than 3 minutes, and the monthly in less than 10 minutes.

In the past, using a 5.0.xx version and not having partitioned tables, we had to wait a longer time to compute daily stats. In fact, the daily run was so expensive in terms of execution time that we simply gave up on the idea. Thus, we don't have comparison execution time on more complex

statistics.

Now, with partitioning, we run our daily stats with no issues and even expect to be able to further trim our response times. Notice also that our server is not at the moment a very powerful machine, but for our tasks we amazingly discovered it has the needed power.

Some statistics

To show the kind of traffic we deal with, we can see the table of average time of visits and most active countries for all sites (3 september 2008)

Time GeoIP

or the top pages stats for the most visited portal www (3 september 2008)

Top Pages

or the daily stats for all sites (data referred to 3 september 2008)

General Stats

or the hourly stats for the most visited portal www (3 september 2008)

Hourly Stats

Attached to this article you can find a compressed file with some scripts:

  • webtraffic.txt: the logger script piped to apache
  • apacheconf.txt: configuration of Apache. Piping customlog to webtraffic script
  • db_structure.txt: structure and descriptions of the tables
  • calcola_stats.sql: stored procedure to calculate daily statistics
  • calcola_stats_mese.sql: stored procedure to calculate monthly statistics
  • gecountry.txt: stored function to resolve an IP address using GEOIP tables
  • event.txt: event scheduler definition

Source: http://dev.mysql.com/tech-resources/articles/pandiani-use-case.html

About the Author

Carrado Pandiani Corrado Pandiani is a MySQL and open source enthusiastic since 2000. He's a long-time Perl developer and designer of web sites and on-line applications. He's MySQL 5.0 Developer/DBA certified and currently is working as web project manager/DBA at Football Club Internazionale Milano, one of the best football (soccer) club of the world. He blogs about MySQL and his life at http://blog.pandiani.com/category/mysqlen/

Senin, September 08, 2008

Sejarah Republik Lan Fang di Kalbar, Republik Pertama di Nusantara

Sejarah Republik Lan Fang di Kalbar, Republik Pertama di Nusantara

Tolak Disebut Sultan, Jalankan Sistem Kepresidenan

Republik Lan Fang, demikian namanya yang pernah di bentuk oleh orang orang Hakka dari Kwangtung pada akhir abad ke-18. Republik ini berlangsung selama 107 tahun dan mencatat 10 presiden yang pernah memimpin republik di Kalbar ini. Berikut lanjutan catatan Hasan Karman, SH, MM dari penelitian pustaka sejarah Tionghoa di Kalbar.

LO FANG PAK mulai bertualang pada usia 34 tahun. Dia merantau ke Kalimantan Barat saat ramainya orang mencari emas (Gold Rush), dengan menyusuri Han Jiang menuju Shantao, sepanjang pesisir Vietnam, dan akhirnya berlabuh di Kalbar. Ketika itu Sultan Panembahan yang percaya bahwa orang Tionghoa adalah pekerja keras membawa 20 pekerja Tionghoa dari Brunei. Sultan Omar juga mendengar tentang ketekunan orang Tionghoa memanfaatkannya melalui sistem kontrak lahan kepada orang Tionghoa guna membuka kawasannya.

Ketika Lo Fang Pak sampai di Kalbar, Belanda belum secara agresif merambah ke Kalimantan. Di pesisir banyak didiami orang Jawa dan Bugis, yang mana daerah ini dikuasai oleh Sultan, dan bagian pedalaman didiami oleh orang Dayak, kendati batas teritorialnya tidak jelas.

Pada permulaan tahun 1740, jumlah orang Tionghoa hanya beberapa puluh saja di sana. Pada tahun 1770 orang Tionghoa sudah mencapai 20.000 orang. Mereka berdatangan berdasarkan pertalian saudara, sekampung halaman, atau sesama kumpulan. Kelompok Tionghoa ini membentuk Kongsi (perusahaan) untuk melindungi mereka. Lo Fang Pak diangkat menjadi ketua.

Pada tahun 1776, 14 Kongsi disatukan membentuk He Soon 14 Kongsi guna menjaga kesatuan dari ancaman persengketaan antar kumpulan, daerah asal, dan darah. Pada saat itu Lo Fang Pak mendirikan Lan Fang Kongsi, kemudian menyatukan semua orang golongan Hakka di daerah yang dinamakan San Shin Cing Fu (danau gunung berhati emas), dan mendirikan kota Mem-Tau-Er sebagai markas besar dari group perusahaannya.

Pada masa itu Khun Tian (Pontianak) yang berlokasi di hilir Sungai Kapuas, merupakan daerah perdagangan yang penting dan dikuasai oleh Sultan Abdulrahman. Daerah hulu sungai dikuasai oleh orang Dayak. Usaha Sultan Mempawah yang bertetangga dengan Pontianak untuk membangun sebuah istana di hulu sungai menyebabkan pertikaian antara kedua sultan ini. Terjadilah perang antara kedua negeri itu. Sultan Abdulrahman meminta bantuan Lo Fong Pak. Karena istana tersebut dibangun dekat wilayah Lan Fong Kongsi, Lo Fong Pak akhirnya memutuskan untuk membantu Sultan Pontianak dan berhasil mengalahkan Mempawah. Sultan Mempawah yang dikalahkan bergabung dengan orang Dayak dan melakukan serangan balasan. Sekali lagi Lo Fong Pak berhasil mengalahkan Sultan Mempawah, sehingga mengungsi ke arah utara, yaitu Singkawang, dimana ia dan Sultan Singkawang (Sambas) menandatangani perjanjian damai dengan Lo Fong Pak. Peristiwa itu secara dramatis melambungkan popularitas Lo Fong Pak. Ketika itu dia berusia 57.

Sejak saat itu, orang-orang Tionghoa dan penduduk setempat mencari perlindungan kepada Lo Fong Pak. Kekuatan dan prestise Lo Fong Pak semakin meningkat. Ketika Sultan Pontianak menyadari tidak mampu melawan Lo Fong Pak, ia sendiri meminta perlindungan dari Lo Fong Pak. Lalu Lo Fong Pak mendirikan sebuah pemerintahan dengan menggunakan nama kongsinya, sehingga nama kongsinya menjadi nama republik, Republik Lan Fong, yang jika dihitung sejak tahun berdirinya, 1777, berarti sepuluh tahun lebih awal dari pembentukan negara Amerika Serikat (USA) oleh George Washington tahun 1787.

Ketika itu masyarakat ingin Lo Fong Pak menjadi Sultan, namun ia menolak dan memilih kepemerintahan seperti sistem kepresidenan. Lo Fong Pak terpilih melalui pemilihan umum untuk menjabat sebagai presiden pertama, dan diberi gelar dalam bahasa Mandarin “Ta Tang Chung Chang” atau Presiden. Konstitusi negeri itu menyebutkan bahwa posisi Presiden dan Wakil Presiden Republik tersebut harus dijabat oleh orang yang berbahasa Hakka.

Ibukota Republik Hakka ini adalah Tung Ban Lut (Mandor). “Ta Tang Chung Chang” (Presiden) dipilih melalui pemilihan umum. Menurut konstitusinya, baik Presiden maupun Wakil Presiden harus merupakan orang Hakka yang berasal dari daerah Ka Yin Chiu atau Thai Pu. Benderanya berbentuk persegi empat berwarna kuning, dengan tulisan dalam bahasa Mandarin “Lan Fang Ta Tong Chi”. Bendera presidennya berwarna kuning berbentuk segitiga dengan tulisan ‘Chuao’ (Jenderal). Para pejabat tingginya memakai pakaian tradisional bergaya China, sementara pejabat yang lebih rendah memakai pakaian gaya barat. Republik tersebut mencapai keberhasilan besar dalam ekonomi dan stabilitas politik selama 19 tahun pemerintahan Lo Fong Pak.

Dalam tarikh negara samudera dari Dinasti Qing tercatat adanya sebuah tempat dimana orang Ka Yin (dari daerah Mei Hsien) bekerja sebagai penambang, membangun jalan, mendirikan negaranya sendiri, setiap tahun kapalnya mendarat di daerah Zhou dan Chao Zhou (Teochiu) untuk berdagang. Sementara dalam catatan sejarah Lan Fong Kongsi sendiri terungkap bahwa setiap tahun mereka membayar upeti kepada Dinasti Qing seperti Annan (Vietnam).

Kemunduran dan Kejatuhan

Lo Fong Pak meninggal pada tahun 1795, tahun kedua dideklarasikannya republik tersebut (1793). Ia telah hidup di Kalimantan lebih dari 20 tahun. Pada usia ke 47 berdirinya republik tersebut, yaitu pada masa pemerintahan presiden kelima, Liu Tai Er (Hakka: Liu Thoi Nyi), Belanda mulai aktif melakukan ekspansi di Indonesia dan menduduki wilayah tenggara Kalimantan. Liu Tai Er terbujuk oleh Belanda di Batavia (kini Jakarta) untuk menandatangani suatu pakta non-agresi timbal-balik. Penandatanganan pakta tersebut praktis berarti menyerahkan rezim Lan Fong ke dalam kekuasaan Belanda. Munculnya pemberontakan penduduk asli semakin melemahkan pemerintahan Lan Fong. Lan Fong kehilangan otonomi dan menjadi sebuah daerah protektorat Belanda. Belanda membuka perwakilan kolonialnya di Pontianak dan mencampuri urusan republik tersebut. Pada tahun 1884 Singkawang menolak diperintah oleh Belanda, sehingga diserang oleh Belanda. Belanda berhasil menduduki Lan Fong Kongsi, namun kongsi tersebut mengadakan perlawanan selama 4 tahun, tetapi akhirnya dikalahkan, menyusul kematian Liu Asheng (Hakka: Liu A Sin), presidennya yang terakhir. Warganya mengungsi ke Sumatera. Karena takut mendapat reaksi keras dari pemerintahan Qing, Belanda tidak pernah mendeklarasikan Lan Fong sebagai koloninya dan memperbolehkan seorang keturunan mereka menjadi pemimpin.

Riwayat Kepemimpinan Lan Fang Republic :
1. Lo Fongpak 1777-1795 Pendirian Langfong Kungsi di Mandor pada tahun 1777.
2. Kong Meupak 1795-1799 Perang dengan Panembahan Mempawah.
3. Jak Sipak 1799-1803 Konflik dengan orang Dayak dari Landak.
4. Kong Meupak 1803-1811
5. Sung Chiappak 1811-1823 Ekspansi tambang di Landak.
6. Liu Thoinyi 1823-1837 Sudah di bawah pengaruh kolonial Belanda.
7. Ku Liukpak 1837-1842 Konflik dengan Panembahan Landak dan kemerosotan kongsi.
8. Chia Kuifong 1842-1843
9. Yap Thinfui 1843-1845
10. Liu Konsin 1845-1848 Pertempuran dengan orang Dayak Landak.
11. Liu Asin 1848-1876 Ekspansi tambang ke kawasan Landak.
12. Liu Liongkon 1876-1880
13. Liu Asin 1880-1884 Kejatuhan Lanfong Kungsi pada tahun 1884.

Minggu, September 07, 2008

Republik Pertama di Nusantara - Republik Lan Fang

Republik Pertama di Nusantara - Republik Lan Fang

Disadur kembali oleh: Dr.Irawan/Dr.Frits Hong

Lan Fang Republic (summary from the book Hakka people - Jews of the Orient by Kao Chung Xi)

Republik Lan Fang , demikian namanya yang pernah di bentuk oleh orang orang Hakka dari Kwangtung pada akhir abad ke-18. Republik ini berlangsung selama 107 tahun lamanya dan mencatat 10 presiden yang pernah memimpin di republik yang berlokasi di Kalimantan Barat ini.

Presiden pertamanya adalah Lo Fang Pak beliau dilahirkan tahun 1738 di Kwangtung , Mei Hsien, Shih Pik Pao pada tahun ke-3 Dynasty Ching saat Raja Chien Long berkuasa. Beliau pernah mempunyai anak dari perkawinannya, namun pada zaman itu tradisi Hakka tidak membawa isteri keluar negeri.

Hijrah ke Kalimantan Barat

Lo Fang Pak mulai bertualang pada usia 34 tahun beliau pergi merantau ke Kalimantan Barat saat ramainya orang mencari emas (Gold Rush). Beliau menyusuri Han Jiang menuju Shantao, sepanjang pesisir Vietnam, dan akhirnya berlabuh di Kalimantan Barat. Ketika itu Sultan Panembahan yang percaya bahwa orang Tionghoa adalah pekerja keras membawa 20 pekerja Tionghoa dari Brunei. Sultan Omar di Singkawang juga mendengar tentang ketekunan orang Tionghoa memanfaatkannya melalui sistem kontrak lahan kepada orang Tionghoa guna membuka kawasannya

Ketika Lo Fang Pak sampai di Kalimantan Barat, Belanda belum secara agresif merambah ke Kalimantan. Dipesisiran banyak didiami orang Jawa dan Bugis, yang mana daerah ini dikuasai oleh Sultan, dan bagian pedalaman didiami oleh orang Dayak, kendati batas teritorialnya tidak jelas.

Lan Fang Kongsi

Pada permulaan tahun 1740, jumlah orang Tionghoa hanya beberapa puluh saja disana. Pada tahun 1770 orang Tionghoa disana sudah mencapai 20.000 orang. Mereka berdatangan berdasarkan pertalian saudara, sekampung halaman , atau sesama kumpulan. Kelompok Tionghoa ini membentuk Kongsi (perusahaan) untuk melindungi mereka. Lo Fang Pak diangkat menjadi ketua.

Pada tahun 1776, 14 Kongsi di satukan membentuk He Soon 14 Kongsi guna menjaga kesatuan dari ancaman persengketaan antar kumpulan, daerah asal, dan darah. Pada saat itu Lo Fang Pak mendirikan Lan Fang Kongsi, kemudian menyatukan semua orang golongan Hakka di daerah yang dinamakan San Shin Cing Fu (danau gunung berhati emas), dan mendirikan kota Mem-Tau-Er sebagai markas besar dari group perusahaannya.

Berdirinya Republik Lan Fang

Lo Fang Pak mendirikan pemerintahan, dengan mengambil nama dari perusahaannya. Pada tahun 1777 berdirilah Republik Lan Fang, 10 tahun lebih awal dari Amerika Serikat (1787). Ketika itu banyak orang meminta Lo Fang Pak menjadi Sultan (monarchi), tapi beliau menolak dan tetap menempatkan dirinya sebagai Presiden dalam pemerintahan yang bersistem republik, dan presidensil.

Zaman keemasan

Lo Fang Pak dalam masa pemerintahannya telah menjalankan system perpajakan, dan mempunyai kitab undang undang hukum, menyelenggarakan system pertanian dan pertambangan yang terarah, membangun jaringan transportasi, dan mengusahakan ketahan ekonomi berdikari lengkap dengan perbankannya. Sistem pendidikan tetap diperhatikan bahkan semakin dikembangkan, seperti diketahui bahwa Lo Fang Pak sendiri asalnya memang seorang guru.

Republik Lan Fang bukan hanya disegani kekuatan militernya tapi juga keahlian mereka dalam mengusir buaya di kawasan muara kapuas. Ini membuat para bumiputera dan hoakiau menaruh hormat kepada Presiden Lo Fang Pak.

Kun Tien atau lazimnya disebut Pontianak sekarang yang mana terletak di muara sungai Kapuas merupakan daerah niaga yang di kuasai oleh Sultan Abdulrachman. Sedangkan hulu sungai Kapuas di pegang oleh Kelompok Dayak. Kesultanan yang berbatasan dengan Kun Tien adalah Mempawah. Sultan Kun Tien mencoba membangun istana agak ke hulu sungai yang mana dekat dengan perbatasan Kesultanan Mempawah dan ini memicu perang antara kedua kesultanan. Dalam perang ini (1794) Sultan Kun Tien dibantu oleh Lan Fang Kongsi karena kedekatan diantara mereka.

Sultan Mempawah kalah dalam perang lalu bergabung dengan Dayak dan melakukan serangan balasan. Lo Fang Pak kembali mematahkan kekuatan Sultan Mempawah, malah kali ini Sultan Mempawah didesak terus ke utara sampai Singkawang, kemudian berakhir dengan Sultan Singkawang dan Sultan Mempawah menandatangani perjanjian perdamaian dengan Lo Fang Pak. Segera setelah kejadian itu popularitas Lo Fang Pak melesat dramatis, ketika itu beliau berusia 57 tahun.

Setelah itu, rakyat, dan orang Tionghoa didaerah itu bergabung dengan Lo Fang Pak untuk mencari perlindungan, dan Sultan Kun Tien menyadari bahwa dia tidak sanggup melawan kekuatan militer Lo Fang Pak, maka Sultan sendiri meminta perlindungan dari Lo Fang Pak. Presiden Lo Fang Pak wafat pada tahun 1795, beliau sempat tinggal di Borneo selama lebih dari 20 tahun.

Tahun tahun terakhir Lan Fang

Pada saat republik Lan Fang berusia 47 tahun semasa kekuasaan president yang ke-5, Liew tai Er, Belanda mulai menjalankan ekspansinya di Indonesia dan mulai masuk ke Tenggara Borneo. Lama kelamaan Lan Fang kehilangan hak otonomi-nya, dan mulai menjadi bagian dari Hindia Belanda.

Kemudian Belanda membuka kantor kolonialnya di Kun Tien dan mencampuri urusan Republik Lan Fang. Pada tahun 1884, Singkawang yang menolak dijajah oleh Belanda, mendapat serangan dari Belanda dan Belanda akhirnya menduduki Lan fang Kongsi (1885). Lan Fang sempat bertahan dan melawan selama 4 tahun, namun berakhir dengan kekalahan dan orang orangnya melarikan diri ke Sumatra.

Takut akan reaksi keras dari pemerintahan Ching di Tiongkok, menyebabkan Belanda tidak pernah menyatakan menguasai Lan Fang, maka dibiarkan salah satu dari keturunan Lan Fang menjadi pemimpin disana. Baru setelah terbentuknya Republik of China (Cung Hwa Ming Kuok) 1911, maka pada tahun 1912 Belanda secara resmi menyatakan menguasai daerah itu.

Ponti San Kou Yang di China Town Singkawang

Orang orang Lan Fang yang lari ke Sumatra bergabung lagi di Medan. Dari sana mereka menyebar ke Kuala Lumpur dan Singapura. Salah seorang dari keturunannya adalah Lee Kuan Yew. Hakka adalah kelompok minoritas di Singapura, namun orang Hakka memainkan peran penting dalam mendirikan Lan Fang Kongsi yang kedua di Singapura.

Rekaman sejarah

Dari catatan sejarah Ching Dynasty, tercatat sbb: “ ada suatu tempat dimana orang Ka Yin (dari daerah Mei Hsien), menambang emas, membangun jalan, mendirikan negaranya, setiap tahun kapal-kapal niaga-nya berlabuh di Guang Zhou dan Chao Zhou. Dari catatan sejarah Lan Fang Kongsi diketahui mereka setiap tahunnya melakukan kunjungan kehormatan dengan armada dagangnya kepada Dinasti Ching, seperti yang dilakukan juga oleh Annan (Vietnam)”.

Ibu kotanya adalah Che Wan Li. Presiden The Ta Tang (Chon Chang) terpilih melalui pemilu. Kedua presiden dan wakilnya dari Hakka dari Ka Yin dan daerah Ta Pu. Benderanya empat persegi panjang berwarna kuning dengan lambang dan kata kata Lan Fang Ta Tong Chi. Panji kepresidenan berbentuk segi tiga berwarna kuning dengan kata Chuao (Jenderal). Pejabat tingginya berpakaian ala Tiongkok kuno, sedangkan yang berpangkat lebih rendah mengenakan pakaian ala barat.

Kabarnya di Pontianak ada prasasti kenangan yang dibuat untuk beliau , Juga di Mei Shien Tiongkok ada prasasti sejenis disebuah sekolah yang dinamakan San Mei Pei Cung Shueh.


Source: http://www.indonesiamedia.com/2003/06/berta-0603-lanfang.htm

Jumat, September 05, 2008

Rasialisme Anti-Tionghoa dan Percobaan Menjawabnya

Rasialisme Anti-Tionghoa dan Percobaan Menjawabnya

Pramoedya Ananta Toer

Jaringan Kerja Budaya, 22 Oktober 1999

Rasialisme anti-Tionghoa terbesar dan pertama kali terjadi pada 1740 jelas hasil permainan kekuasaan Kompeni alias VOC. Sumber-sumber otentik yang dipergunakan Jan Risconi dalam disertasinya Sja'ir Kompeni Welanda Berperang Dengan Tjina (1935) cukup jelas. Sayang dissertasi yang membahas syair berbahasa Melayu aksara Arab ini ditulis dalam bahasa Belanda sehingga untuk masa sekarangan ini agak sulit menjadi sumber rujukan. Kasus 1740 adalah rasialiane anti Tionghoa dari pihak Kompeni, dari pihak kekuasaan orang Barat/Belanda.

Rasialisme anti-Tionghoa sepanjang tercatat oleh sejarah terjadi pertama kali di Solo, pusat kapital, produksi dan perdagangan batik. Padahal ko-eksistensi damai antara Pribumi dan Tionghoa berjalan mulus sepanjang sejarah. Pada masa ini kekuasaan kolonial sedang mengembangkan politik ethiknya yang dapat menerima terjadinya kebangkitan pada Pribumi. Dengan syarat memang: asal tidak bersifat politik. Jadi sejajar dengan politik massa mengambang OrBa. Seperti halnya pada peristiwa 1740 juga di sini tangan kekuasaan bermain di belakang layar. Ada kemenangan pada gerakan boikot oleh para pedagang Tionghoa terhadap perusahaan-perusahaan raksasa Barat di Surabaya. Pada pihak Pribumi ada kebangkitan dalam bentuk lahirnya Sarekat Islam yang dalam waktu sangat pendek telah menjadi gerakan massa yang meraksasa. Unsur-unsur ini telah dipaparkan dalam karya Sang Pemula, Hasta Mitra, Jakarta 1985. Dari sedikit sumber dan juga langka disebutnya tentang adanya kegelisahan pada penduduk penetap bangsa Barat dan keturunannya terhadap kebangkitan massa Pribumi yang agamanya lain daripada yang mereka anut. Walau penduduk penetap bangsa Barat ini merupakan minoritas sangat kecil namuk bertulangpunggung kekuasaan, kekuasaan kolonial. Dan terjadilah kerusuhan rasial itu.

Kerusuhan rasial anti-Tionghoa terjadi 4 tahun kemudian di Kudus, 1916. Walau pun kejadiannya jauh lebih besar, meliputi seluruh kota industri rokok ini, disertai pembunuhan di berbagai tempat, namun sebagai peristiwa sebenarnya hanya merupakan edisi kedua dari yang pertama. Beruntunglah bahwa Tan Boen Kim telah membukukan peristiwa ini dengan judul Peroesoehan di Koedoes, 1918. Namun masih ada yang patut disayangkan. Karya yang didasarkan pada pemberitaan pers ini tak sampai mengungkap latarbelakang peristiwa. Tentang ada-tidaknya tangan kekuasaan yang bermain, ia hanya menyesalkan sikap para pejabat setempat, bukan sebagai lembaga kekuasaan.

Kemudian terjadi peristiwa rasial anti-Tionghoa semasa Indonesia telah merdeka, formal oleh negara, dalam bentuk PP 10-1960. Mengagetkan, mengherankan, mengingat bangsa Indonesia yang mereka ini telah merumuskan aspirasi perjuangan nasionalnya dalam Pancasila. Buku Hoakiau di Indonesia yang diluncurkan sekarang ini, pertama diterbitkan oleh Bintang Press, 1960, tak lain dari reaksi atas PP 10 tsb. Peraturan Pemerintah nomor 10 ini kemudian berbuntut panjang dengan terjadinya tindakan rasial di Jawa Barat pada 1963, yang dilakukan oleh militer Angkatan Darat. Kebetulan pada waktu itu saya "mengajar" di Fakultas Sastra Universitas Res Publika milik Baperki, yang sekarang diubah namanya menjadi Universitas Trisaksi dan bukan lagi milik Baperki. Dari para mahasiswa- mahasiswi, sebagian terbesar WNI keturunan Tionghoa, saya menerima sejumlah informasi tentang perlakuan pihak militer terhadap keluarga mereka yang tinggal di Jawa Barat. Ternyata rasialisme formal ini ditempa oleh beberapa orang dari kalangan elit OrBa untuk meranjau hubungan antara RI dengan RRT, yang jelas, sadar atau tidak, menjadi sempalan perang-dingin yang menguntungkan pihak Barat.

Yang mengherankan tentang rasialisme anti-Tionghoa ialah: mengapa ini bisa terjadi dalam alam Indonesia Merdeka? Di samping Indonesia memiliki Pancasila bukankah pihak etnik Tionghoa juga punya saham dalam gerakan kemerdekaan nasional sampai pencarian input untuk panitya persiapan kemerdekaan menjelang akhir pendudukan Jepang. Bukankah sumbangannya pada revolusi juga ada, dan tidak semua etnik Tionghoa bergabung dengan Po Ang Tui yang berpihak pada Belanda, sebagaimana halnya tidak semua Pribumi berpihak pada Nica? Juga dalam alam Indonesia merdeka?

Tentang ini dengan mudah siapa saja dapat mengikuti tulisan Siau Giok Tjhan Lima Jaman, Perwujudan Integrasi Wajar, Yayasan Teratai, Jakarta-Amsterdam Mei 1981. Dalam paparan lebih luas hubungan Pribumi-Tionghoa, sejak jaman migrasi, penyeberangan budaya Dongson atau perunggu sampai kurun 70-an abad ini, meliputi pembauran di seluruh Indonesia telah ditulis oleh Yoe-Sioe Liem dalam karyanya Die ethnische Minderheit der Uberseechinesen im Entwicklungsprozess Indonesiens (Verlag Breitenbach, Saarbrucken, Fort Lauderdale, 1980). Bukankah dalam momentum pembauran purba budaya Dongson Jawa memiliki tangga nada selindro, karena datangnya melalui wilayah kedatukan Cailendra? Belakangan ini semakin banyak diterbitkan paparan tentang etnis Tionghoa di Indonesia, nampaknya kurang mendapat perhatian.

Kurun perjuangan nasional dan saham etnis Tionghoa di dalamnya telah ditulis oleh Siauw Giok Tjhan sebagai pelaku sejarah. Tokoh luarbiasa di samping Siauw adalah Liem Koen Hian, pendiri Partai Tionghoa-Indonesia, September 1932. Ia menggalang kerjasama dengan para tokoh puncak gerakan kemerdekaan nasional pada masanya. Malahan sebagai pribadi, biar pun bukan hartawan, ia selalu memberikan bantuan yang mereka perlukan. Ia sejak semula menjadi penganjur hapusnya diskriminasi rasial untuk mempermudah dipupuknya rasa senasib antara semua putera Indonesia, termasuk etnis Tionghoa. Partai ini menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa organisasi, dengan catatan bahwa yang dimaksud dengan bahasa Indonesia pada waktu itu sinonim dengan bahasa pers Melayu-Tionghoa, sekali pun di antara para anggotanya lulusan perguruan tinggi Belanda.

Nasib dua orang pejuang gerakan kemerdekaan ini, yang pada masa kegiatannya, dua jendral besar Indonesia justru menjadi serdadu Knil, nyaris sama. Mereka juga menjadi kurban OrBa, menjadi bagian dari jutaan orang Indonesia yang jadi kurban OrBa. Mereka menjadi tapol OrBa. Bebas sebagai tapol pada 1 Mei 1979, ia meninggalkan Indonesia bermukim di Belanda dan wafat di sana. Liem Koen Hian sebagai tapol OrBa mengalami kekecewaan berat, karena sebagai tapol sama sekali tidak mendapat perhatian, jangankan pertolongan, dari tokoh-tokoh puncak semasa gerakan kemerdekaan nasional yang pernah dibantunya. Bebas sebagai tapol OrBa ia langsung menanggalkan kewarganegaraannya sebagai orang Indonesia, dan sejak itu tak pernah terdengar lagi kabar-beritanya.

Di atas ini adalah kartu anggota Partai Tionghoa Indonesia atas nama Kho Sien Hoo, cabang Magelang, dengan tandatangannya sendiri dan tandatangan Liem Koen Hian, tertanggal 5 Januari 1933. Bukan suatu kebetulan kartu anggota Kho Sien Hoo direproduksi di sini, karena sejak berdirinya Partai Tionghoa Indonesia ia mulai bergabung dengan gerakan kemerdekaan nasional. Jadi hanya sebagai contoh di antara yang banyak yang kurang diketahui. Semasa revolusi ia menjadi komandan tertinggi Laskar Rakyat Magelang dan Kedu, bersama kesatuan BKR merampas senjata Nakamura Butai dan melawan Inggris-Ghurka dan Nica di Ambarawa pada awal revolusi.

Ia mengubah namanya nenjadi Surjo Budihandoko tanpa melalui pengadilan. Dilahirkan pada 1905 ia wafat di Jakarta pada November 1969. Bintang-bintang pada dadanya adalah pengakuan resmi tentang jasa-jasanya pada tanahair dan bangsa.

Bahwa yang dipampangkan di sini hanya Surjo Budihandoko bukan berarti hanya beliau yang berjasa pada tanahair dan bangsa Indonesia. Cukup banyak, diakui atau tidak jasa-jasanya. Makanya mengherankan bila terjadi kerusuhan rasial anti-Tionghoa. Celakanya justru yang terjadi pada penutup era OrBa, Mei 1998. Padahal justru semasa OrBa Pancasila diajarkan sejak dari SD sampai perguruan tinggi. Atau memang sudah diprogram jadi ajaran "Pancasila Bibir"? Mungkinkah Siauw Giok Tjhan dan Liem Koen Hian juga kecewa berat terhadap Pancasila "Bibir" ini sehingga yang pertama meninggalkan Indonesia dan yang kedua menanggaIkan kewarganegaraannya?

Stop! Rasialisme anti minoritas apa pun harus tak terjadi lagi di Indonesia. Sungguh suatu aib yang memalukan dalam lebih setengah abad dan ber-Pancasila bisa terjadi kebiadaban ini kalau bukan karena hipokrisi pada kekuasaan.

Pada 1946 awal waktu saya naik keretapi Jakarta menuju ke basis militer di Cikampek. Di samping saya duduk seorang pemuda yang meminjami buku karya S. Soedjojono, pelukis nasional itu. Saya sudah lupa judulnya. Yang teringat dari bacaan itu hanya satu bagian kecil: tentang Mongoolse Vlek, tembong biru pada pantat atau bagian bawah lain dari bayi yang baru dilahirkan, satu isyarat bahwa si bayi punya darah Mongoloid atau darah Cina. Padahal bayi-bayi Indonesia yang berkulit sedikit lebih cerah dari coklat bertembong biru. Saya tidak tahu jawaban para anthropolog atau pun kedokteran tentang kebenarannya. Beberapa tahun kemudian seseorang mengatakan: sekiranya Hitler dalam, upayanya memurnikan darah Aria pada bangsa Jerman tahu tentang adanya Mongoolse Vlek alias tembong biru ini mungkin beberapa juta orang lagi akan dilikwidasi Nazi. Soalnya dalam abad 13 balatentara Kublai Khan bukan saja menyerang ke selatan sampai ke Singasari, ke timur sampai ke Jepang, juga ke barat sampai ke Eropa Tengah.

Setelah Kublai Khan mendirikan pusat kerajaannya di Beijing bajak laut Cina mendirikan diaspora di Palembang. Beijing mengirimkan ekspedisi ke Palembang dan menangkap gembong bajak laut tsb. dan menghukum mati di Beijing, namun diaspora ini justru berkembang, bahkan menghasilkan seorang Jin Bun, yang kemudian menjadi raja Islam pertama di Demak. Percampuran darah dari koloni ini dengan penduduk membuahkan generasi dengan tubuh lebih tinggi dan kulit lebih cerah, menyebar sampai ke wilayah Lampung.

Kalau benar tembong biru pada bayi pertanda ada darah Cina mengalir dalam tubuhnya apakah kerusuhan rasial 1998 masih tetap dapat dikatakan rasial? Ya atau tidak samasekali tidak penting. Setidak-tidaknya kerusuhan tsb. Suatu kejahatan terhadap kemanusiaan, kebiadaban, siapa pun yang melakukannya dan siapa pun kurbannya.

Akhirnya yang timbul hanya pertanyaan bagaimana mengakhiri kejahatan dan kebiadaban terhadap kemanusiaan ini? Saya hanya bisa menyarankan: giatkan penyebaran informasi yang menumbuhkan saling pengertian antara dua belah pihak. Antaranya menyebarluaskan karya Siauw Giok Tjhan dan lain-lain, dan terutama karya Siauw.

Pramoedya Ananta Toer
Jakarta, 6 Oktober 1998

Solidaritas Nusa Bangsa, Gedung AGAPE, Lt. 3, Jl. Raya Ragunan No.18, Jakarta 12540, Indonesia.
Telp/Fax. (021) 78840636,
website: http://www.snb.or.id
"States Parties particularly condemn racial segregation and apartheid and undertake to prevent, prohibit and eradicate all practices of this nature in territories under their jurisdiction." [Article 3, International Convention on the Elimination of All Forms of Racial Discrimination, 21 Dec. 1965]