Mengenai Saya

Facebook Badge

Darwin Tantiono's Facebook profile

Selasa, Januari 27, 2009

INTER, Campione Del Formaggio!

INTER, Campione Del Formaggio!

INTER! Nama apakah itu? Sudah pasti Inter saat ini sangat-sangat identik dengan salah satu produk jenis olahan susu. Yap, apalagi kalo bukan KEJU! Inter saat ini adalah Juara bertipikal KEJU! Walaupun dicantumkan sebagai Juara Serie A, kemampuan Inter sepanjang Musim 2008-2009 ini hampir disemua laga tak ada yang layak dikatakan sebagai JUARA. Semuanya dimainkan & tak pernah lepas dari sedikit insiden maupun kontroversi.

Terlepas dari kecintaan terhadap Inter, semua Interisti tetap mencintai Inter. Namun dikatakan mencintai, sebagai pecinta sejati tentunya juga harus objektif dalam menilai performa sang Inter. Sayang banyak Interisti seakan-akan terbuai dengan status juaranya! Untungnya peran media massa (anti-Inter) utamanya turut membantu segelintir Interisti tersadar, utamanya ketika Inter dihantam 1-3 di derby Nerazzurri. Bahkan akibat kekalahan ini, Inter diserang isu hebat, dimana pada saat turun minum, diruang ganti, JM mencaci Interisti (Pemain Inter) dengan kata TAHI! Bahkan Scudetto Inter sendiri disebut-sebut tak layak karena dimenangkan Arbitrasi, lalu dimenangkan tanpa kehadiran Juventus PLUS pinalti terhadap AC Milan, & dimenangkan dengan setengah mati saat Juventus masih tengah beradaptasi dari Serie B.

Senarai Penjelasan diatas tak pelak membuat Inter masih dipandang setengah mata. Ibarat kata ada orang buta berjalan, biar kata Inter didepan, mungkin Inter ga kelihatan ada jika ga ditabrak! Ironik tapi ini kenyataan! & Kenyataan ini sangat pahit walaupun diduga terpaan ini dihembuskan dengan sengaja untuk menggoyang CAPOLISTA Inter saat ini.

CAPOLISTA bukanlah segalanya, tapi setidaknya dengan menempati posisi ini membuat anda bisa menikmati rasanya berada diatas. Siapapun berada diatas, tapi akan lebih INDAH jika itu terjadi diakhir musim. Itulah mungkin yang terpatri dalam benak semua pihak. Apalagi perubahan KUTUB KEKUATAN pasca CALCIOPOLI membuat SERIE A semakin berbahaya dengan Intriknya. Utamanya yang menimpa tokoh Utama bernama Inter.

Semua seperti sepakat menjadikan INTER sebagai PUBLIC ENEMY # 1 saat ini. Bahkan sekutu terdekat Inter seperti Roma juga mulai tak tahan selalu menjadi deputi Inter (DIBACA: Nomor 2). Semuanya juga bermulai dari euforia Interisti ketika menjadikan TRAGEDI JUVENTUS ke Serie B sebagai LELUCON 2006. Lalu diakhir musim 2006/07 dengan menyanyikan PAZZA INTER (yang direvisi) yang dimana menyebut Inter Scudetto secara jujur, secara tereksplisit ini hendak menyindir Juventus, entah bagaimana caranya, Juventus berbalik menyerang Inter & mengajak semua komponen Serie A yang dikatakan juga disamakan sebagai Pencuri (jika Klub2 selain Juventus tersebut meraih Scudetto). Akibat ketakutan ini, tak pelak Lagu Pazza Inter versi baru ini jarang lagi dikumandangkan!

Bahkan yang lebih ironis, kegagalan diliga champions membuat RM mengundurkan diri (yang kemudian diralat keesokan harinya) semakin meperkuat stigma baru. Inter memang tengah Jaya & berstatus JUARA, tapi INTER hanya JUARA bertipikal KEJU! Bahkan hampir saja Inter gagal meraih Scudetto 2007-2008 yang dimana harus dituntaskan pada Giornata terakhir!

Itu salah satu dari sekian permasalahan dibalik pemikiran kenapa INTER bisa mendapat julukan CAMPIONE DEL FORMAGGIO alias JUARA bertipikal KEJU! Tentunya Keju yang digambarkan untuk julukan ini adalah yang seperti anda lihat difilm animasi Tom & Jerry. Dimana sebongkah Keju digambarkan berwarna EMAS yang melambangkan kejayaan tapi berlobang disetiap bongkahan2nya. Tentunya ini hampir sama persis seperti apa yang dialami Inter musim ini.

Tidak ada kekompakan dalam Squad Inter saat ini walaupun Inter bisa di capolista saat ini. Ini akibat perubahan haluan & yang dibawa Il Nuovo Allenatore Jose Mourinho. Dimana perubahan ini membawa ketidak tenangan terhadap Squadnya yang dimana dianggap tak layak, tentunya sebagai bagian dari yang pernah membawa Klub ini juara, mereka tentu melawan ketika diserang.

Ketidak kompakan ini kontan saja membawa pengaruh terhadap inovasi permainan. Karena stock Permainan Inter tak seinovatif dulu. Walaupun ada suntikan pemain baru tetap saja, Inovasi permainan Inter tak nampak, bahkan sangat mudah terbaca. Ini sangat ironik mengingat Inter tengah dinahkodai oleh salah 1 Allenatore yang dinilai sangat GENIUS oleh pelatih2 kelas atas.

Jika saja Inter tak tergerus oleh permasalahan mungkin Kekalahan juga akan hadir tak lama. Tapi tentu tidak dengan kondisi seperti ini. Bisa dikatakan inilah SEBAB-AKIBAT yang harus Inter alami dari Perbuatannya yang lupa memperbaiki sistem & dirinya. Selain yang perlu Inter ingat adalah bahwa Inter bermain di SERIE A yang selalu dianggap Public Italia sebagai KOMPETISI TERHEBAT dimuka BUMI. Tentu jika memandang remeh, rasa sakit itu kan hadir jua.

Tak heran jika JM yang dianggap sebagai pelatih yang sangat benci dikalahkan merasa disakiti, bahkan membuat JM bisa diisukan mengatai Interisti "A Pile of Sh*t!". Tak pelak pula jika JM dianggap Juventini sebagai One of Us (dibaca: Juventini) oleh komentar yang dibantah oleh JM tak lama. Tapi, jika Inter tetap tak berubah secara progresif mungkin saya tak perlu mengatai Inter seperti yang dituduhkan kepada JM, cukup saya katakan saja Inter sebagai CAMPIONE DEL FORMAGGIO!

Mungkin kumandang kebesaran Inter perlu diperdengarkan untuk memberi semangat Interisti dilapangan & dimanapun. Utamanya diforum-forum ini. Bagi yang merasa Interisti mungkin tidak terima dengan pandangan saya, & bahkan mungkin status saya akan dibekukan diforum bersangkutan akibat opini ini. Mungkin juga... Saya akan dijuluki sebagai ONE OF US oleh Anti-Inter... Terlepas dari apapun itu, saya tetap bangga sebagai Interisti yang MERDEKA dari ikatan apapun jua!

Anda bisa membaca opini di www.darwinternazionale.multiply jika karena suatu hal OPINI ataupun postingan ini dihapus.

INTER, MEZZO PERFETTO E MONDO!

DARWINTERNAZIONALE

Sabtu, November 22, 2008

Komik ”Put On” Diterbitkan Lagi Komik, Sejarah, dan Fenomena Sosial

Komik ”Put On” Diterbitkan Lagi
Komik, Sejarah, dan Fenomena Sosial



Oleh
Sihar Ramses Simatupang


Jakarta – Dialog di atas adalah dialog sehari-hari Put On yang disajikan lewat bahasa populer pada masa itu. Komik jenaka ini pertama kali terbit pada 7 Februari 1931 di Harian Sin Po, lantas diberedel pemerintah Jepang pada tahun 1942 hingga 1946.

Setelah terbit lagi di Majalah Pantjawarna, komik strip pertama di Indonesia ini kemudian berpindah ke Harian Warta Bakti hingga media ini ”tenggelam” bersama dengan ”ombak” politik ideologi Indonesia tahun 1965. Put On pun ”menghilang”.

Diskusi dan peluncuran komik Put On bertajuk ”100 Tahun Kho Wan Gie, sang Pelopor Komik Strip Indonesia” di World Trade Center Mangga Dua, Jakarta Utara, Sabtu (22/11), seakan kembali membuka fenomena komik Indonesia dari masa ke masa. Put On, tokoh rekaan Kho Wan Gie (1908-1983), menjadi tokoh dari komik humor perdana di Indonesia.

Bagaimana pun, jejak komik Indonesia ikut mewarnai dinamika kebudayaan tempo dulu. Sebagaimana riwayat dan sejarah seni kesusastraan juga teater yang memperlihatkan pengaruh kebudayaan, komik dapat membagikan ”separuh sisi” realitas sosial dan politik di masa itu.

Menurut Wahyu Wibisana, penyunting komik Put On edisi ”sekarang”, yang juga jurnalis SH, dialog komik dapat memperlihatkan latar budaya pengkaryanya sekaligus sejarah masyarakat di saat komik itu lahir. Komikus Kho Wan Gie menghadirkan si Put On, warga Indonesia keturunan Tionghoa yang bukan saja bersahaja namun juga lucu.
Put On adalah pria bujangan ”keturunan” yang merekam situasi masyarakat Indonesia dari golongan Tionghoa kelas menengah kala menghadapi situasi Kota Jakarta, termasuk di saat banjir dan saat antre minyak tanah.

Put On juga muncul sebagai tokoh patriotik, karena dia menjadi sukarelawan untuk pembebasan Irian Barat sekaligus menyukseskan program pemerintah menanggulangi masalah pangan. Tokoh Put On juga ikut memeriahkan acara peringatan kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus.

Komik Indonesia masih ditanggapi pembaca muda secara antusias. Peluncuran Put On seperti membuka lagi mata rantai komik Indonesia yang tenggelam dalam hiruk-pikuk dunia perkomikan asing yang belakangan membanjiri dunia bacaan remaja. Tengoklah komik karya Djair (Warni), Taguan Hardjo, dan Ganes Th yang tak hanya hadir dalam kenangan publik, namun sampai sekarang juga terus diburu.

Hingga kini, masih banyak yang peduli pada komikus Taguan Harjo, Djair, Ganes Th, Jan Mintaraga dan Tatang S. Teringat momen peluncuran yang digelar oleh komikus Taguan Harjo semasa beliau masih hidup. Di Widjojo Center (British Council) Jakarta, beberapa tahun silam, SH sempat berbincang dengan mendiang komikus Taguan (1935-2002) yang mengangkat kisah para pendekar berlatar budaya Melayu atau Andalas (Sumatera) tempo dulu itu. ”Saya kerap mengangkat sejarah di Sumatera melalui komik saya itu,” ujar Taguan.

Generasi yang sempat tumbuh remaja di tahun 1980-an, mungkin juga dapat mengingat komik Petruk-Gareng karya Tatang S. Komik itu mengisahkan hidup di Desa Tumaritis, desa yang merupakan ”plesetan” dari sebuah lokasi tak jauh dari pinggiran Kota Jakarta. Petruk-Gareng dikisahkan kerap hilir-mudik di ”Gultom Agency”--dan nama agen komik ini pun sempat disebut di dalam ceritanya. Kedua tokoh punakawan pengisi goro-goro dalam wayang Jawa ini, diceritakan hidup di tengah masyarakat urban Jakarta, di antara kotornya Kali Ciliwung hingga reyotnya gubuk di gang-gang kota.

Pada era 1980-an, komik semacam ini menjamur dan dinikmati masyarakat kota sebagai bacaan pop kaum urban. Sedikit ”nakal” memang, namun dari kisah itu terefleksi kehidupan masyarakat di masa itu, dari soal utang yang membelit, hingga dapur di rumah yang tidak ngebul!

Masih Diminati

Komik memang lebih renyah karena si penikmat mendapatkan penguatan imajinasi lewat pengamatan mata. Komik nyatanya tak lepas dari fase sosial-politik Indonesia. Sejak masa pemerintahan Soekarno, Soeharto, hingga era reformasi, komik rentan dipengaruhi izin, pelarangan, dan kebebasan dari setiap masa.

Belakangan, faktor yang cukup mengurangi gerak perkonomian Indonesia tampaknya bukan (cuma) soal politik–di tengah pembatasan UU Pornografi–namun juga keengganan penerbit, keterbukaan toko buku, hingga ambisi negara besar penghasil komik untuk ”merajai” pasar komik Indonesia. Fenomena yang tak paralel dengan gairah pembaca komik Indonesia yang saat ini sebenarnya masih memburu karya komikus dalam negeri, baik produk masa lalu maupun masa kini.

Di pertengahan tahun 2007, pengamat komik Indonesia Hikmat Dharmawan tegas mengatakan bahwa komik (dan kreativitas komikus) Indonesia tak mati. Selama ini yang mati justru produsen dan distributor komik. Pada pameran komik di tahun 2007 yang digelar di Erasmus Huis, Cahya--didampingi Beng, Tita, dan Anto Motulz, melontarkan pendapat bahwa komik Indonesia selama ini kurang mendapat perhatian dari penerbitan dan media massa.

Padahal respons pembaca selama ini cukup baik. Buktinya, komik Indonesia terbaru masih terus ”berlahiran”. Sekali-sekali cobalah mampir ke depan Bioskop 21 Cinepleks di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Tengoklah juga gelar buku dadakan di setiap acara kebudayaan di kota mana pun. Tetap akan terlihat tingkah laku para komikus Indonesia, secara individu maupun komunal yang menggelar, menjual, atau memberikan komik pada khalayak pembaca orang per orang. Tak jarang juga kita temui para pemburu komik Indonesia. Jadi peminatnya pun cukup banyak.

Kalau bicara soal kecanggihan gambar, tengoklah proses komikus Prancis, Herge yang terus berproses. Mencanggihkan sosok Tintin dari masa ke masa, mulai dari yang rambutnya ”selembar” hingga tampil ”berjambul” penuh. Begitu pun figur anjing yang cerewet, yang kemudian menjadi pendiam sejak munculnya figur lain, Si Kapten Haddock yang pengeluh ”seribu topan badai” itu.

Percayalah, komikus Indonesia pun patut diberi kesempatan untuk mengembangkan kreativitas mereka. Berikan mereka kesempatan untuk mengembangkan karakter tokoh komik dan terbitkan karyanya... n


Source: http://www.sinarharapan.co.id/berita/0811/22/sh03.html

Jumat, November 14, 2008

ORANG BODOH VS ORANG PINTAR

cobalah anda renungkan :

ORANG BODOH VS ORANG PINTAR

Orang bodoh sulit dapat kerja, akhirnya berbisnis..
Agar bisnisnya berhasil, tentu dia harus rekrut orang pintar.
Walhasil boss-nya orang pintar adalah orang bodoh.
Orang bodoh sering melakukan kesalahan,

maka dia rekrut orang pintar yang
tidak pernah salah untuk memperbaiki yang salah.
Walhasil orang bodoh memerintahkan orang pintar untuk keperluan orang bodoh.

Orang pintar belajar untuk mendapatkan ijazah untuk selanjutnya
mencari kerja. Orang bodoh berpikir secepatnya mendapatkan uang untuk
membayari proposal yang diajukan orang pintar.

Orang bodoh tidak bisa membuat teks pidato,

maka dia menyuruh orang pintar untuk membuatnya.

Orang bodoh kayaknya susah untuk lulus sekolah hukum (SH).

oleh karena itu orang bodoh memerintahkan orang pintar

untuk membuat undang-undangnya orang bodoh.

Orang bodoh biasanya jago cuap-cuap jual omongan,

sementara itu orang pintar percaya.

Tapi selanjutnya orang pintar menyesal karena telah mempercayai orang bodoh.

Tapi toh saat itu orang bodoh sudah ada di atas.

Orang bodoh berpikir pendek untuk memutuskan sesuatu yang dipikirkan
panjang-panjang oleh orang pintar. Walhasil orang orang pintar menjadi
staf-nya orang bodoh.

Saat bisnis orang bodoh mengalami kelesuan,

dia PHK orang-orang pintar yang berkerja.

Tapi orang-orang pintar DEMO. Walhasil orang-orang pintar
'meratap-ratap' kepada orang bodoh agar tetap diberikan pekerjaan.

Tapi saat bisnis orang bodoh maju, orang pinter akan menghabiskan waktu
untuk bekerja keras dengan hati senang, sementara orang bodoh menghabiskan
waktu untuk bersenang-senang dengan keluarganya.

Mata orang bodoh selalu mencari apa yang bisa di jadikan duit.

Mata orang pintar selalu mencari kolom lowongan perkerjaan.

Bill Gate, Dell, Henry Ford,

Thomas Alfa Edison, Tommy Suharto, Liem Siu Liong

Adalah orang-orang yang tidak pernah dapat S1, tapi kemudian menjadi kaya raya.

Ribuan orang-orang pintar bekerja untuk mereka.

Dan puluhan ribu jiwa keluarga orang pintar bergantung pada orang bodoh.


PERTANYAAN :
Mendingan jadi orang pinter atau orang bodoh??
Pinteran mana antara orang pinter atau orang bodoh ???
Mana yang lebih mulia antara orang pinter atau orang bodoh??
Mana yang lebih susah, orang pinter atau orang bodoh??



KESIMPULAN:
Jangan lama-lama jadi orang pinter,
lama-lama tidak sadar bahwa dirinya telah dibodohi oleh orang bodoh.

Jadilah orang bodoh yang pinter dari pada jadi orang pinter yang bodoh.

Kata kunci nya adalah 'resiko' dan 'berusaha',

karena orang bodoh perpikir pendek maka dia bilang resikonya kecil, selanjutnya dia berusaha agar resiko betul-betul kecil.
Orang pinter perpikir panjang maka dia bilang resikonya besar untuk selanjutnya dia tidak akan berusaha mengambil resiko tersebut.

Dan mengabdi pada orang bodoh.

Selasa, Oktober 28, 2008

Hapus Kolom Agama di KTP

Hapus Kolom Agama di KTP

Ditulis Oleh Gendhotwukir
27-10-2008,
Di kolom agama tersebut hanya dimungkinkan tertulis: Islam, Kristen, Hindu, Budha, Katolik dan belakangan ini Konghucu. Padahal kenyataan di masyarakat tidak sedikit orang yang menganut kepercayaan lokal, menganut kejawen, Sikh, Sinto dan lain sebagainya. Di beberapa negara selain Indonesia, identitas diri semacam KTP-nya Indonesia sudah tidak mencantumkan kolom agama.

Kita tentu tahu tokoh kejawen Permadi yang sering disebut penyambung lidah Bung Karno itu. Pada tahun 2002 dia menjadi korban diskriminasi soal KTP. Ketika ia hendak menikahkan anak perempuannya ia dilarang ketua KUA. Permadi dilarang mengawinkan anaknya karena ia pengikut kejawen. Penulis yakin tidak hanya Permadi seorang yang mengalami diskriminasi semacam ini, mengingat penganut kepercayaan lokal, kejawen, Sikh, Sinto dan lainnya cukup banyak.

Tapi ya begitulah, di Indonesia agama sudah menjadi ketentuan atau konvensi yang sudah berakar. Dalam banyak ketentuan dan undang-undang, teristimewa untuk rekruitmen tenaga kerja pun mesti disebutkan agamanya apa. Selain itu pelayanan publik lantas juga tidak maksimal tatkala mentalitas pegawainya yang religion oriented. Pelayanan untuk pengurusan surat-surat di instansi tertentu lantas menjadi ribet dan molor karena seseorang beragama tertentu dan berbeda dengan pegawai yang melayani. Ini memang jaman reformasi, tapi yang utama direformasi itu seharusnya juga cara pandang dan mentalitas orangnya.

Selain diskriminasi di atas, suatu fakta yang tak dapat ditutup-tutupi, kolom agama dalam KTP berpotensi menimbulkan konflik horisontal. Ini telah terjadi tidak hanya di Poso tapi juga di mana-mana. Orang yang dicurigai diminta menunjukkan KTP. Kalau orang yang bersangkutan beragama sama kadang bisa aman, tetapi kalau berbeda bisa dibayangkan apa yang akan terjadi apalagi dalam situasi konflik yang berbau SARA.

Mentalitas religion oriented ini, entah kenapa telah cukup berakar di sebagian masyarakat Indonesia. Pergaulan kadang menjadi berjarak ketika seseorang berbeda agama. Penulis melihat kecenderungan ini. Entah ketika di dalam negeri maupun di luar negeri, ketika bertemu orang baru yang notabene berasal dari Indonesia pertanyaan mengenai agama yang saya anut seperti kok menjadi prioritas pertanyaan.

Bukannya penulis tidak bangga dengan agama yang penulis anut, tetapi penulis melihat mentalitas seseorang yang religion oriented itu malah acap kali mengesampingkan aspek kemanusiaan. Tidak jarang penulis bertemu seorang yang beragama lain dengan penulis yang tiba-tiba menjadi canggung dan menjaga jarak ketika tahu agama yang saya anut beda dengan dia, padahal sebelumnya akrab.

Karena seringnya ketemu seseorang yang lantas ujung-ujungnya tanya agama, penulis lebih sering menjawab, “this is not your business”. Untuk kelancaran pelayanan publik menyangkut hak sipil penulis sebagai warga negara, penulis lebih sering kompromi untuk memberikan identitas lain seperti Surat Ijin Mengemudi (SIM) atau Kartu Tanda Mahasiswa (KTM). Di SIM dan KTM jelas-jelas tidak terdapat kolom agama. Lebih gila lagi seorang teman yang lantas mengisi kolom agama di KTP dengan agama lain agar bisa masuk dan bekerja di instansi tertentu.

Sekali lagi penulis tidak malu dengan agama yang penulis anut. Penulis bangga dengan agama yang penulis anut. Tapi kalau fakta kehadiran KTP yang mencantumkan kolom agama itu ternyata menjadi bibit diskriminasi, konflik horisontal, pelayanan publik kurang maksimal dan kemanusiaan diabaikan, menurut penulis sudah waktunya kolom agama di KTP itu dihapus. Alasan administrasi kependudukan juga tak bisa menghalangi desakan penghapusan kolom agama ini. Soal administrasi kependudukan, asal orang-orangnya di instansi bersangkutan bekerja dengan becus, sebenarnya kolom agama di KTP tidak diperlukan lagi. Jadi, sebaiknya kolom agama di KTP itu dihapuskan saja!

* Gendhotwukir, penyair dan jurnalis dari Komunitas Merapi. Penulis pernah mengenyam pendidikan di Philosophisch-Theologische Hochschule Sankt Augustin Jerman dan saat ini di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

Source: http://citizennews.suaramerdeka.com/index2.php?option=com_content&task=view&id=469&pop=1&page=0&Itemid=1

Jumat, Oktober 03, 2008

Sinophobia smolders in Malaysia

Sinophobia smolders in Malaysia
Oct 2, 2008
SINGAPORE - As an ethnic minority in most of Southeast Asia, the Chinese have, from time to time, been subject to outbursts of anti-Chinese sentiments. The latest tirade came from Ahmad Ismail, a division chief of the United Malays National Organization (UMNO) in Penang, Malaysia earlier this month. The UMNO is the leading component party of the ruling coalition, Barisan National (BN).

According to a local Chinese newspaper, the Sinchew Daily, Ahmad had said that the "Chinese were merely squatting in Malaysia", and thereby "do not deserve equal rights". Despite repeated calls for an apology from Ahmad, the UMNO grassroots leader remained defiant, and later in a press conference warned Chinese Malaysians not to mimic American Jews, who not only
sought to control the country's economy, but also its politics.

Such arguments, that Chinese, being of foreign origin, do not deserve the same citizenship rights as indigenous peoples, or the comparison of Chinese with Jews, are not new to the region. Perhaps the earliest allusion to such a comparison came from King Vajiravudh of Thailand, who dubbed the Chinese as "Jews of the Orient" in an essay written in 1914. Writing under a pseudonym, the Thai king had questioned the political loyalty of the Chinese, given their penchant for economic gain.

The same comparison was rehearsed in Indonesia in the 1950s, through what was coined the "Chinese problem". The prevailing rhetoric then was that the Chinese were fickle and opportunistic, as evident in their having at different times cooperated with the Dutch, collaborated with the Japanese, or bore allegiance to their native China. The argument was that such a people whose political loyalty was questionable should not be accorded the same economic privileges as indigenous businessmen.

The result of such a current of thought was the infamous Presidential Decree No 10 of 1959, which banned retail trade by non-citizens in rural areas. In large part, this decree targeted ethnic Chinese in Indonesia, many of whom had not yet gotten Indonesian citizenship. The renowned Indonesian writer, Pramoedya Ananta Toer, spoke out against the decree in his book Hoakiau di Indonesia (recently translated into English as The Chinese in Indonesia), for which he was subsequently jailed.

At one point, Pram, as he was popularly called, went so far as to argue that everyone, including so-called indigenous Indonesians, were of immigrant origin in the long history of human settlement. I suppose this would have been his rebuttal to Ahmad's "Chinese were squatters" line had he still been alive.

But despite Pram's arguments, Indonesia became increasingly anti-Chinese under the Suharto regime, which spanned the 32-year period of 1966-1998. Branding Chinese as non-pribumi (non-indigenous), the state systematically and actively sought to erase the foreignness of this minority by banning Chinese language education and all public manifestations of Chinese culture.

Chinese Indonesians were also encouraged to adopt Indonesian-sounding names to accentuate the localization process. At the same time, this ethnic minority was largely confined to the economic realm and denied roles in government or the state infrastructure. In the Indonesian context, what were also disturbing are the spates of anti-Chinese violence that have marked the nation's history. One of the most notorious episodes in recent history was the riots of May 1998, during which Chinese women were sexually assaulted, and in some cases, killed.

Interestingly, since the 1998 episode and the resignation of Suharto, there have not been anti-Chinese riots of national significance in Indonesia. Recently, there have been anti-Chinese riots in West Kalimantan, but these may be attributed to the vicissitudes of regional politics. The prevailing political rhetoric seems to have shifted to some form of multiculturalism in Indonesia, such that discriminatory policies are repealed and politicians are habitually endorsing Chinese cultural events with their presence.

Although Malaysia has also experienced its share of ethnic violence, in the form of the May 13 Sino-Malay race riots in 1969, Chinese Malaysians have not had to endure ethnic discrimination on the same scale and intensity as Chinese Indonesians. Ethnic discrimination in the Malaysian context is indirect, inflicted through affirmative action policies that privilege the Malay-Muslim majority, often at the expense of not just the Chinese, but Indians as well.

Nevertheless, disgruntlement with the excesses of this form of discrimination led to a large swing of votes to the opposition parties during the March general election this year, where the ruling BN coalition was denied its usual two-thirds majority in parliament. It seems that the opposition alliance, also known as the Pakatan Rakyat, had struck a cord with voters through its multicultural agenda.

Even the UMNO leadership has come to recognize that blatant promotion of Ketuanan Melayu, or Malay supremacy, is not consonant with the sensibilities of a multiracial electorate in the current political climate. Someone no less than the Deputy Prime Minister, Najib Razak, has publicly apologized for Ahmad's remarks.

At the same time, other BN component parties, especially those which are Chinese-based, have been vociferous in their censure of Ahmad. One of these, Gerakan, has even threatened to leave the ruling coalition. Eventually, the UMNO leadership decided to suspend Ahmad for three years.

What is telling here is that statements, such as those made by Ahmad, that might have been glossed over not too long ago, are now considered definitely offensive. It seems that after the March election, Malaysia, like Indonesia, has begun to embrace a political culture that assumes genuine multiracialism as one of its key tenets.

Yet one has to be circumspect and not overly quick or optimistic in any prognosis of a greater multiracialism. Change that is too drastic may lead to a backlash. Whether Ahmad's remarks are the dying embers of a receding sensibility or the first ripples of new waves of racial tension remain to be seen.

Hui Yew-Foong is a fellow at the Institute of Southeast Asian Studies (ISEAS) in Singapore.

Republished with the permission of OpinionAsia
- www.opinionasia.org
Source:
http://www.atimes.com/atimes/Southeast_Asia/JJ02Ae01.html

Selasa, September 23, 2008

Kong Hu Cu Juga Alat Diplomasi

05/09/2008 09:27
Kong Hu Cu Juga Alat Diplomasi
A. Dahana

PADA artikel pekan silam penulis mengungkapkan bagaimana Cina dengan sangat cerdik menggunakan pengalaman masa lalu sebagai alat diplomasi.

Tokoh sejarah Cheng Ho yang tujuan misi tujuh pelayarannya masih menjadi perdebatan, telah digunakan untuk menunjukkan bahwa kebangkitan negara itu adalah bertujuan damai.

Sementara itu Cina masih tak kekurangan alat untuk tujuan itu. Kong Hu Cu (Konfusius) yang hidup pada sekitar abad ke-5 Sebelum Masehi dengan ajarannya tentang susunan masyarakat merupakan alat baru untuk itu.

Sebenarnya sejak akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 pamor dan nama Kong Hu Cu di daratan Cina sudah melorot. Itu disebabkan oleh pendapat umum, terutama pemuda, yang mengatakan bahwa keterpurukan Cina di bawah pemerintahan Dinasti Qing (1644-1911) adalah akibat dari pemerintah dan rakyat Cina yang tunduk pada pendiktean Konfusius.

Para penguasa Cina pada masa pemerintahan Mao bahkan menggunakan segi negatif dari ajaran Konfusias untuk menyerang lawan dalam kampanye politik untuk perebutan kekuasaan.

Liu Shoqi, Zhou Enlai, dan Marsekal Lin Biao pernah dituduh sebagai pengikut ajaran Konfusius. Sebaliknya di kalangan komunitas etnik Cina di luar Cina ajaran 'Guru Kong' berkembang pesat. Bahkan di beberapa negara Asia Tenggara, termasuk di Indonesia, ia telah menjadi agama dan diakui pemerintah sebagai salah satu agama resmi.

Perubahan politik dan ekonomi setelah Mao mangkat dan setelah Deng Xiaoping merebut tampuk kekuasaan Partai Komunis Cina (PKC) dan pemerintahan telah mengubah semuanya, termasuk pandangan terhadap Konfusius dan ajarannya. Kini segi positif dari ajaran Konfusius ditonjolkan.

Semangat bekerja keras dan berusaha, hemat, tunduk pada aturan senioritas, dan tata cara kehidupan yang konon menjadi tulang punggung keberhasilan etnik Cina di luar Cina kini diagungkan.

Kecenderungan ini terjadi pada era 1970-an ketika 'keajaiban Asia' yang ditandai dengan munculnya apa yang disebut sebagai Newly Industrialized Countries (NICs). Itulah negara-negara dalam wilayah 'huruf Kanji' seperti Taiwan, Hong Kong, Korea Selatan, dan Singapura yang pada dasawarsa 1970-an itu menunjukkan prestasi ekonomi yang sangat mengagumkan.

Dan semuanya itu dihubungkan dengan asumsi bahwa rakyat dan para penguasa negara-negara itu mengamalkan ajaran Konfusius. Di Cina kini telah didirikan suatu lembaga khusus yang melakukan penelitian atas kehidupan Kong Hu Cu dan ajarannya.

Para perancang kebijakan global dengan cerdik menggunakan popularitas Konfusius itu untuk tujuan politik luar negeri. Langkah itu diuntungkan dengan kecenderungan global munculnya animo sangat tinggi untuk belajar Bahasa Cina dan keinginan tahu untuk mengetahui lebih dalam tentang kebudayaan Cina.

Puluhan bahkan mungkin ratusan ribu pelajar asing dari seluruh dunia kini berhimpun di kampus-kampus universitas Cina untuk belajar bahasa dan kebudayaan Cina.

Sebagai hasilnya Dewan Bahasa Cina Internasional (Hanban) mendirikan Confucius Institute. Misi dari badan yang sepenuhnya ditunjang pemerintah itu adalah untuk mempopulerkan Bahasa Cina dan memberikan penerangan tentang kebudayaan Cina. Organisasi itu telah berdiri di beberapa universitas di Amerika dan Eropa. Ia bertugas juga untuk mengusahakan agar Bahasa Cina tampil bersanding bersama Bahasa Inggris sebagai bahasa asing kedua di dunia.

Dalam programnya, Hanban juga telah merekrut para lulusan universitas yang memiliki keahlian dalam pengajaran Bahasa Cina sebagai bahasa asing untuk memperkenalkan Bahasa Cina di universitas bahkan SMA. Di Indonesia kini ada puluhan guru berstatus sebagai relawan yang mengajar Bahasa Cina di berbagai sekolah menengah negeri dan swasta.

Kini puluhan universitas di Indonesia telah mengajukan diri menjadi tuan rumah Confucius Institute tersebut. Sekarang budaya Cina, kalimat populer seperti Ni Hao, Wo ai ni, dan Ni hen piaoliang tidak lagi barang atau kalimat asing di negeri ini. Huanying Huayu (selamat datang Bahasa Cina).

Penulis adalah Guru Besar Studi Cina, Universitas Indonesia

[L1]

Source: http://www.inilah.com/berita/celah/2008/09/05/48026/kong-hu-cu-juga-alat-diplomasi/

Rabu, September 17, 2008

Rumah Sakit-Rumah Sakit Yang Didirikan Oleh Masyarakat Tionghoa, Chususnya Tionghoa Ie Wan-Satu Kontribusi Masyarakat Tionghoa (Bagian 2)

Rumah Sakit-Rumah Sakit Yang Didirikan Oleh Masyarakat Tionghoa, Chususnya Tionghoa Ie Wan-Satu Kontribusi Masyarakat Tionghoa (Bagian 2)


Beberapa tahun yang lalu saya berkunjung di rumah sakit yang didirikan oleh masyarakat Tionghoa Surabaya, Rumah Sakit Adi Husada, dahulu namanya rumah sakit Tionghoa Ie Wan. Sebelumnya memang aku sudah sering berkunjung ke rumah sakit ini, karena banyak kolega-kolegaku yang dahulu aku sudah kenal waktu mahasiswa di universitas Airlangga. Juga aku berkesempatan bertemu dengan bapak Yap Eng Kie, aktivis dan sebagai salah satu pimpinan perkumpulan Tiong Hoa Ie Wan berpuluh-puluh tahun lamanya.


Aku ke sana diantar oleh saudara Kresno, Yao Tjin-Bing dan saudara Ir. Budi Listijo Suboko, sampai disana, tampak rumah sakit ini penuh dengan pasien dan pengantar, melihat dari pakean penderita dan parapengantar dapat disimpulkan bahwa penderitanya kebanyakan adalah dari rakyat biasa. Didepan rumah sakit banyak becak-becak menunggu penumpang dan tempat parkir mobil juga sudah penuh. Orang berjalan berjejal-jejal dari segala etnis, menurut tafsiran saya kebanyakan orang-orang yang dinamakan Pribumi. Ini mencerminkan kepercayaan masyarakat Surabaya terhadap rumah sakit ini, karena pengabdian pegawai Rumah sakit Tiong Hoa Ie Wan yang baik bagi masyarakat dan terutama rakyat yang kelas sosialnya rendah; harganya terjangkau buat mereka. Ini menunjukkan pula bahwa gedung dari rumah sakit ini sudah kekecilan, tidak dapat memenuhi bertambah banyaknya penderita yang berdatangan setiap hari. Kalau kita lihat letaknya rumah sakit yang sentral sukar untuk mengadakan pengluasan didaerah yang penuh rumah-rumah penduduk dan kantor-kantor perusahaan, daerah yang betul-betul sudah sesak. Saya rasa juga sulitnya keuangan untuk membeli rumah-rumah disekitar rumah sakit ini untuk pengluasan, mengingat daerah ini adalah daerah perdagangan, harganya sangat tinggi. Karena banyaknya penderita-pnderita yang minta pertolongan di kota Surabaya, maka rumah sakit Tionghoa Ie Wan diperluas dengan dibangunnya lagi di jalan Kapasari, dimana Tempo Doeloe gedung dari Tiong Hoa Hwee Kuan. Sayang sekali berhubung waktu kunjungan saya, yang singkat, sehingga tidak sempat lagi bagi saya untuk berkunjung ke sana.


Kami berjalan dan naik ke tingkat satu ke kantor penerimaan tamu dan disini kami ditrima dengan ramah oleh Ketua perkumpulan Dr. Kesuma Halim (Kuo Sao Lim) dan direkturnya Dr Eddy Listiyo serta stafnya, kedua dokter saya sudah mengenalnya banyak tahun sebelumnya, terutama Dr. Kuo yang juga mendapatkan pendidikan kedokteran di Universitas Airlangga seperti aku, Cuma beliau lebih muda dari aku.


Setiap orang Tionghoa di Surabaya dan demikian aku yang lahir dan dibesarkan di Petjinan dari kota ini, siapa yang tidak kenal dengan rumah sakit ini yang didirikan atas inisiatif dokter-dokter Tionghoa didikan Belanda dan masyarakat Tionghoa Suarbaya. Rumah sakit rumah sakit seperti ini pada periode sebelum perang dunia kedua tersebar luas di kota-kota besar dan bahkan juga kota-kota yang sedang seperti Malang ada rumah sakit Tionghoa Ie Wan, sekarang namanya rumah sakit Panti Nirmala, diSurakarta rumah sakit Dr. Oen yang sekarang berkembang menjadi tiga rumah sakit, diantaranya dua rumah sakit yang besar dan modern. DiBatavia dahulu ada dua rumah sakit yang besar di dirikan oleh masyarakt Tionghoa seperti Rumah Sakit Yang Seng Ie yang didirikan oleh Dr. Kwa Tjwan Sioe dan Rumah Sakit Sin Ming Hui yang dipimpin oleh Dr. Loe Ping Kian. Demikian juga rumah sakit yang didirikan oleh masyarakat Tionghoa diSemarang yang namanya rumah sakit Tionghoa Ie Wan, sekarang rumh sakit Telogo Rejo, dan masih adalagi diBandung. Belum saya tulis rumah sakit-rumah sakit yang kecil-kecil yang mengobati chusus seperti misalnya rumah sakit kebidanan dan poliklinik-poliklinik. DiJakarta, didaerah Polonia dulu ada poliklinik yang didirikan oleh Chung Hua Chung Hui dimana saya juga ikut membantunya dan mencarikan dokternya, adalah teman saya yang saya lupa namanya.