Mengenai Saya

Facebook Badge

Darwin Tantiono's Facebook profile

Sabtu, November 22, 2008

Komik ”Put On” Diterbitkan Lagi Komik, Sejarah, dan Fenomena Sosial

Komik ”Put On” Diterbitkan Lagi
Komik, Sejarah, dan Fenomena Sosial



Oleh
Sihar Ramses Simatupang


Jakarta – Dialog di atas adalah dialog sehari-hari Put On yang disajikan lewat bahasa populer pada masa itu. Komik jenaka ini pertama kali terbit pada 7 Februari 1931 di Harian Sin Po, lantas diberedel pemerintah Jepang pada tahun 1942 hingga 1946.

Setelah terbit lagi di Majalah Pantjawarna, komik strip pertama di Indonesia ini kemudian berpindah ke Harian Warta Bakti hingga media ini ”tenggelam” bersama dengan ”ombak” politik ideologi Indonesia tahun 1965. Put On pun ”menghilang”.

Diskusi dan peluncuran komik Put On bertajuk ”100 Tahun Kho Wan Gie, sang Pelopor Komik Strip Indonesia” di World Trade Center Mangga Dua, Jakarta Utara, Sabtu (22/11), seakan kembali membuka fenomena komik Indonesia dari masa ke masa. Put On, tokoh rekaan Kho Wan Gie (1908-1983), menjadi tokoh dari komik humor perdana di Indonesia.

Bagaimana pun, jejak komik Indonesia ikut mewarnai dinamika kebudayaan tempo dulu. Sebagaimana riwayat dan sejarah seni kesusastraan juga teater yang memperlihatkan pengaruh kebudayaan, komik dapat membagikan ”separuh sisi” realitas sosial dan politik di masa itu.

Menurut Wahyu Wibisana, penyunting komik Put On edisi ”sekarang”, yang juga jurnalis SH, dialog komik dapat memperlihatkan latar budaya pengkaryanya sekaligus sejarah masyarakat di saat komik itu lahir. Komikus Kho Wan Gie menghadirkan si Put On, warga Indonesia keturunan Tionghoa yang bukan saja bersahaja namun juga lucu.
Put On adalah pria bujangan ”keturunan” yang merekam situasi masyarakat Indonesia dari golongan Tionghoa kelas menengah kala menghadapi situasi Kota Jakarta, termasuk di saat banjir dan saat antre minyak tanah.

Put On juga muncul sebagai tokoh patriotik, karena dia menjadi sukarelawan untuk pembebasan Irian Barat sekaligus menyukseskan program pemerintah menanggulangi masalah pangan. Tokoh Put On juga ikut memeriahkan acara peringatan kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus.

Komik Indonesia masih ditanggapi pembaca muda secara antusias. Peluncuran Put On seperti membuka lagi mata rantai komik Indonesia yang tenggelam dalam hiruk-pikuk dunia perkomikan asing yang belakangan membanjiri dunia bacaan remaja. Tengoklah komik karya Djair (Warni), Taguan Hardjo, dan Ganes Th yang tak hanya hadir dalam kenangan publik, namun sampai sekarang juga terus diburu.

Hingga kini, masih banyak yang peduli pada komikus Taguan Harjo, Djair, Ganes Th, Jan Mintaraga dan Tatang S. Teringat momen peluncuran yang digelar oleh komikus Taguan Harjo semasa beliau masih hidup. Di Widjojo Center (British Council) Jakarta, beberapa tahun silam, SH sempat berbincang dengan mendiang komikus Taguan (1935-2002) yang mengangkat kisah para pendekar berlatar budaya Melayu atau Andalas (Sumatera) tempo dulu itu. ”Saya kerap mengangkat sejarah di Sumatera melalui komik saya itu,” ujar Taguan.

Generasi yang sempat tumbuh remaja di tahun 1980-an, mungkin juga dapat mengingat komik Petruk-Gareng karya Tatang S. Komik itu mengisahkan hidup di Desa Tumaritis, desa yang merupakan ”plesetan” dari sebuah lokasi tak jauh dari pinggiran Kota Jakarta. Petruk-Gareng dikisahkan kerap hilir-mudik di ”Gultom Agency”--dan nama agen komik ini pun sempat disebut di dalam ceritanya. Kedua tokoh punakawan pengisi goro-goro dalam wayang Jawa ini, diceritakan hidup di tengah masyarakat urban Jakarta, di antara kotornya Kali Ciliwung hingga reyotnya gubuk di gang-gang kota.

Pada era 1980-an, komik semacam ini menjamur dan dinikmati masyarakat kota sebagai bacaan pop kaum urban. Sedikit ”nakal” memang, namun dari kisah itu terefleksi kehidupan masyarakat di masa itu, dari soal utang yang membelit, hingga dapur di rumah yang tidak ngebul!

Masih Diminati

Komik memang lebih renyah karena si penikmat mendapatkan penguatan imajinasi lewat pengamatan mata. Komik nyatanya tak lepas dari fase sosial-politik Indonesia. Sejak masa pemerintahan Soekarno, Soeharto, hingga era reformasi, komik rentan dipengaruhi izin, pelarangan, dan kebebasan dari setiap masa.

Belakangan, faktor yang cukup mengurangi gerak perkonomian Indonesia tampaknya bukan (cuma) soal politik–di tengah pembatasan UU Pornografi–namun juga keengganan penerbit, keterbukaan toko buku, hingga ambisi negara besar penghasil komik untuk ”merajai” pasar komik Indonesia. Fenomena yang tak paralel dengan gairah pembaca komik Indonesia yang saat ini sebenarnya masih memburu karya komikus dalam negeri, baik produk masa lalu maupun masa kini.

Di pertengahan tahun 2007, pengamat komik Indonesia Hikmat Dharmawan tegas mengatakan bahwa komik (dan kreativitas komikus) Indonesia tak mati. Selama ini yang mati justru produsen dan distributor komik. Pada pameran komik di tahun 2007 yang digelar di Erasmus Huis, Cahya--didampingi Beng, Tita, dan Anto Motulz, melontarkan pendapat bahwa komik Indonesia selama ini kurang mendapat perhatian dari penerbitan dan media massa.

Padahal respons pembaca selama ini cukup baik. Buktinya, komik Indonesia terbaru masih terus ”berlahiran”. Sekali-sekali cobalah mampir ke depan Bioskop 21 Cinepleks di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Tengoklah juga gelar buku dadakan di setiap acara kebudayaan di kota mana pun. Tetap akan terlihat tingkah laku para komikus Indonesia, secara individu maupun komunal yang menggelar, menjual, atau memberikan komik pada khalayak pembaca orang per orang. Tak jarang juga kita temui para pemburu komik Indonesia. Jadi peminatnya pun cukup banyak.

Kalau bicara soal kecanggihan gambar, tengoklah proses komikus Prancis, Herge yang terus berproses. Mencanggihkan sosok Tintin dari masa ke masa, mulai dari yang rambutnya ”selembar” hingga tampil ”berjambul” penuh. Begitu pun figur anjing yang cerewet, yang kemudian menjadi pendiam sejak munculnya figur lain, Si Kapten Haddock yang pengeluh ”seribu topan badai” itu.

Percayalah, komikus Indonesia pun patut diberi kesempatan untuk mengembangkan kreativitas mereka. Berikan mereka kesempatan untuk mengembangkan karakter tokoh komik dan terbitkan karyanya... n


Source: http://www.sinarharapan.co.id/berita/0811/22/sh03.html

Jumat, November 14, 2008

ORANG BODOH VS ORANG PINTAR

cobalah anda renungkan :

ORANG BODOH VS ORANG PINTAR

Orang bodoh sulit dapat kerja, akhirnya berbisnis..
Agar bisnisnya berhasil, tentu dia harus rekrut orang pintar.
Walhasil boss-nya orang pintar adalah orang bodoh.
Orang bodoh sering melakukan kesalahan,

maka dia rekrut orang pintar yang
tidak pernah salah untuk memperbaiki yang salah.
Walhasil orang bodoh memerintahkan orang pintar untuk keperluan orang bodoh.

Orang pintar belajar untuk mendapatkan ijazah untuk selanjutnya
mencari kerja. Orang bodoh berpikir secepatnya mendapatkan uang untuk
membayari proposal yang diajukan orang pintar.

Orang bodoh tidak bisa membuat teks pidato,

maka dia menyuruh orang pintar untuk membuatnya.

Orang bodoh kayaknya susah untuk lulus sekolah hukum (SH).

oleh karena itu orang bodoh memerintahkan orang pintar

untuk membuat undang-undangnya orang bodoh.

Orang bodoh biasanya jago cuap-cuap jual omongan,

sementara itu orang pintar percaya.

Tapi selanjutnya orang pintar menyesal karena telah mempercayai orang bodoh.

Tapi toh saat itu orang bodoh sudah ada di atas.

Orang bodoh berpikir pendek untuk memutuskan sesuatu yang dipikirkan
panjang-panjang oleh orang pintar. Walhasil orang orang pintar menjadi
staf-nya orang bodoh.

Saat bisnis orang bodoh mengalami kelesuan,

dia PHK orang-orang pintar yang berkerja.

Tapi orang-orang pintar DEMO. Walhasil orang-orang pintar
'meratap-ratap' kepada orang bodoh agar tetap diberikan pekerjaan.

Tapi saat bisnis orang bodoh maju, orang pinter akan menghabiskan waktu
untuk bekerja keras dengan hati senang, sementara orang bodoh menghabiskan
waktu untuk bersenang-senang dengan keluarganya.

Mata orang bodoh selalu mencari apa yang bisa di jadikan duit.

Mata orang pintar selalu mencari kolom lowongan perkerjaan.

Bill Gate, Dell, Henry Ford,

Thomas Alfa Edison, Tommy Suharto, Liem Siu Liong

Adalah orang-orang yang tidak pernah dapat S1, tapi kemudian menjadi kaya raya.

Ribuan orang-orang pintar bekerja untuk mereka.

Dan puluhan ribu jiwa keluarga orang pintar bergantung pada orang bodoh.


PERTANYAAN :
Mendingan jadi orang pinter atau orang bodoh??
Pinteran mana antara orang pinter atau orang bodoh ???
Mana yang lebih mulia antara orang pinter atau orang bodoh??
Mana yang lebih susah, orang pinter atau orang bodoh??



KESIMPULAN:
Jangan lama-lama jadi orang pinter,
lama-lama tidak sadar bahwa dirinya telah dibodohi oleh orang bodoh.

Jadilah orang bodoh yang pinter dari pada jadi orang pinter yang bodoh.

Kata kunci nya adalah 'resiko' dan 'berusaha',

karena orang bodoh perpikir pendek maka dia bilang resikonya kecil, selanjutnya dia berusaha agar resiko betul-betul kecil.
Orang pinter perpikir panjang maka dia bilang resikonya besar untuk selanjutnya dia tidak akan berusaha mengambil resiko tersebut.

Dan mengabdi pada orang bodoh.