Mengenai Saya

Facebook Badge

Darwin Tantiono's Facebook profile

Minggu, Maret 16, 2008

Ekumenisme dan Multikulturalisme

Ekumenisme dan Multikulturalisme

K Bertens

Ekumenisme dan multikulturalisme menunjukkan dua tendensi pemikiran yang agak bertentangan. Ekumenisme mencari kesatuan, sedangkan multikulturalisme menekankan diversitas atau keragaman. Namun, jika kedua pengertian ini dianalisis dengan sedikit teliti, pertentangan tampak tidak besar.

Mari kita mulai dengan ekumenisme. Dengan istilah ini umumnya dimaksudkan usaha untuk memperoleh kembali kesatuan antara umat beriman Kristen. Tidak dapat diragukan, keinginan Yesus Kristus sendiri adalah kesatuan erat antara para muridNya, bahkan kesatuan paling erat yang dapat dibayangkan: "supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau" (Yoh.17:21). Namun, sepanjang sejarah umat Kristen semakin terpecah-belah ke dalam kelompok dan gereja. Sementara itu semua orang Kristen mengakui percaya akan "gereja yang satu".

Timbulnya gerakan "oikumene" dalam abad ke-20 patut dinilai sebagai peristiwa bersejarah. Akan tetapi, mencari kembali kesatuan antara gereja-gereja Kristen merupakan usaha yang ternyata tidak mudah. Kesulitan utama adalah keyakinan setiap gereja bahwa merekalah gereja yang benar. Keyakinan ini tentu ada logikanya juga. Seandainya gereja tertentu tidak yakin lagi tentang kebenarannya, tapi semakin cenderung berpikir bahwa gereja lain memiliki kebenaran sepenuhnya, mereka tidak lagi mempunyai alasan untuk mempertahankan statusnya sebagai gereja tersendiri. Jika gereja-gereja Kristen mencari kesatuan dengan tulus ikhlas, mereka sebenarnya bersedia melepaskan pretensi bahwa hanya merekalah satu-satunya gereja yang benar.

Mencari Kesatuan

Terutama gereja Katolik peka untuk logika itu. Mereka dengan senang hati mengambil bagian dalam gerakan "oikumene", tapi serentak juga tidak ingin melepaskan pretensi bahwa mereka adalah gereja yang benar. Pada 10 Juli 2007, Vatikan melalui Kongregasi Ajaran Iman mengeluarkan lagi sebuah dokumen yang menegaskan bahwa hanya gereja Katolik boleh dianggap sebagai gereja yang benar dan "bahwa kelompok-kelompok Kristen lainnya sebenarnya tidak boleh disebut gereja, tapi hanyalah komunitas orang Kristen". Dokumen ini menimbulkan kegelisahan yang sebetulnya tidak perlu, untuk banyak orang Kristen yang aktif dalam gerakan "oikumene", termasuk juga orang Katolik.

Bagaimana jalan keluar untuk kesulitan ini? Mungkin jalan keluar paling baik adalah yang pernah ditunjuk oleh pastor Prancis, Paul Couturier. Ia menandaskan, tujuan ekumenisme adalah mencari kesatuan antarumat Kristiani sebagaimana dikehendaki oleh Yesus Kristus dan dengan cara yang dipilih olehNya. Semua gereja Kristen pasti dapat menyetujui tujuan itu. Dan jika ada sesuatu dalam dirinya yang belum sesuai dengan kehendak Yesus itu, setiap gereja pasti bersedia membenahi diri.

Kadang-kadang istilah "ekumenisme" dipakai dalam arti lebih luas lagi, hingga meliputi kerukunan antaragama pada umumnya. Supaya tidak terjadi kerancuan pengertian, sebaiknya kita mencari istilah lain untuk gerakan yang bertujuan demikian. Usaha untuk menciptakan suasana persaudaraan antara semua agama sangat diperlukan. Tentu saja, di sini juga ada kesulitan untuk mengakui dengan tulus kesetaraan martabat semua agama, sebab setiap pemeluk agama yakin bahwa hanya agamanya sendiri yang benar.

Apakah ada juga jalan keluar dari kesulitan ini? Apakah di sini juga ada landasan berpijak yang dapat diterima oleh semua? Barangkali ada juga, setidak-tidaknya untuk agama-agama monoteistis. Agama-agama ini mengakui Allah yang Esa. Allah itu satu dan sama untuk semua. Mereka akan mengakui bahwa hanya Allah memiliki kebenaran sepenuhnya. Kebenaran agama kita masing-masing hanya punya arti sejauh sesuai dengan kebenaran Allah. Oleh karena itu, setiap agama harus bersedia untuk menguji kebenaran agamanya dengan kebenaran Allah. Jika semua agama mempunyai kesadaran ini, pasti menjadi lebih mudah untuk menciptakan iklim persaudaraan dan toleransi antar agama.

Banyak Kebudayaan

Berbeda dengan ekumenisme, multikulturalisme menaruh perhatiannya kepada diversitas. Dalam rangka filsafat politik dewasa ini, sering dibicarakan tentang ajaran ini. Kalau begitu, dengan multikulturalisme tidak saja dimaksudkan suatu keadaan faktual, yaitu bahwa dalam setiap masyarakat besar terdapat kebudayaan-kebudayaan yang berbeda. Maksudnya bersifat normatif juga dan hal itu aspek yang paling penting. Keberadaan dan hak semua kebudayaan harus diakui dalam suatu masyarakat. Hak-hak kultural termasuk juga hak asasi manusia (HAM). Misalnya, kelompok etnis minoritas dalam suatu masyarakat mempunyai hak untuk memakai bahasa mereka sendiri, mengikuti adat-istiadat mereka, merayakan pesta yang khusus bagi mereka, dan sebagainya.

Dapat dimengerti bahwa multikulturalisme terutama berkembang sebagai refleksi atas keadaan baru di banyak negara barat yang kini mengalami perubahan cukup besar akibat migrasi besar-besaran dari luar (Eropa Timur, Asia, Afrika). Dari sudut kebudayaan, mereka tidak homogen lagi. Multikulturalisme mencoba memikirkan konsekuensi etis-politikya. Jika multikulturalisme dapat meyakinkan para penyelenggara negara (pemerintah, partai-partai politik, dan lain-lain), semua syarat terpenuhi untuk menciptakan suasana kemasyarakatan penuh toleransi dan kerukunan.

Walaupun multikulturalisme pada umumnya harus dinilai bagus sekali dalam mengakui hak setiap minoritas etnis untuk mempertahankan identitas kulturalnya, di sini juga bisa muncul kesulitan. Apakah tidak ada batas tertentu untuk hak-hak kultural ini? Apakah hak-hak kultural dapat membenarkan apa saja yang menjadi ciri khas sebuah kebudayaan? Tidakkah mungkin suatu unsur budaya harus ditolak karena dianggap tidak etis? Melindungi hak-hak individual merupakan batas bagi pengakuan hak-hak kultural.

Dalam kehidupan yang nyata bisa berlangsung banyak kasus yang lebih realistis, tapi barangkali tidak akan dinilai oleh semua pihak dengan cara yang sama. Prinsip dasarnya harus diterima oleh semua: tidak pernah hak-hak individual boleh dikorbankan kepada hak-hak kultural.

Setelah membandingkan dengan singkat ekumenisme dan multikulturalisme, mungkin kita sudah siap untuk merumuskan kesimpulan. Menurut hakikatnya, ekumenisme mencari kesatuan. Namun, dalam hal ini keragaman pun tidak pernah dapat dihindarkan, karena selalu mungkin banyak interpretasi tentang satu kebenaran bersama yang dituju itu. Sebaliknya, multikulturalisme menerima tanpa ragu-ragu keragaman dalam masyarakat. Namun, dalam hal ini kesatuan fundamental tidak boleh diabaikan, karena dalam situasi multikultural pun kita selalu harus menghormati hak-hak individual yang sama dan mengakuinya sebagai bagian terpenting dari semua HAM.

Penulis adalah anggota staf Pusat Pengembangan Etika Unika Atma Jaya, Jakarta

Source: SUARA PEMBARUAN DAILY

Sabtu, Maret 01, 2008

Obama dan Anomali Faktor SARA

Obama dan Anomali Faktor SARA

Oleh: Christianto Wibisono

Di tengah gelombang idolisasi Obama, di AS tetap saja muncul faktor SARA yang mulai mencuat. Pada siaran CNN Kamis (21/2) pagi atau Rabu malam waktu AS, Joe Cafferty menyatakan kepada Wolf Blitzer sebagai berikut: "Wolf , every candidates are counting and embracing block voting, black, women, Asian, Hispanics, but there are majority groups which had been left out. And that is the white male group, yes Wolf men like you and me, have been left out in this election while we are the largest block vote in the US."

Fenomena Obama berdampak pada percaturan politik domestik di berbagai negara termasuk Indonesia. Ketua Golkar Muladi menyatakan bahwa meskipun Golkar menang 70 persen lebih baik tetap mempertahankan duet SBY - JK karena faktor Jawa - luar Jawa. Pernyataan itu dikritik oleh Akbar Tandjung yang ingin come back jadi calon presiden (capres) bila Golkar menang dalam Pemilu 2009. Jika selama ini Wapres Jusuf Kalla agak malu-malu kucing dan pasrah menerima nasib bahwa Indonesia belum bisa menerima suku luar Jawa sebagai Presiden, maka terobosan Obama bisa mencuci dogma tersebut. Ketika Habibie menjadi presiden dogma itu sudah pecah di luar kekuasaan elite Indonesia. Krisis moneter menggusur Soeharto, yang merasa ditinggalkan oleh Habibie. Sampai akhir hayatnya Soeharto dan keluarga tidak bisa memaafkan Habibie.

Pada suatu curhat dengan Soegeng Saryadi setelah lengser, Soeharto malah bilang Habibie itu kualat. Soeharto punya 6 wapres: 3 Jawa, 1 Sunda, 1 Sulawesi, 1 Batak,

Setelah Reformasi, naiknya Gus Dur dan Mega melalui manuver Poros Tengah tidak langgeng dan Gus Dur turun diganti duet Mega Hamzah yang kalah pada Pemilu 2004, SBY - JK kembali ke formula 1945, Jawa - luar Jawa. Bila di kalangan masyarakat yang sebelum reformasi disebut pribumi saja masih ada pencadangan untuk mayoritas, maka tentu masih jauh bagi Indonesia untuk mencapai terobosan keturunan Tionghoa menjadi cawapres atau capres. Apalagi kelompok masyarakat ini praktis baru mulai bergairah dan diberikan keleluasaan berpolitik setelah Reformasi. Pada periode Orde Baru, tokoh keturunan Tionghoa harus rela hanya menjadi adviser atau pelaku di belakang layar. Meskipun pengaruh dan dampak politik Harry Tjan dan Wanandi bersaudara barangkali malah lebih besar dari Menteri Oei Tjoe Tat.


Oposisi

Di era rezim manunggal Soeharto tidak ada oposisi atau alternatif, karena itu baik elite keturunan Tionghoa maupun elite mayoritas akan digusur bila berani menjadi oposisi. Dua generasi elite politik terhadang kariernya. Di antara yang tergusur adalah rekan-rekan seperjuangan yang berada di garis depan pada penggulingan Bung Karno 1966. Mertua SBY, Letjen Sarwo Edie Wibowo, adalah korban marginalisasi elite yang dianggap potensial bisa menyaingi dirinya. Karena itu Soeharto tidak pernah mau memberikan posisi strategis atau tingkat menteri kepada Sarwo Edie.

Letjen Dharsono dipecat dari jabatan Sekjen ASEAN pada 1978 karena menuntut Soeharto turun setelah dua masa jabatan. Pangkostrad Kemal Idris dan Pangdam VI Siliwangi, Ibrahim Adjie, juga didubeskan karena kritis terhadap Soeharto. Generasi politisi baik jenderal maupun sipil yang umurnya sekarang 60-an, kehilangan peluang untuk menduduki jabatan teras. Generasi Cak Nur, Amien Rais, Nono Makarim, Goenawan Mohamad, dan Marsilam Simanjuntak kehilangan peluang emas untuk memimpin bangsa pada usia '50-an, karena singgasana dimonopoli sampai ke eselon satu oleh "cloning" Soeharto.

Pada masyarakat keturunan Tionghoa juga terjadi kemandekan generasi karena yang berperanan hanya kelompok CSIS dan kemudian konglomerat Yayasan Prasetiya Mulya.

Kwik Kian Gie terjun ke politik praktis akhir 1980-an. Terjadi vakum kaderisasi generasi muda keturunan Tionghoa yang sadar politik. Kini publik lebih mengenal para putra mahkota konglomerat usia 40-an yang melanjutkan imperium bisnis ayah mereka. Sebagian memang mulai terjun ke politik seperti menantu Ciputra dan putra pemilik Bank Mashill.

Ketika menghadiri pernikahan putri Prayogo Pangestu di Ritz Carlton Singapura pada 16 Februari saya menyaksikan generasi kedua konglomerat telah mendampingi para pendiri imperium bisnis Indonesia Inc yang teoretis mestinya akseptabel secara nasional. Tapi, warisan permasalahan masa lalu tetap mengganjal. Konglomerat itu aset nasional atau liabilities karena isu BLBI dan derivatnya yang diwarnai SARA.

Faisal Basri menulis secara jernih bahwa obligasi rekap bank BUMN justru menjadi beban terbesar bagi Pemerintah RI. Indonesia Inc baik konglomerat maupun BUMN telah mengalami set back dan sekarang sebagian sudah pulih bahkan tumbuh. Merebaknya Sovereign Wealth Fund (SWF) RRT, Timur Tengah, dan Singapura dalam percaturan ekonomi global menggugah Miranda Goeltom untuk membentuk SWF Indonesia. Tapi, kemelut status tersangka Gubernur BI tentu menjadi kendala dalam mewujudkan ide SWF.


Kepedulian Sosial

Saya baru saja membaca buku Cokin yang diedit oleh Ivan Wibowo, yang memuat bunga rampai karangan dari 20 orang yang membentuk Jaringan Tionghoa Muda (JTM). Mereka berasal dari masyarakat kelas menengah ke bawah, tapi mampu menerobos dengan aktivitas dan kreativitas intelektual, serta kepedulian sosial yang energik dan termasuk dalam mainstream penggerak reformasi.

Saya tidak mengenal mereka secara pribadi. Tapi, Ester Indahyani Yusuf saya kenal sebagai aktivis perempuan yang luar biasa, dan berkaliber Hua Mulan dalam legenda Tiongkok. Ivan Wibowo, editor buku, saya lihat sebagai moderator acara peluncuran buku Ester pada 13 Mei 2007. Ivan menulis tentang Protokol Keselamatan Masyarakat Tionghoa akibat rezim diskriminatif Orde Baru dan buku ini akan dibedah di CSIS oleh Harry Tjan sekitar Maret mendatang.

Di balik gemerlapan perayaan Imlek Matakin di Balai Sidang dan Capgomeh Forum Bersama Indonesia Tionghoa di Pekan Raya Jakarta, di Pontianak barongsai dilarang atas desakan kelompok masyarakat yang mengklaim mewakili suku dan agama tertentu. Andreas Harsono menulis di blog-nya agar insiden itu jangan disembunyikan, tapi harus dikaji untuk terus memantapkan ketegasan kebijakan non-diskriminatif agar tindak rasisme tidak kambuh.

Tajuk Rencana Kompas Sabtu (23/2) berjudul Merayakan Cap Go Meh, tersirat mengulas larangan barongsai di Pontianak tersebut. Di tengah gelombang pasang reformasi kita harus selalu sadar dan berjiwa negarawan untuk berani mengatasi dan bukan sekadar menyembunyikan pahitnya realitas konflik.

Menghadiri diskusi INTI Jakarta dan Harian Suara Pembaruan, Sabtu (23/2) yang membahas "Sikap dan Partisipasi Kaum Muda Dalam Menentukan Hari Depan Bangsa dan Negara," saya optimistis bahwa generasi elite keturunan Tionghoa dan mayoritas masih bertekad untuk menutup lembaran usang politik SARA secara tuntas. Ketua INTI Jakarta, Benny Setiono, mengorbitkan tokoh muda Yudi Latief (Paramadina), Budiman Sudjatmiko (PDI-P) , Indria Piliang (CSIS), Mahfuds Sidiq (PKS), Ulung Rusman, Nurul Arifin, Hanif Dhakiri, dan Arie Sudjito sebagai panelis. Sedang Hartono Sosrodjojo serta Faizal Reza sebagai moderator.

Masa depan Indonesia akan sangat bergantung pada daya tahan mempertahankan kebijaksanaan yang arif berlandaskan merito- krasi ketimbang terus-menerus mengidap sindrom diskriminasi.

Penulis adalah pengamat masalah nasional dan internasional

Source: SUARA PEMBARUAN DAILY

RUMAH KENANGAN 13-15 MEI 1998 (RKM 98)

RUMAH KENANGAN 13-15 MEI 1998
(RKM 98)
I. Latar Belakang
Tahun ini kita akan memperingati 10 tahun Tragedi Kemanusiaan 13-15 Mei 1998. Ada beberapa hal penting terkait pendataan peristiwa ini:
  1. Banyak data, fakta, benda-benda bersejarah hilang atau sulit ditemukan atau diakses masyarakat;
  2. Keberadaan data, fakta, benda-benda bersejarah, saksi (korban) dan pelaku sejarah yang menyebar di banyak tempat sehingga menyulitkan proses pembelajaran;
  3. Banyak orang yang sudah melupakan peristiwa ini tanpa memetik hikmah penting untuk kehidupan berbangsa;
  4. Banyak prasangka antar kelompok etnis/agama karena tidak mendapat data yang utuh tentang Tragedi Kemanusiaan 13-15 Mei 1998.
Kami melihat bahwa pendataan selama ini pun bersifat parsial dan hanya untuk kepentingan terbatas. Misal pendataan hanya untuk studi kepustakaan, penelitian bidang tertentu atau penyelidikan pro justisia. Padahal ada banyak sekali proses sosial yang amat penting dan positif untuk memaknai peristiwa 13-15 Mei 1998 secara utuh seperti:
a. Fenomena solidaritas dan empati yang terbangun saat kerusuhan berlangsung maupun setelahnya;
b. Lahirnya banyak karya dan momentum seperti: benda-benda seni, puisi, lagu, buku, majalah, koran, organisasi sosial/politik, gerakan perempuan dan etnis, forum dialog antar warga/etnis/agama dan sebagainya;
c. Munculnya kesadaran banyak orang baik tua maupun muda, tidak terbatas di Jakarta tapi juga di daerah-daerah dan di dunia internasional untuk secara aktif bersuara dan memberi sumbangsih untuk bangsa dan masalah sosial di Indonesia;
d. Banyaknya perubahan kebijakan, peraturan maupun lembaga Negara yang khusus menangani masalah penghargaan HAM khususnya dalam bidang pluralisme.
Kita akan amat diperkaya dengan pelajaran sejarah Tragedi Kemanusiaan ini. Langkah pertama adalah mengelolanya dengan bijaksana, apik, sistematis dan holistik.
II. Tujuan
Adapun tujuan pembuatan Rumah Kenangan ini adalah:
  1. Ada kesepakatan bersama untuk tidak membiarkan terulang lagi peristiwa seperti Tragedi Kemanusiaan 13-15 Mei 1998
  2. Ada pusat data dan karya untuk studi tentang peristiwa Tragedi Kemanusiaan 13-15 Mei 1998;
  3. Menjadi tempat pertemuan dan penggodokan ide-ide dan karya untuk memberdayakan korban Tragedi Kemanusiaan 13-15 Mei 1998 dan pembangunan bangsa.
  4. Ada pemahaman dan pemaknaan yang tepat untuk peristiwa Tragedi Kemanusiaan 13-15 Mei 1998;
  5. Ada kesadaran masyarakat tentang pentingnya solidaritas, empati terhadap kelompok yang berbeda.
  6. Ada tekat dan semangat bersama dari tokoh, kelompok masyarakat atau organisasi yang peduli masalah ekonomi, sosial, seni budaya dan penghargaan pada sesama manusia untuk membangun bangsa.
III. Kegiatan
Adapun rangkaian kegiatan untuk terwujudnya Rumah Kenangan 13-15 Mei 1998 ini adalah sebagai berikut:
1. Pengumpulan data, fakta, benda-benda bersejarah terkait peristiwa Tragedi Kemanusiaan 13-15 Mei 1998;
2. Pencarian tempat atau bangunan untuk dibangun sebagai Rumah Kenangan 13-15 Mei 1998;
3. Pengkonsolidasian masyarakat korban, tokoh masyarakat, organisasi dan lembaga Negara yang peduli pada masalah Tragedi Kemanusiaan 13-15 Mei 1998;
4. Pembentukan kepengurusan (badan hukum) untuk mengelola Rumah Kenangan 13-15 Mei 1998;
5. Peresmian Rumah Kenangan 13-15 Mei 1998 oleh Negara.
IV. Waktu
Adapun rencana pelaksanaan rangkaian kegiatan itu adalah pada:
1. Pengumpulan data, fakta, benda-benda bersejarah terkait peristiwa Tragedi Kemanusiaan 13-15 Mei 1998: Dimulai pada tanggal 5 Maret 2008
2. Pencarian tempat atau bangunan untuk dibangun sebagai Rumah Kenangan 13-15 Mei 1998: dimulai pada tanggal 5 Maret 2008 sampai dengan 10 April 2008
3. Pengkonsolidasian masyarakat korban, tokoh masyarakat, organisasi dan lembaga Negara yang peduli pada masalah Tragedi Kemanusiaan 13-15 Mei 1998: Di mulai pada tanggal 5 Maret 2008 sampai 10 Mei 2008
4. Pembentukan kepengurusan (badan hukum) untuk mengelola Rumah Kenangan 13-15 Mei 1998: Dimulai 5 Maret 2008 sampai dengan 10 April 2008
5. Peresmian Rumah Kenangan 13-15 Mei 1998 oleh Negara: 14 Mei 2008
V. Tempat
Lokasi Rumah Kenangan ini direncanakan di Jakarta, di lokasi yang mengandung nilai historis dan strategis (kemungkinan di daerah Cikini, Menteng, Klender atau Kota). Idealnya adalah bangunan yang dikhususkan Negara bagi peringatan Tragedi Kemanusiaan 13-15 Mei 1998.
VI. Pelaksana
Adapun pelaksana kegiatan ini adalah orang, kelompok, organisasi yang peduli pada masalah Tragedi Kemanusiaan 13-15 Mei 1998 dengan dikoordinir oleh Negara (Kementerian Pemberdayaan Perempuan, Kementerian hukum dan HAM, Kementerian Sosial)
VII. Anggaran:
Anggaran kegiatan ini direncanakan berasal dari Negara dan sumbangan masyarakat.
VIII. Penutup
Pembuatan Rumah Kenangan 13-15 Mei 1998 adalah langkah maju untuk belajar dengan jujur dan rendah hati dari sejarah bangsa kita. Saling menerima dan berbagi akan mensinergikan kekuatan kita untuk membangun bangsa.***


Ester Indahyani Jusuf, S.H.
cell : (+62) 815 99 66 443
fax: (+62) 21 788 40 636

Beda Pribumi, Bule dan China..Good One, READ!!!!

Beda Pribumi, Bule dan China..Good One, READ!!!!

Tulisan orang ini bener2 bagussss.... Jangan berhenti forward ketemen2 yah...

Saya seorang pribumi yg dulunya benci setengah mampus sama WNI Keturunan Cina. Tetapi setelah hidup di Amerika selama 10 tahun dan sekarang bekerja di salah satu bank terbesar di dunia berpusat di New York City, pandangan saya berubah dan mengerti mengapa Cina itu berbeda dengan orang pribumi.

Dan sebenarnya banyak sekali hal-hal yg kita tidak mengerti tentang cina, dan hal-hal ini sebenarnya harus kita ketahui dan kita pikirkan lagi, karena hal-hal ini adalah sesuatu yg bisa kita pakai untuk kepentingan bangsa sendiri dan utk memajukan bangsa sendiri. Bukan saya bilang bahwa kita harus berubah jadi Cina, cuma kalau memang bagus mengapa tidak ? Dan memang ada juga hal-hal buruknya, tetapi semua bangsa juga punya.

Marilah saya mulai pendapat saya tentang perbandingan antara WNI asli dan keturunan cina :

1. Perbedaan2 nyata Setelah bekerja tiga tahun lebih dan punya teman dekat orang bule dan orang Cina dari Shanghai di tempat kerja saya, saya melihat banyak sekali perbedaan-bedaan, diantaranya :

A. DUIT

a) Si bule, kalo gajian langsung ke bar, minum-minum sampe mabuk, beli baju baru, beli hadiah macam-macam untuk istrinya. Dan sisanya 10% di simpan di bank. Langsung makan-makan di restoran mahal, apalagi baru gajian.

b) Si Cina, kalau gajian langsung disimpan di bank, kadang-kadang diinvest lagi di bank, beli Saham, atau dibungain. Bajunya itu2 saja sampe butut. Saya pernah tanya sama dia, duitnya yg disimpen ke bank bisa sampe 75%-80% dari gaji.

c) Saya sendiri. kalo gajian biasanya boleh deh makan-makan sedikit, apalagi baru gajian, beli baju kalo ada yg on-sale (lagi di discount), beli barang-barang kebutuhan istri, sisanya kira2 tinggal 15-20% terus disimpen di bank.

*** Kebanyakan di Amerika, orang Cina yang kerja kantoran (sebenarnya Korea dan Jepang juga) muda-muda sudah bisa naik mobil bagus dan bisa mulai beli rumah mewah. walaupun orang tuanya bukan konglomerat dan bukan mafia di Cinatown. Malah mereka beli barang senangnya cash, bukan kredit. Soalnya mereka simpan duitnya benar-benar tidak bisa dikalahkan oleh bangsa lain. kalau bule atau orang hitam musti ngutang sampe tau baru bisa lunas beli rumah.

B. KERJAAN

a) si bule, abis kerja (biasanya jam kerja jam 8 pagi - 6 sore) hari Senen sampai hari Jumat (Sabtu dan minggu tidak kerja)) ke bar ato makan-makan ngabisin gaji. Kalau disuruh lembur tiba-tiba, biasanya kesel-kesel sendiri di kantor. Biasanya kalo hari Senen, si bule tampangnya kusut, soalnya masih lama sampe hari Sabtu, pikirannya weekend melulu. Kalo hari Kamis, si bule males kerja, pikirannya hari Jumat melulu. Terus jalan-jalan gosip kiri kanan.

b) si Cina, abis kerja langsung pulang ke rumah, masak sendiri, nggak pernah makan diluar (saya sering ngajak dia makan, cuma tidak pernah mau, mahal katanya, musti simpan duit, kecuali kalo ada hari-hari khusus). Kalau disuruh lembur tidak pernah menolak, malah sering menawarkan diri untuk kerja lembur. Kalau disuruh kerja hari sabtu atau hari minggu juga pasti mau. Kadang-kadang dia malah kerja part-time (bukan sebagai pegawai penuh) di perusahaan lain untuk menambah uangnya.

c) saya sendiri, kalau disuruh lembur, agak malas juga kadang-kadang karena sudah punya rencana keluar pergi makan sama teman-teman kantor. Kadang-kadang ingin sekali pulang ke rumah karena di kantor melulu, cuma mau nggak mau mesti kerja (jadi kesannya terpaksa, nggak seperti si cina yg rela). Weekend paling malas kalau musti kerja.

*** Bos-bos juga biasanya suka sama orang Cina kalau soal kerjaan.

Mereka soalnya pekerja yg giat dan tidak pernah bilang "NO" sama boss.

Dapat kerja juga gampang kalau mukanya cina, karena dipandang sebagai "Good Worker". Atau pekerja giat. Jarang sekali, kecuali penting sekali dia tidak bersedia kerja lembur. Dan kalaupun tidak bersedia lembur, biasanya dia akan datang sabtu atau minggu, atau kerja lembur besoknya.

C. RUMAH

a) Apartment si bule, wah bagus sekali. gayanya kontemporari. Penuh dengan barang-barang perabotan dan furniture mahal. Pokoknya gajinya pasti abis ngurusin apartment dia.

b) Apartment si cina, wah... kacau. Cuma ranjang satu, dilantai saja. Meja butut, dan dua kursi butut. TV nya kecil sekali, TV kabel saja tidak punya. Pokoknya sederhana sekali. Waktu saya tanya, dia bilang "bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian." daerahnya pun bukan didaerah mahal, tempatnya di daerah kumuh dan kurang ada yg mau tinggal.

c) Apartment saya sendiri, yah lumayan, cuma istri saya suka juga merias rumah. Jadi apa rtment saya lumayan lah tidak seperti punya si Cina.

Saya benar-benar salut dia bisa hidup begitu. Padahal duitnya di bank banyak.

Gaji dia saja lebih tinggi dari saya karena lebih lama di perusahaan tersebut.

*** Setelah 10 taun, biasanya si bule, orang item, masih tinggal di apartment atau baru ngutang beli rumah, si cina sudah bisa beli rumah sendiri. Karena nabung dengan giatnya, dan cuma beli yg penting-penting

saja. Jadi uangnya ditabungkan sendiri.

*** Disini saja saya bisa lihat perbedaan-bedaan nyata, saya pertama-tama pikir, wah si Cina ini pelit amat. Masa duit banyak kayak begitu disimpan saja di bank. Dan kalau kita banding-bandingkan dengan sejarah orang-orang cina, kita akan tahu kenapa mereka (Cina) itu dalam long-range nya (jangka panjang nya) lebih maju dari pribumi di Indonesia, karena saya sempat bertukar pikiran dengan beberapa teman lagi orang Cina lainnya, orang India, or ang Arab, orang Jerman, orang Amerika, dan orang Cina ini sendiri. Kita musti tau sejarahnya orang Cina ini.

2. Perbandingan antara sejarah kebudayaan cina dan Indonesia JAMAN DULU

Bangsa cina adalah bangsa yg bangga dengan bangsanya, karena kebudayaan cina adalah salah satu kebudayaan yg tertua di dunia, hampir setahaf dengan Mesopotamia dan Mesir. Karena itu kebudayaan cina itu benar-benar menempel di sanubari nya. Susah sekali untuk melepaskan kebudayaan tersebut karena memang betul kebudayaan mereka itu hebat, terus terang, kalau kita bandingankan dengan kebudayaan kita (pribumi Indonesia ) kita tidak bisa mengalahkan kebudayaan orang cina. Dan memang kebudayaan mereka sudah diakui dunia.

Menurut salah satu Journal of Archeology terkemuka di dunia, orang Melayu itu unsurnya lebih banyak mengarah ke bangsa Mongol atau Cina.

Jadi bangsa Indonesia itu sebenarnya Cina, walaupun secara biologis dan&n bsp; evolusis, ada unsur-unsur dari India dan Arab di darah orang pribumi.

Tetapi orang Indonesia (Melayu) itu sebenarnya genetik nya lebih dekat ke orang Cina. Orang cina itu sudah dari dulu 4000 tahun hidupnya diawang kesusahan terus (maksudnya rakyat kecilnya). Negara cina dari jaman dulu, katanya, sudah perang terus, rakyat kecil disiksa olah pemerintahnya sendiri,

dan pemerintahnya berganti-ganti terus. Orang cina bisa dibilang salah satu bangsa yang tahan banting. Sudah biasa menderita, dan makin menderita, biasanya orang kan makin nekad dan makin berani, jadi semua jalan ditempuh, namanya saja mau hidup, bagaimana. Ini juga terjadi di Indonesia .

Karena negaranya sendiri, Cina, banyak masalah, mereka imigrasi kemana-mana. Mereka ada dimana-mana, teman saya orang item dari Nigeria dan Ethiopia (afrika) bilang disana pun ada banyak orang cina. Dan herannya. Cina-cina di Afrika pun sukses dan bisa dibilang tidak miskin.

DI INDONESIA Di Indonesia sendiri, waktu saya masih tinggal diJakarta, saya bisa melihat perbedaan-perbedaannya, cuma waktu itu pikiran saya belum terbuka. Saya pernah punya teman orang cina di Senen buka toko kain. Di sebelahnya persis ada pak Haji yg juga buka toko kain. Setelah dua tahun, bisnis si cina makin maju, dan si pak Haji sebelah akhirnya bangkrut. Ternyata bukan karena si Cina main curang atau guna-guna si pak haji. Ternyata itu karena si cina, walaupun sudah untung, uangnya di simpan dan ditabung saja, untuk mengembangkan bisnisnya lagi. Dan dia dan istrinya makan telor ceplok saja

Sedangkan si pak haji baru untung sedikit sudah makan besar di restoran karena gengsi sama keluarga nya.

Nah bukannya si pak haji ini salah ? Bukannya kita bisa lihat sendiri bahwa cina ini pikirannya le bih maju lebih melihat kedepan dan lebih tahan banting ? Saya kira ini adalah suatu hal yang bisa kita contoh dari si Cina ini. Mungkin kita tidak usah terlalu pelit seperti dia, tapi juga tidak usah gengsi-gengsian.

Saya sudah bertemu dengan banyak orang dari negara yg berbeda-beda dan satu hal yg benar-benar nyata adalah orang yg TIDAK MEMBUAT KEPUTUSAN BERDASARKAN GENGSI biasanya NEGARANYA MAJU.

Coba saja lihat orang Hong Kong, orang Jepang, orang Inggris, orang Amerika, orang Jerman dan orang Singapore, mereka sudah MAJU sekali pemikirannya. Tidak seperti orang Indonesia . Kalau YA yah sudah bilang YA, kalau TIDAK yah bilang TIDAK. Jadi tidak tidak ada yg tidak enak hati. Kalau sudah lama tidak enak hati akhirnya berantem.

Orang Indonesia sayangnya gengsinya tinggi sekali, tidak mau mengaku kalau memang salah atau harus merubah sesuatu yg jelek.

Inilah kelemahannya.

Di mata Internasional bangsa Indonesia sudah terkenal sebagai NAZI Jerman versi Asia Tenggara. Waktu perang dunia ke II bangsa Jerman sedang miskin karena mereka kalah perang dunia ke I, supaya rakyat tidak marah, si Hitler yg cerdik sengaja menyalahkan orang Yahudi yg memang kaya dan menguasai ekonomi Jerman. Dan orang Yahudi akibatnya dibantai dan tidak diperlakukan sebagai warga negara sendiri. Padahal mereka juga sudah lama tinggal di Jerman dan sudah merasa sebagai bangsa sendiri, walaupun mereka masih memegang kebudayaan mereka yg tinggi, sama seperti cina di Indonesia .

Di Indonesia anehnya, pribumi benci dengan cina tetapi bukan dengan orang Belanda atau orang Jepang. Kalau dipikir-pikir, cina itu tidak salah apa-apa. Saya sebagai pribumi baru sadar akan hal itu.

Belanda menyiksa bangsa Indonesia dan menguras harta bumi kekayaan Indonesia selama 350 tahun dan setelah pergi meninggalkan penyakit yg paling bahaya dan mendarah daging, yaitu korupsi, yg sampai sekarang juga menimbulkan krisis ekonomi setelah 53 tahun merdeka rupanya penyakit ini bukannya makin terobati, tetapi makan menusuk dan menular ke seluruh badan dan mental bangsa Indonesia.

Bangsa Jepang, cuma menguasai 3.5 tahun, tapi menyiksa bangsa Indonesia lebih kejam dari bangsa lain. Karena kalah perang, bangsa jepang, yah mau tidak mau sekarang musti menguasai dunia secara ekonomi tidak bisa lagi main angkat senjata.

Anehnya kita sebagai pribumi malah benci dengan cina bukannya dengan Belanda atau jepang. Lucu sih. Semua bangsa lain (Korea, Cina, Burma, Vietnam, dan Afrika) benci dengan bekas penjajahnya bukan penduduk sesama yg telah hidup bertahun-tahun bersama-sama yaitu cina kalau di Indonesia .

Salah apa si cina-cina ini, tidak salah apa-apa. Kenapa mereka kelihatannya buas dalam bisnis, tamak, dan rakus? Kenapa? Karena > mereka selama tinggal di Indonesia selalu diperlakukan sebagai orang luar dan di anak-tirikan. Coba bayangkan kalau anda-anda jadi cina, pasti anda-anda juga mau melindungi diri sendiri, siapa yg mau nggak makan besok? atau mati? Yah, kalau begitu, mereka jadi cerdik, agak licik, mengambil kesempatan dalam kesempitan, jadinya berhasil memegang ekonomi indonesia. Tapi mereka juga bekerja keras, JAUH.....SANGAT JAUH LEBIH KERAS DARI KITA YG PRIBUMI. Bukan cuma di Indonesia saja. Orang cina sepertinya ditaruh dimana saja pasti sukses dan bekerja keras.

Mereka (cina) tidak menyerah pada nasib, dan selalu INGIN MENJADI DUA KALI LIPATKAN TARAF HIDUPNYA, kita yg pribumi, biasanya puas dengan keberhasilan kita dan malas malasan karena merasa sudah diatas angin.

Bagi cina2 ini tidak berlaku, mau setinggi apa juga, pasti bisa lebih tinggi lagi.

Kita saja yg bodoh, mau dengar omongan pemerintah yg brengsek dan mengkambing hitamkan cina. Karena mereka sendiri juga busuk tetapi takut ketahuan. Jadi mereka menggunakan cina sebagai tameng dan kambing hitamnya.

Gimana mau hidup sebagai negara yg maju coba ? Kalau tidak bersatu.

Negara yg maju harus bisa hidup dengan tentram satu sama lain tidak perduli dengan warna kulit, agama, dan keturunan. Semuanya musti diakui sebagai satu bangsa.

Contohnya Amerika, mau cari orang dari mana saja ada. Cuma mereka bersatu, dan mereka sadar tiap orang punya kejelekan masing-masing.

Cuma tidak digembar-gemborkan, tapi dibicarakan dan dirubah. Yg bagusnya diambil, dan dipakai bersama-sama untuk memajukan negara.

Tidak segan-segan, atau gengsi, kalau gengsi-gengsi maka tidak akan maju. Harus open (terbuka) dan mau menerima kesalahan dan musti mau berubah.

Life Is A Role Playing Game !!

NB: Ada beberapa hal yg perlu diluruskan, tidak semua orang Cina diseluruh dunia adalah orang sukses, masih byk juga diantara mereka yg hidup dibawah garis kemiskinan. Sebagai contoh bisa Anda lihat di daerah Tangerang, Banten. Disana masih banyak warga keturunan Cina yg sudah tinggal disana selama generasi (sehingga kulit merekapun sudah berbeda dgn keturunan Cina yang bermigrasi pada abad 20an), yang masih kesulitan untuk makan.



Diharapkan koreksi ini dapat menghilangkan stereotipe di Indonesia , bahwa semua orang keturunan Cina adalah orang kaya yang sukses.

Ketegaran Thio Hok Seng

Kamis, 28 Feb 2008,

Ketegaran Thio Hok Seng, Mantan Juara Dunia
Angkat Berat Kebanggaan Indonesia

Oleh: HENDRI PARJIGA-RIJAL I., Padang

Simpan Medali 14 Tahun Berkarir di Kaleng Biskuit
Pada 20 tahun lalu Thio Hok Seng melambungkan nama Indonesia dengan menjadi juara dunia angkat berat dua kali berturut-turut. Kini, dalam kesendirian, dia bertahan hidup dengan uang receh hasil menjadi wasit pertandingan bulu tangkis.

PARA atlet angkat berat Indonesia hanya bisa bermimpi untuk menjadi seorang Hiroyuki Isagawa. Dia atlet Jepang yang fenomenal, sehingga sampai usia 53 tahun pada 2006 lalu, untuk kali kesekian masih mampu menjadi juara dunia. Ini berbeda dengan nasib para lifter di tanah air yang masa kejayaannya pendek. Minimnya dana yang mengucur ke olahraga tak populer itu, termasuk kesejahteraan atlet, menjadi salah satu penyebab.

"Maaf, saya tidak punya handphone. Telepon rumah juga tidak ada. Kalau mencari rumah saya, tanyakan saja Hong Seng kepada warga di sekitar Jalan Pasar Baru II Padang. Mereka pasti kenal," kata Thio Hok Seng kepada Padang Ekspres (Grup Jawa Pos) di sela-sela menyaksikan Pelatda PON atlet angkat berat Sumbar.

Ternyata benar, ketika Padang Ekspres mencari rumahnya, seorang warga yang ditanya langsung berujar. "Oh, rumah Hok Seng mantan atlet angkat besi? Itu rumahnya. Yang pagarnya rendah, bercat biru muda," kata seorang ibu yang bersiap berbelanja ke pasar. Rumah Hok Seng yang bertinggi badan sedang tapi tegap itu hanya berjarak sekitar 500 meter dari Pasar Raya Padang.

Warga sekitar memang lebih mengenal angkat besi dibanding angkat berat, cabang yang melambungkan nama Hok Seng. Dari sisi usia, Hok Seng, kini 45 tahun, sebetulnya dulu lebih hebat dibanding Hiroyuki Isagawa. Dia menjadi juara dunia kali pertama dalam usia 24 tahun. Lebih muda dibanding lifter Jepang itu yang baru jadi juara dunia pada usia 28 tahun.

Rumah kontrakan yang ditempati Hok Seng sangat sederhana. Tinggi pagar hanya sekitar setengah meter terbuat dari kawat. Ini sangat kontras dibanding pagar rumah tetangga yang tinggi dari bahan besi dan beton. Di rumah petak berukuran sedang itu, Hok Seng hidup bersama istri tercinta, Monica Nova, serta dua buah hati mereka, Christofer, 9, dan Pretty Meri, 2,5. "Ya, beginilah rumah kami, kecil dan dihuni empat anggota keluarga," ujarnya membuka kata.

Hok Seng adalah atlet berprestasi pada 1980-an. Dia mengharumkan nama Sumbar, bahkan Indonesia, ke tingkat dunia pada cabang olahraga angkat berat. Prestasi terbaik dicapai saat dia mengantongi medali emas kejuaraan dunia pada 1987 di Lima, Peru. Tahun berikutnya (1988) dia mempertahankan predikat juara dunia di Luksemburg.

Pria tamatan sekolah menengah pertama (SMP) itu juga memecahkan rekor dalam angkatan deadlift 226 kilogram di Jerman pada 1988, sekaligus meraih medali emas.

Hok Seng yang memiliki tinggi badan 158 sentimeter dan berat 57 kilogram itu menggeluti olahraga angkat berat sejak 1983. Hanya dalam setahun, dia mengikuti pra Pekan Olahraga Nasional (PON) yang diadakan pada 1984.

Pada 1985, dalam ajang PON XI di Jakarta, Hok Seng berhasil menyumbangkan satu medali emas bagi Sumbar. Setelah meraih juara dunia angkat berat dua tahun berturut-turut pada 1987-1988, dia kembali ikut PON XII di Jakarta dan mempersembahkan dua mendali emas.

Seiring perjalanan usia, prestasinya menurun. Pada PON XIV 1996, Hok Seng hanya mengantongi medali perak. Lalu, pada 2000 dia masih mencoba ikut PON XV. Namun, niatnya batal karena cedera bahu kiri.

Hok Seng mengakui, selama 14 tahun menggeluti olahraga angkat berat dia mengumpulkan banyak medali emas dan perak di berbagai turnamen. Medali-medali itu disimpan sebagai bukti prestasi ikut mengharumkan nama Sumbar dan Indonesia di tingkat dunia. "Saya simpan dalam satu kaleng biskuit besar," ujarnya.

Atas prestasi itu, tahun lalu negara -melalui Menpora- memberikan penghargaan berupa sebuah rumah di Kompleks BCA, kawasan Andalas Makmur, Padang. Hanya, rumah hadiah pembelian tersebut kini dihuni orang lain. "Saya kepepet duit. Terpaksa rumah dari Pak Menteri itu saya kontrakkan. Sementara biarlah kami tinggal di rumah ini. Walau sempit, harga kontraknya tidak terlalu mahal," urainya.

Sejak pensiun menjadi atlet pada 2000, Hok Seng tidak memiliki pekerjaan tetap. Untuk mengasapi dapur keluarga, dia bekerja apa saja. Termasuk menjadi menjadi wasit di Hall Bulutangkis Victory Padang. Selain itu, dia dipercaya membantu tim pelatda angkat berat PON Sumbar. Namun, penghasilan dari "nyambi" di mana-mana itu tetap saja jauh dari mencukupi. "Terkadang untuk ke tempat kerja saya menumpang ke kawan," katanya.

Indonesia sebetulnya punya banyak atlet angkat berat yang hebat. Misalnya, Nanda Telabanua, juga asal Padang seperti Hok Seng, yang juara dunia angkat berat junior pada 1984 di Perth, Australia.

Saat ini atlet muda yang sedang berkibar dan pernah menjadi juara dunia adalah Sutrisno dari Padepokan Pringsewu, Lampung.

Hok Seng berharap, di masa depan ada perhatian terhadap nasib mantan atlet angkat berat. Dia sendiri mengaku masih cinta dengan olahraga angkat berat. Karena itu, dia berharap ada daerah yang mau menampungnya sebagai pelatih. Sebab, di tim PON Sumbar sendiri pelatih angkat berat sudah berlebih. Di sana ada Nanda, Thomas Gomes, dan Edwarsyah.

"Biar saya bisa menularkan ilmu yang saya peroleh selama ini kepada orang lain," harapnya. (el)

Source:
http://jawapos.com/index.php?act=detail_c&id=328252