Orang Tionghoa di Indonesia – The Chinese Roots, provinsialisme, Peranakan, Totok dan kerjasama dalam tubuh Hua Yi
From: Han Hwie Song
Date: Sat, Jun 14, 2008 at 11:11 PM
Orang Tionghoa dikatakan turunan dari dua raja bersaudara yaitu Huang-di (Yellow Emperor) dan Yan-Di. Dua saudara kerajaan yang hidup lebih dari 5000 tahun yang lalu. Huang-di raja yang sangat bijaksana dan Yan-Di yang beken dengan kepandaiannya tentang agraria. Kedua saudara raja itu memberikan basis dari teori traditional chinese medicine. Buku-buku terkenal dari Huang Di dan Shen Nong ialah Huang Di Nei Jing, atau teori kedokteran klasik yang pertama dan Shen Nong Ben Cao Jing, buku materia medica yang pertama. Mereka yang belajar TCM harus mempelajari kedua buku tersebut diatas. Orang Tionghoa dalam dan luar negeri sangat hormat pada kedua raja ini yang dianggap sebagai leluhur dari orang Tionghoa.
Orang-orang Tionghoa datang beremigrasi ke Nan-Yang, Asia Tenggara termasuk Indonesia sejak tahun 1400 dan paling banyak terutama pada abad ke sembilanbelas sampai permulaan abad ke duapuluh. Pedatang-pedatang ini pertama-tama tinggal di pelabuhan-pelabuhan Indonesia chususnya dengan tujuan perdagangan. Pendatang ini kulturnya bervariasi, ada pedagang, ada ahli agraria, ärchitek, ahli mebel, seniwan etc. etc. Tetapi ada banyak yang beremigrasi dengan tujuan agar bisa hidup lebih baik dari pada hidup sengsara di daerah kelahirannya. Banyak dari pedatang baru ini bertujuan untuk menetap di bumi Indonesia, terkecuali mereka yang bertujuan untuk perdagangan.
Waktu Belanda datang ke Nusantara, mereka menjumpai orang-orang Tionghoa ini. Dan karena kegiatan kerja serta kemampuan orang-orang Tionghoa, Belanda memerlukan bekerja sama dengan mereka. Kerja sama ini dimulai dengan Jan Pieterzoon Coen, Gubernur Jendral pada ituwaktu dengan seorang pedagang Tionghoa Souw Bing Kong. Yang terachir ini diangkat oleh Jan Pieterzoon Coen sebagai kapten Tionghoa yang pertama. Mereka sering bertemu di kastil minum teh dan membicarakan bagaimana memajukan ekonomi di “Hindia Belanda”, nama untuk Indonesia ituwaktu. Tetapi kerja sama antara penguasah Belanda dan masyarakat Tionghoa, bukannya langgeng, tetapi ada naik turunya dengan akibat-akibat yang serius, seperti terjadinya “Pembunuhan Orang Tionghoa” pada tahun 1740. Diskriminasi tehadap orang Tionghoa dibuktikan dalam sejarah bahwa orang Tionghoa tidak diijinkan menjadi pegawai negeri, tidak bisa beli tanah dan harus tinggal di daerah yang dinamakan Chinese wijk atau Petjinan. Orang Tionghoa kalau mau keluar kota harus minta ijin, ditulis dengan jelas tempat yang ditujuh. Ini menyulitkan perdagangan bagi orang Tionghoa yang mempunyai perusahan di luar kota. Mereka tidak bisa bebas dalam gerakannya untuk mempromosikan barang daganannya. Mereka harus kembali sore hari jam yang sudah ditentukan dan kalau lewat dari jam yang sudah ditentukan, atau pergi ketempat diluar dari surat ijinnya mereka bisa ditahan. Belanda tidak mengurus pendidikan dan kesehatan orang Tionghoa, tetapi Belanda membuka sekolah-sekolah untuk orang Pribumi.
Orang Tionghoa pedatang baru ini kebanyakan asalnya dari Tiongkok bagian Selatan, provinsi Fujian (Hokkian), provinsi Guangdong, ada juga imigran-imigran dari provinsi Hubei, Zhijiang dan seterusnya, tetapi dalam jumblah yang jauh lebih sedikit. Provinsi-provinsi ini luasnya besar dan dapat dibandingkan dengan luas dari negara-negara Perancis, Jerman, Spanyol, Italia, Inggris etc. Pedatang dari Fujian berasal dari banyak kota atau desa seperti Fu-Zhou, Xia-men dan dari desa umpamanya Fu-Ching. Dari provinsi Guangdong dari kota Guang-Zhou, Mei-Xian (orang Hakka atau Kheh), pulau Hainan dan seterusnya.
Kota-kota dalam satu provinsi, bahkan juga desa mempunyai dialek-dialek sendiri. Orang-orang Tionghoa umumnya di Asia tenggara seperti Malesia, Singapore dan Indonesia, terbanyak ialah orang Hokkian dan orang Hakka, yang pertama lebih banyak daripada yang kedua. Karena besarnya satu provinsi maka mereka mempunyai kultur yang berlainan dan norma-norma dan kebiasaan hidup yang tidak sama, bahkan juga pandangan politiknya berlainan. Mengapa mereka mempunyai pandangan politik yang berlainan? Orang Hakka umpamanya lama sesudah berdirinya Republik Rakyat Tiongkok masih tetap berorientasi ke Kuo Ming Tang. Ini menurut saya ialah disebabkan karena orang Tionghoa itu mempunyai perasaan yang terikat dengan asal provinsinya. Dr. Sun Yat Sen berasal rootnya dari provinsi Guangdong, maka orang-orang Hakka umumnya anti Republik Rakyat Tiongkok dan pro Kuo Min Tang. Tetapi kemudian generasi mudanya berobah pikirannya dan kebanyakan sekarang pro RRT. Pandangan politik ini saya alami dari teman-teman saya dengan orang Hakka, termasuk teman baik saya dari Fakultas Kedokteran Airlangga. Tidak jarang dulu di Surabaya terjadi perdebatan hampir dengan kekerasan antara yang pro dan anti RRT, kejadian ini terlihat di Stadstuin di Pasar Besar Surabaya.
Pedatang baru ini umumnya merupakan masyarakat yang berhubungan erat, terutama berlaku bagi mereka dalam satu provinsi, apalagi kalau pedatang dari satu kampung, mereka merupakan satu famili. Mereka saling membantu, pedatang yang lama membantu pedatang baru. Dia adalah satu anggota dari keluarga besar. Mereka mendapatkan pekerjaan dalam “keluarga” tersebut, sambil melihat-lihat kanan dan kiri untuk penghidupan haridepannya. Dengan adanya bimbingan dari keluarga besar, mereka mengenal keadaan dan lingkungan di sekitarnya. Karena adanya keluarga ini mereka tidak sampai kesasar dalam perjalanan hidupnya di dunia yang bagi mereka masih asing itu. Ini adalah pengalaman bagi opa saya dan opa dari fihak ibu dan ayah dari istri saya, pengalaman hidup mereka sewaktu baru datang di Indonesia dulu yang mereka ceritakan pada saya. Famili saya yang masih tergolong Totok ialah keluarga Han Kok Tjay, dulu tinggal di kalimantan, karenanya masih mempertahankan identitas Fu Ching. Kok Tjay sekarang tinggal di Surabaya dan juga anak-anak beliau sudah berobah identitasnya seperti peranakan.
Perbedahan norma-noma hidup, kebudayaan dan provinsialisme mencerminkan dalam masyarakat Tionghoa di Indonesia, bahwa mereka dalam bidang perdagangan berlainan dengan provinsi yang berlainan, seperti yang sudah saya ceritakan terdahulu. Orang Hokkian asal Xiamen umumnya berdagang polowijo, orang Fu-Ching (Hokjia) dagang tekstil, orang Fu Zhou (Hok Jiu) dagang emas, orang Hing Hua dagang sepeda. Orang dari provinsi Guangdong, yaitu orang Hakka berdagang obat-obatan Tionghoa, provicien en dranken dan pabrik sabun. Orang Guangzhou (Kong-Fu) ahli membuat mebel dan restauran. Orang Hainan juga membuka restaurant, terkenal ialah nasi tim Hainan. Orang dari provinsi Hu Bei biasanya membuka sebagai Tukang Gigi. Orang Shanghai membuka toko buku atau pengusaha Wasserij, laundry.
Dr. Han Hwie-Song
Breda, 14-6-2008 Nederland

Tidak ada komentar:
Posting Komentar