Rumah Sakit-Rumah Sakit Yang Didirikan Oleh Masyarakat Tionghoa, Chususnya Tionghoa Ie Wan-Satu Kontribusi Masyarakat Tionghoa (Bagian 1)
Rumah Sakit-rumah sakit yang didirikan oleh masyarakat Tionghoa, chususnya Tionghoa Ie Wan - satu kontribusi masyarakat Tionghoa
Salah satu kontribusi masyarakat Tionghoa pada negara dan bangsa Indonesia yang mencerminkan humanisme dan nasionalisme adalah pendirian rumah sakit-rumah sakit yang tersebar di Indonesia, dan salah satu diantaranya ialah Rumah Sakit Tionghoa Ie Wan dikota Surabaya. Dipandang dari banyaknya pegawai dan para ahli diantaranya, dokter, dokter gigi, psikolog, ekonom, apoteker, insinyur, sosiolog etc. yang bisa berjumblah kira-kira seribu orang, bahkan ada yang jumbalh pegawainya dua ribu orang, maka satu rumah sakit dapat dibandingkan dengan satu perusahan yang besar, bahkan sangat besar.
Rumah sakit adalah satu institusi dimana orang-orang yan sakit bisa memeriksakan dan mendapatkan pengobatan penyakitnya dan kalau penyakitnya ringan penderita bisa pulang rumah (perawatan poliklinis). Tetapi kalau penyakitnya bahaya, berat maka pasien ini diopname dan dirawat sampai penyakitnya sembuh. Perawatan dikerjakan oleh para dokter, dokter spesialis dan perawat. Jaman saya dulu perawat umumnya semua wanita, tetapi sejak beberapa puluh tahun belakangan ini, banyak perawat lelaki, yang jumblahnya sama banyaknya.
Dapat dimengerti bahwa membangun rumah sakit umum membutuhkan investasi keuangan yang sangat besar untuk membayar pegawai-pegawainya yang profesional yang banyak jumblahnya. Disampingnya juga alat-alat yang canggi untuk bagian intensive care, laboratorium, apotek dan persiapan obat-obatannya, juga alat-alat yang modern dari berbagai disipline seperti kamar operasi dan alat-alatnya, Computer Tomografi, Magnetis resonansi imaging (MRI), alat pemeriksaan jantung, alat-alat kedokteran nuklir, alat-alat radioterapi, penyimpanan obat-obatan untuk kemoterapi yang sangat mahal etc.etc. Jangan dilupahkan dapur dapur dan bahan-bahan makanan. Terlalu banyak untuk ditulis satu persatu. Rumah sakit-rumah sakit yang akan saya bicarakan disini, adalah rumah sakit rumah sakit umum yang mengabdi pada rakyat (non profit) dan bukan rumah sakit yang tujuannya untuk mencari keuntungan. Maka kontribusi dari para intelektuil Tionghoa yang dengan susah payah telah membangun rumah-rumah sakit ini dengan bantuan masyarakat Hua Yi pantas mendapatkan pujian atas humanisme dan kecintaan mereka pada masyarakat Indonesia.
Karena rumah sakit ini mengenai kesehatan manusia maka umumnya setiap keluarga ada hubungan yang erat atau kenal dengan Tionghoa Ie Wan. Maka dari itu mendapatkan perhatian yang besar dari segala golongan dan segala tingkat sosial masyarakat. Setiap hari kalau saya pergi kuliah kefakultas Kedokteran Airalangga dijalan Karangmenjagan saya dengan naik sepeda harus melalui rumah sakit ini. Apalagi pekerjaan dan fungsi dari Tionghoa Ie Wan adalah dalam bidang studi saya, ditambah pula saya seorang Hua Yi, yang pernah menjabat kepala rumah sakit umum di Tjepu dan kepala rumah sakit Permigan, dahulu rumah sakit BPM (shell) maka merupahkan perhatian saya dan saya tahu perkembangannya.
Sebelum saya meninggalkan kota Surabaya Tionghoa Ie Wan masih sepih, tetapi sekarang gedungnya lebih besar dan bertingkat sangat ramai dikunjungi orang dan peralatannya disesuaikan dengan kemajuan ilmu kedokteran, yang kekurangan hanya tenaga dokter ahlinya. Saya kenal kultur Tionghoa, maka apabila tenaga kedokteran ahlinya cukup, pastilah hospital-hospital yang didirikan oleh masyarakat Tionghoa bisa mencapai setingkat dengan hospital akademis yang ada diIndonesia. Keadaan yang kita lihat dengan orang Yahudi seperti di Eropa dan Amerika Utara, dapat saya “eksplolirkan” di masyarakat Tionghoa di Indonesia. Orang bisa mempertanyakan mengapa sistim kesehatan diIndonesia tidak direformasikan demi kepentingan masyarakat dan juga mengurangi devisa Indonesia yang berjumblah ratusan juta dollar USA keluar negeri.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar