Mengenai Saya

Facebook Badge

Darwin Tantiono's Facebook profile

Selasa, September 23, 2008

Kong Hu Cu Juga Alat Diplomasi

05/09/2008 09:27
Kong Hu Cu Juga Alat Diplomasi
A. Dahana

PADA artikel pekan silam penulis mengungkapkan bagaimana Cina dengan sangat cerdik menggunakan pengalaman masa lalu sebagai alat diplomasi.

Tokoh sejarah Cheng Ho yang tujuan misi tujuh pelayarannya masih menjadi perdebatan, telah digunakan untuk menunjukkan bahwa kebangkitan negara itu adalah bertujuan damai.

Sementara itu Cina masih tak kekurangan alat untuk tujuan itu. Kong Hu Cu (Konfusius) yang hidup pada sekitar abad ke-5 Sebelum Masehi dengan ajarannya tentang susunan masyarakat merupakan alat baru untuk itu.

Sebenarnya sejak akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 pamor dan nama Kong Hu Cu di daratan Cina sudah melorot. Itu disebabkan oleh pendapat umum, terutama pemuda, yang mengatakan bahwa keterpurukan Cina di bawah pemerintahan Dinasti Qing (1644-1911) adalah akibat dari pemerintah dan rakyat Cina yang tunduk pada pendiktean Konfusius.

Para penguasa Cina pada masa pemerintahan Mao bahkan menggunakan segi negatif dari ajaran Konfusias untuk menyerang lawan dalam kampanye politik untuk perebutan kekuasaan.

Liu Shoqi, Zhou Enlai, dan Marsekal Lin Biao pernah dituduh sebagai pengikut ajaran Konfusius. Sebaliknya di kalangan komunitas etnik Cina di luar Cina ajaran 'Guru Kong' berkembang pesat. Bahkan di beberapa negara Asia Tenggara, termasuk di Indonesia, ia telah menjadi agama dan diakui pemerintah sebagai salah satu agama resmi.

Perubahan politik dan ekonomi setelah Mao mangkat dan setelah Deng Xiaoping merebut tampuk kekuasaan Partai Komunis Cina (PKC) dan pemerintahan telah mengubah semuanya, termasuk pandangan terhadap Konfusius dan ajarannya. Kini segi positif dari ajaran Konfusius ditonjolkan.

Semangat bekerja keras dan berusaha, hemat, tunduk pada aturan senioritas, dan tata cara kehidupan yang konon menjadi tulang punggung keberhasilan etnik Cina di luar Cina kini diagungkan.

Kecenderungan ini terjadi pada era 1970-an ketika 'keajaiban Asia' yang ditandai dengan munculnya apa yang disebut sebagai Newly Industrialized Countries (NICs). Itulah negara-negara dalam wilayah 'huruf Kanji' seperti Taiwan, Hong Kong, Korea Selatan, dan Singapura yang pada dasawarsa 1970-an itu menunjukkan prestasi ekonomi yang sangat mengagumkan.

Dan semuanya itu dihubungkan dengan asumsi bahwa rakyat dan para penguasa negara-negara itu mengamalkan ajaran Konfusius. Di Cina kini telah didirikan suatu lembaga khusus yang melakukan penelitian atas kehidupan Kong Hu Cu dan ajarannya.

Para perancang kebijakan global dengan cerdik menggunakan popularitas Konfusius itu untuk tujuan politik luar negeri. Langkah itu diuntungkan dengan kecenderungan global munculnya animo sangat tinggi untuk belajar Bahasa Cina dan keinginan tahu untuk mengetahui lebih dalam tentang kebudayaan Cina.

Puluhan bahkan mungkin ratusan ribu pelajar asing dari seluruh dunia kini berhimpun di kampus-kampus universitas Cina untuk belajar bahasa dan kebudayaan Cina.

Sebagai hasilnya Dewan Bahasa Cina Internasional (Hanban) mendirikan Confucius Institute. Misi dari badan yang sepenuhnya ditunjang pemerintah itu adalah untuk mempopulerkan Bahasa Cina dan memberikan penerangan tentang kebudayaan Cina. Organisasi itu telah berdiri di beberapa universitas di Amerika dan Eropa. Ia bertugas juga untuk mengusahakan agar Bahasa Cina tampil bersanding bersama Bahasa Inggris sebagai bahasa asing kedua di dunia.

Dalam programnya, Hanban juga telah merekrut para lulusan universitas yang memiliki keahlian dalam pengajaran Bahasa Cina sebagai bahasa asing untuk memperkenalkan Bahasa Cina di universitas bahkan SMA. Di Indonesia kini ada puluhan guru berstatus sebagai relawan yang mengajar Bahasa Cina di berbagai sekolah menengah negeri dan swasta.

Kini puluhan universitas di Indonesia telah mengajukan diri menjadi tuan rumah Confucius Institute tersebut. Sekarang budaya Cina, kalimat populer seperti Ni Hao, Wo ai ni, dan Ni hen piaoliang tidak lagi barang atau kalimat asing di negeri ini. Huanying Huayu (selamat datang Bahasa Cina).

Penulis adalah Guru Besar Studi Cina, Universitas Indonesia

[L1]

Source: http://www.inilah.com/berita/celah/2008/09/05/48026/kong-hu-cu-juga-alat-diplomasi/

Tidak ada komentar: