Kembalinya RRT ke gelanggang dunia internasional secara spektakular dewasa ini umumnya disambut dengan gembira oleh seluruh Huaqiao (Overseas Chinese), termasuk juga dari Indonesia, kecuali tentunya beberapa gelintir yang dulu sudah terlanjur me-maki2 anti RRT di jaman Soeharto, hingga sekarang mereka malu hati untuk berbalik haluan dan menjilat kembali ludahnya sendiri. Di Tiongkok daratan, 86% rakyat Tiongkok setuju dan menyambut dengan gembira kebijaksanaan pemerintahnya. Ini adalah faktor yang utama dan paling menentukan situasi sekarang dan juga bagi hari depan Tiongkok Meskipun demokrasi belum bisa dilaksanakan seperti yang diinginkan oleh beberapa pihak. Sebab2nya akan dibahas belakangan dalam tulisan lain.
Hanya dalam waktu kurang dari satu generasi Tiongkok telah berubah dari sebuah masyarakat yang kurang makan hingga banyak yang mati kelaparan (hal mana sebenarnya terjadi secara periodik sepanjang sejarah Tiongkok yang 5000 tahun lamanya), sampai makanan berlimpah2 seperti hari ini. Hanya dalam hanya dua generasi saja Tiongkok pun sudah berubah martabatnya dari kwalitas "Anjing dan Orang Cina dilarang masuk" ke taman dirumahnya sendiri, sekarang menjadi tuan rumah yang terhormat buat pesta Olimpiade internasional yang paling mewah sepanjang sejarah.
Pertanyaan yang wajar: Apakah yang membuat Tiongkok melompat maju begitu pesat?
Di dunia intelek internasional semua orang sependapat, bahwa yang berhasil membuat perubahan besar ini adalah ajaran Deng Xiaoping yang bilang bahwa „Tidak perduli kucing hitam atawa putih, selama si kucing bisa menangkap tikus, dia adalah kucing yang baik" (ref.[1,2}). Hanya mereka yang tidak mengerti filsafat saja, yang mengira bahwa teori Deng ini bertentangan dengan ajaran Mao Zedong. Padahal sebenarnya teorinya Deng ini tetap berpijak pada landasan Materialisme Dialektik dan Histori (MDH), yaitu menyimpulkan bahwa dalam perkembangan (Histori) dewasa ini, kaum penjajah sudah berganti rupa dan bisa dimanfaatkan guna pembangunan (ini beda dengan Indonesia yang tidak sanggup memanfaatkannya buat rakyat sampai hari ini). Teori kucingnya Deng ini sama sekali BUKAN ajaran Confucius, melainkan prinsip dari filsafat Pragmatisme yang justru berasal dari filsafat barat, sama halnya dengan Teori Revolusi nya Mao Zedong yang berasal dari Marx dan Lenin.
Agar tidak dituduh berat-sebelah, saya berikan disini DUA petikan referensi, satu dari Non-Chinese (Leo Malamed) yang diberikan dalam Seminar th. 2005 di Shanghai (referensi [1]), dan satu lagi artikel University of California (UCLA) tentang analisa dari Prof. Wang Hui dari Department of Chinese di Qinghua University dan Editor dari Journal Dushu (Readings) yang berpengaruh di RRT dewasa ini (referensi [2]). Ke-DUA2-nya (Prof. Wang dan Leo Malamed) sama2 menandaskan bahwa landasan dari teori KUCING nya Deng tidak lain adalah filsafat Pragmatisme. Kiranya ini lebih dari cukup untuk membantah anggapan bahwa ajaran Deng ini berasal dari Confucius. Juga analisa Profesor Wang (ref. [2]) memberikan indikasi yang kuat bahwa teori kucingnya Deng ini adalah perkembangan lebih lanjut dari teori MDHnya Mao, dan
dewasa ini sudah menjadi bahan perdebatan didalam tubuh PKT sendiri.
Ditinjau dari sudut filsafat, baik Marx maupun Pragmatisme kedua2nya merupakan bagian dari filsafat Enlightenment/Aufklaerung. Kedua2nya merupakan solusi dari Dualisme nya filsuf Immanuel Kant yang terkenal, persisnya seputar hakekat dunia luat sebagai "Das Ding An Sich" (the-thing-in-itself) yang tidak mungkin terjangkau oleh manusia (referensi [3]). Filsafat MDH (Marx) memilih solusi bahwa dunia luar itu ditetapkan oleh materi yang berkembang menurut hukum2nya sendiri diluar kemauan kita (misalnya hukum2 alam, hukum2 masyarakat, dlsbnya). Hal mana sebenarnya tidak lain adalah sebuah kepercayaan belaka, sekalipun tarafnya sudah jauh lebih tinggi dari tahayul dan agama. Aliran Positivisme Logis (Logical Positivism, yang menjadi landasan IPTEK sampai hari ini) dengan sadar menolak solusi apapun buat Dualismenya Kant ini. Tetapi dengan sukarela membatasi diri hanya kepada persepsi pancaindera sebagai satu2nya kebenaran objektif yang bisa diketahui oleh manusia dengan pasti. Hasilnya kita lihat sendiri adalah perkembangan IPTEK yang pesat sejak tahun 1700-an. Kelemahannya, dengan membatasi diri hanya kepada persepsi pancaindera, maka Positivisme Logis tidak mampu menjawab pertanyaan yang hakiki, apakah Tuhan itu eksis, dan apakah ada hidup setelah mati, yaitu pertanyaan2 yang justru merupakan pertanyaan yang sentral bagi hampir setiap manusia.
Dalam hal ini, Pragmatisme memilih solusi bahwa kebenaran objektif itu tidak ada, melainkan ditetapkan oleh perihal, apakah suatu teori itu membuahkan hasil yang menguntungkan. Jika hasilnya menguntungkan kita, maka teori itu "benar". Jika hasilnya merugikan, teori itu salah. Problimnya disini, perkataan "kita" itu sendiri tidak objektif. Berbeda dengan persepsi pancaindera yang SAMA bagi setiap manusia, apa yang menguntungkan buat satu pihak kadang2 atau seringkali justru merugikan buat orang lain.
Kita lihat disini, ketiga aliran filsafat Aufklaerung diatas (MDH, Positivisme Logis, dan Pragmatisme) sangat berdekatan satu sama lain, bahkan jalin-menjalin, hingga bisa di perdebatkan tidak ada habisnya. Sebab masing2 aliran filsafat modern itu melihat dunia luar hanya dari satu sisi saja. Apa yang menguntungkan dalam rangka Pragmatisme bisa di tafsirkan sebagai hukum perkembangan materi dalam persepektif MDH. Juga akibatnya, atau hasilnya, bisa di persepsi oleh pancaindera. Ini adalah inti dari perdebatan yang disebut2 dalam analisanya Prof. Wang, yang konon masih terus berlangsung dalam tubuh PKT (pimpinan PKT
seperti Xue Muqiao, Sun Yefang, and Chen Yun [2]). Jadi, inti perdebatannya sama sekali bukan antara memilih jalan "komunis" atau "kapitalis" seperti yang di-angan2kan oleh banyak orang yang naif, melainkan jauh lebih dalam daripada itu, karena menyangkut segi2 filosofis.
Tanpa memihak atau memilih salah satu, kedua filsafat mainstream dari Aufklaerung, yaitu MDH dan Pragmatisme, dua2nya memungkinkan perubahan daripada filsafatnya sendiri, selama masih dalam rangka dan landasannya masing2. Filsafat MDH memungkinkan perubahan demikian, justru karena perkembangan materi yang dialektik, hingga akibatnya filsafat ikut berubah sebagai fungsi dari materi. Dipihak lain Pragmatisme pun memungkinkan perubahan karena Pragmatisme tidak mengakui adanya kebenaran mutlak, melainkan percaya bahwa segala sesuatu (termasuk teori) yang benar adalah jika mendatangkan keuntungan bagi sipembicara/pemikir. Dalam hal ini kedua kekuatan yang bertentangan, yaitu Kapitalisme/Imperialisme dan Komunisme/Sosialisme, sudah sama2 berubah secara hakiki sejak berakhirnya Perang Vietnam, hingga sudah barang tentu filsafatnya ikut berubah. Ditinjau dari sudut Aufklaerung, terutama Dualisme nya Kant, kedua filsafat diatas (MDH dan Pragmatisme) tidak lain adalah kepercayaan (meskipun tidak tahayul dan primitif seperti Isfun dan Krisfun). Masing2 melihat dunia dari perspektifnya sendiri, seperti halnya orang melihat gelas yang sama tapi yang satu bilang setengah-kosong, yang lain bilang setengah-penuh. Hingga sudah sewajarnya jika kita secara adil wajib membiarkan orang merealisasikan kepercayaannya masing2, asalkan dibawah naungan Humanisme Universil yang akan memaksa mereka berdiri diatas landasan peri kemanusiaa.
Sekarang kita bahas apakah perubahan filsafat MDH dari PKT adalah berkat ajaran Confucius, Sementara Huaqiao, termasuk dari Indonesia, berkeras bilang bahwa perubahan polititk Tiongkok yang faktanya telah membawa kemajuan ekonomi yang pesat dewasa ini, tidak lain adalah berkat ajaran Confucius. Kesimpulan in salah-kaprah dan tidak lain merupakan hasil fantasi dan/atau prasangka yang dijangkau dari awang2 menuruti naluri serta nafsunya sendiri. PERTAMA, Confucius hidup lebih dari 2500 tahun yang lalu dalam masyarakat yang sangat feodal. Mana mungkin dia sanggup meramalkan kejadian dan/atau hubungan masyarakat internasional abad ke-21? KEDUA, alasan bahwa Confucius menganjurkan „jalan tengah" itu juga salah-kaprah: Teori Deng itu BUKAN mengambil jalan-tengah, melainkan justru memilih salah-satu dari dua pilihan ekstrim: (a) konsekwen anti imperialis (berkukuh bahwa kapitalis = „imperialis" hakekatnya tidak berubah, hal mana justru BERTENTANGAN dengan prinsip DIALEKTIK daripada filsafat MDH), atau (b) bekerja sama dengan kaum kapitalis, dibawah pengertian MDH bahwa imperialis seperti dijaman Mao sekarang sudah tidak ada, sebab sudah berubah (persinya sejak mengalami kekalahan dalam Perang Vietnam). Jadi, justru teorinya Deng ini malah sesuai dengan filsafat MDH sebagaimana diajarkan oleh Marx dan Lenin.
Supaya jelas, saya kutip disini dari artikelnya Prof. Wang (ref.[2]) perdebatan intern yang terjadi didalam Partai Komunis Tiongkok (CCP):
"Wang contended that China's intellectual debates provided the theoretical basis of Deng's pragmatic policies. For instance, according to Wang, such important CCP leaders as Xue Muqiao, Sun Yefang, and Chen Yun, established the theoretical parameters of the economic debates in the late 1970s that led to the "opening" of the Chinese economy, while Hu Qiaomu, Deng Xiaoping himself, and other leaders drew the boundaries of the political debates of the early 1980s."
Jadi, kemenangan Deng dkk tidak lain juga adalah kemenangan Partai Komunis Tiongkok, yang disini harus dilihat dalam perkembangan sejarahnya, persis menurut filsafat Materialisme Dialektis dan Histori. Pendapat bahwa disini yang menang adalah Confucianism, samasekali tidak punya landasan rasional, melainkan se-mata2 FANTASI nya orang2 yang buta filsafat dan tidak mampu berpikir logis (orang bilan, *logikanya tidak jalan*). Disini menjadi jelas dengan
sendirinya, bahwa kekeliruan demikian itu sumbernya tidak lain adalah ketidak-tahuan akan filsafat dunia secara umum. Memang, jika orang selama hidupnya uthak-uthek cuma membaca filsafat2 tradisionil Tiongkok dia tenggelam dalam dunianya sendiri yang sempit, hingga bisa
dimaklumi bahwa dia tidak akan tahu posisinya sendiri dalam perspektif dunia luar. Jika orang tenggelam dalamn suatu dunia yang tersendiri dan menyendiri, sudah barang tentu dia tidak mampu melihat kedudukan dirinya sendiri dalam perbandingan dengan orang lain (baca: dunia
luar). Atau dengan perkataan lain, mereka ini seperti katak-dibawah-tempurung. Bagaimana mungkin mereka akan mengerti apa itu MDH, apa itu ajaran Mao, apa itu ajaran Deng, dan bagaimana dialektika perubahannya menurut filsafat MDH.
Yang benra: Jalan tengah itu BUKAN (hanya) ajaran Confucius, melainkan GENERAL WISDOM yang dimaklumi oleh semua orang yang bisa berpikir. Memang benar, jalan tengah menghindarkan tindakan ekstrim, yang sekali waktu bisa berbahaya. Tapi kita juga maklum, dunia hanya bisa maju dengan jalan yang BUKAN jalan tengah (tidak perlu ekstrim). Tanpa
berani menanggung risiko, tidak bakal ada kemajuan. Sejarah dunia BUKAN dibikin oleh mereka yang menempuh jalan tengah, melainkan oleh mereka yang berani menempuh jalan ekstrim dan ternyata pilihannya itu BENAR. Sudah barang tentu mereka yang menempuh jalan yang keliru pasti akan hancur dilindas oleh roda sejarah, seperti misalnya mereka yang dulu terlanjur me-maki2 RRT waktu jaman Soeharto, hingga sekarang mesti gigit jari sebab RRT maju pesat sedangkan Soeharto dicampakkan oleh dunia kapitalis barat, yang atas dasar Pragmatisme memilih RRT sebagai partner mereka. Sedangkan mereka yang berani memilih jalan yang ekstrim, yaitu memihak Tiongkok atau Amerika, atau lebih baik lagi KE-DUA2NYA, yaitu memihak Tiongkak DAN Amerika, terbukti sekarang berhasil meraup dan menikmati keuntungan dari perkembangan dunia.
Sama seperti Deng yang memilih salah-satu jalan yang ekstrim, Mao Zedong dalam generasi yang lampau pun memilih sebuah jalan yang ekstrim, yang juga BENAR, hingga akhirnya MENANG. Tanpa Mao, tidak ada Tiongkok modern yang jaya dan makmur seperti hari ini.
Barangsiapa membantah, artinya dia mengingkari kenyataan dan menutupkan mata terhadap fakta, bahwa gambarnya Mao masih tetap terpancang ditembok Tiananmen Square sampai hari ini. Membantah hanya dengan kata2 (argumen verbal) tanpa fakta, tidak patut di layani disini, sebab hanya merupakan khayalannya sendiri saja. Sebuah bukti fakta lagi, bahwa RRT bukan mengambil jalan Confucius atau "jalan tengah": Taiwan mengaku dirinya sebagai promotor yang
gigih dari warisan Confucius sejak berdirinya Taiwan sampai hari ini. Lha koq tidak maju-maju? Faktanya, hanya dalam tempo 25 tahun saja, Taiwan sudah kalah jauh dari RRT. Padahal Taiwan dibantu secara besar2an oleh negara2 kapitalis barat, seperti halnya dengan Indonesia
(meskipun Taiwan agak lebih maju sedikit). Sebuah fakta tidak bisa dibantah atau di-ingkari secara verbal melulu (itu namanya debat-kusir dan cari gara2): Disini jelas bahwa Confucius tidak membawa kemajuan apa2. Jawaban yang benar: Bukan Confucius yang bikin maju, melainkan filsafat Aufklaerung. SEMUA negara2 yang sekarang maju dalam sejarahnya pernah/sudah mengalami Aufklaerung: Eropa barat, Amerika, Jepang, sekarang disusul oleh RRT.
Confucius tidak punya kontribusi samasekali, jika bukannya malah negatif, hingga perlu dikritik terus menuerus, supaya rakyat Tiongkok tidak terjerumus kembali kejaman lampau, dimana ajaran Confucius telah membuat orang Cina begitu impotennya dan pengecutnhya, sampai-sampai oleh tetamu asing dilarang masuk kedalam taman didalam rumahnya sendiri. Mereka yang dewasa ini berusaha menghidupkan kembali ajaran Confucius yang jelas2 impoten, ketinggalan jaman dan reaksioner/feodal itu, patut dinilai sebagai manusia2 berkwalitas sama seperti yang mereka dambakan, yaitu *anjing dan orang Cina dilarang masuk* (ditaman2 kota di Shanghai) menjelang perang Dunia ke-2.
Perkataan *Renaisans* yang dipopulerkan oleh orang2 seperti ini jelas adalah salah-kaprah, semata2 dilahirkan gara2 pengetahuan mereka yang picik dan sempit akan sejarah dan filsafat dunia. Tiongkok tidak pernah LUPA akan filsafat tradisionil, sebab catatannya lebih dari lengkap, jika malah bukannya menjadi beban yang menahan arus maju. Sampai2 DIALOG yang mendetail antara para pembesar dan pemimpin Tiongkok tercatat rapi dalam buku2 sejarah, hingga perkataan Renaisans yang artinya MENGGALI KEMBALI NILAI2 LAMA sama sekali salah-kaprah. Lain halnya dengan Renaisans di Eropa yang berhasil membawa rakyat Eropa keluar dari abad kegelapan yang lebih dari 1000 tahun lammanya. Saat itu para cendekiawan Eropa SAMA SEKALI kehilangan ingatan maupun SEGALA catatan tentang filsafat Yunani, hingga mereka harus belajar dari cendekiawan2 bangsa ARAB. Mereka yang tidak setuju dengan penilaian ini, saya himbau mengajukan bantahannya, asal rasional dan berlandasan fakta yang dibuktikan dengan referensi, sebagai bukti bahwa bantahannya BUKAN ISAPAN JEMPOLNYA sendiri.
Kembali pada pertanyaan semula, apakah maknanya gejala populernya Confucius dewasa ini? Jika kita pelajari baik2 segala macam berita beserta sumbernya, akan ternyata, bahwa yang ter-gila2 hanya para Overseas Chinese saja. Salah satu misalnya mengutip artikel Maureen
Fan di Washington Post. Perlu sekali diketahui, Maureen Fan tidak lain adalah seorang Overseas Chinese juga, bahkan seorang pengkhianat (dissident) dari peristiwa Tianamen *massacre* 1989 dulu, yang berhasil lari ke Amerika dan mendapat suaka politik berkat sokongan beberapa aktivis politik dari Partai Demokrat (perlu diketahui, Washington Post adalah juru bicaranya kaum Demokrat, demikian juga CNN, bertentangan dengan Fox News yang berhaluan Republican). Bahwa PKT dan pemerintah RRT sejak belakangan ini men-tolerir populernya kembali Confucius sebagai filsuf besar dari jaman lampau, justru adalah pertanda bahwa RRT didalam sudah merasa KUAT, bahwa arus balik tidak akan sampai membuat Tiongkok kembali terpuruk, sekal;ipun masih tetap perlu diwaspadai. Disini Confucius hanya dibutuhkan buat menarik simpati dan mempersatukan Huaqiao, sebab Confucianisme adalah satu2nya elemen yang DIWARISI BERSAMA. Para Huaqiao pada umumnya tidak mungkin diharapkan bisa memaklumi dan menyetujui politik pemerintah RRT yang tetap bediri diatas landasan ajaran Mao Zedong, terutama sebab para Huaqiao tidak secara langsung menikmati hasil kemajuan ekonomi, dan dalam sejarah tidak ikut menderita sebagai "anjing dan orang Cina" yang dilarang masuk kedalam taman didalam rumahnya sendiri oleh tetamu asing. Maka bisa dimengerti (tetapi tidak bisa dibenarkan) bahwa para Huaqiao mengidap ILUSI akan *kebesaran* Confucius, dan tidak menyadari kacamata dunia (barat). Perlu sekali diketahui, pada umunya dunia luar menganggap Confucius adalah LAMBANG dari KETERPURUKAN Tiongkok dan orang Cina di jaman yang lampau.
Sikap yang tepat dan dianjurkan oleh pemerintah RRT (maupun diharapkan oleh dunia (barat) yang bersimpati kepada Tiongkok) adalah, dengan berpijak diatas kemajuan yang gilang gemilang dalam segala bidang dewasa ini, rakyat Tiongkok dan seluruh etnis Cina didunia sepatutnya MELIHAT KEDEPAN dengan HATI yang BESAR dan LAPANG, mengulurkan tangan PERSAHABATAN KEPADA SEMUA BANGSA DIDUNIA serta dengan TEGAS MENGAKHIRI MASA LAMPAU. Bukannya MELIHAT KEBELAKANG dan/atau MENGINGAT2 KEMBALI, apalagi MENDAMBAKAN JAMAN LAMPAU secara Chauvinis, sampai2 bernada XENOPHOBIA (benci kepada orang asing), seperti yang tercermin dalam
beberapa artikel dalam milis ini. KITA LIHAT SAJA NANTI, APAKAH ORANG2 MACAM mereka ini MAMPU BERDEBAT SECARA INTELEK (artinya secara rasional dan berdasarkan fakta yang dibuktikan dengan refernsi) REFERENSI, tanpa menyalah-gunakan autoritas SWASTA bikinan sendiri yaitu dengan mem-BAN lawan bicara dan secara se-wenang2 serta membiarkan cuci-maki dilangsungkan secara sepihak.
Salam persahabatan,
Ir. Haoliong Njoo
REFERENSI:
[1] http://www.leomelamed.com/
White Cats, Black Cats By Leo Melamed
Keynote Address, China Seminar
Shanghai, September 26, 2005
Common Sense Innovations
The great Deng Xiaoping is regarded as the primary architect of modern China and its dramatic economic reform. The crux of Deng Xiaoping's philosophy was based on PRAGMATISM and embodied in his dictum to seek TRUTH from FACTS. The criteria for success, he believed, are
determined by common sense and flexibility rather than by ideology. He dramatized this philosophy by insisting, "No matter if it is a white cat or a black cat; as long as it can catch mice, it is a good cat."
[2] http://www.international.ucla.
Wang pointed out that since the late 1970s, when Deng Xiaoping rose to power, pragmatism gradually took hold of Chinese thought. Under Deng's pragmatism, debates about political ideology disappeared and an experimentalism emphasizing trial-and-error reforms emerged as the mainstream. Intellectuals came to accept that practice should come first. This was very different from the 1960s, when it was a conventional norm that unless you have revolutionary theory, you should not exercise revolutionary practice. Deng's "white cat, black cat" theory ("No matter if it's a white cat or a black cat; as long as it can catch mice, it's a good cat") epitomizes the sort of experimentalism and pragmatism that has gripped post-Mao China. Wang contended that China's intellectual debates provided the theoretical basis of Deng's pragmatic policies. For instance, according to Wang, such important CCP leaders as Xue Muqiao, Sun Yefang, and Chen Yun, established the theoretical parameters of the economic debates in the late 1970s that led to the "opening" of the Chinese economy, while Hu Qiaomu, Deng Xiaoping himself, and other
leaders drew the boundaries of the political debates of the early 1980s.
[3] http://www.kheper.net/topics/
Epistemological Dualism
The German philosopher Immanuel Kant came to the conclusion (contra Plato) that we can never really know the thing-in-itself (c.f. Hard Sceptism), which he called the Noumenon. All we can known is our consciousness or experience of this noumenon, the phenomenon. This idea was taken up more recently by C. G. Jung (Depth Psychology), who said that we cannot know anything, whether subjective or objective, beyond our own psyche or consciousness. An alternative position, that of Phenomenology (e.g. the German Husserl) denied the existence of
noumena and simply concentrated on the phenomena.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar